FeishSya

FeishSya
bagian 10



Tapi itu sudah membuat Arisha paham, Akhirnya ia tahu kenapa Felisha seperti ini. setiap mimpinya membawa kenangan, juga rasa sakit. Tali kali ini mimpi itu tidak hanya hadir sebagai serpihan, namun kehadirannya datang membawa semua kejadian 7 bulan lalu, kala itu.


Lengkap.


Tidak ada yang lebih sakit ketika melihat langsung peristiwa itu, orang tersayang ... di depan mata ....


potongan demi potongan selalu datang, silih berganti. Membuat satu kelengkapan pada akhirnya, dan sekarang, itu terjadi pada diri Felisha.


Ingin berdamai dengan takdir, tapi mimpi selalu mengikat.


Bebrapa jam berlalu


Matahari telah muncul di ufuk timur, memberi kehangatan tiada tara.


Wajah berseri terpahat indah pada diri santriwati yang berjalan menuju kelas masing-masing.


Tadi malam Arisha tidur di samping Felisha, hingga shubuh hadir.


Muka tenang Felisha membuat Arisha tak rela untuk membangunkan, terlebih saat mengingat malam tadi.


Tapi kewajiban tetaplah kewajiban, dia membangunkan Felisha, tapi tidak menyuruhnya untuk ke mushallah. Arisha berkata kepada Felisha jika ia akan mengizinkannya agar tidak usah datang ke mushallah, cukup diasrama saja.


Feilsha mengangguk, setelah itu Arisha melanjutkan kegiatannya, bersiap-siap untuk sholat. Kemudian dilanjutkan dengan pengajian, dan juga sholat duha.


Setelah kembali ke asrama, Arisha tidak melihat keberadaan Felisha, tapi dia berpikir tenang, mungkin saja Felisha berada di kamar mandi. Akhirnya Arisha dengan santai melangkah ke sekolah.


Namun, sampai kelas terisi penuh Felisha belum hadir. "Nggak mungkinkan Felisha pingsan dikamar mandi? Tapi itu bisa terjadi. Atau dia lanjutin nangis dikamar mandi? Atau lanjutin tidur? Bisa juga dia demam," batin Arisha.


Di tengah pemikiran Arisha, seseorang langsung berlari di ujung sana. Ia mempercepat larinya.


Suara sepatu menyatu dengan lantai terdengar, tiba-tiba pintu terbuka dengan keras, tampaklah Nesya, orang yang tadi berlari.


Dia menunjuk Arisha, memanggilnya dengan isyarat tangan. "Sha! Fei!!" tidak ada yang tau maksud Nesya, "Hilang."


Arisha kaget, tubuhnya langsung menegang. Ia melihat wajah Nesya, seksama. Tidak ada kebohongan disana, dan Nesya memang tidak pernah bohong, apalagi masalah seperti ini, Nesya nggak mungkin nge-prank.


Arisha langsung berlari ke asrama, tak peduli dengan waktu pelajaran pertama tinggal 7 menit lagi, pikirannya kini dipenuhi oleh Felisha.


Sesampainya di kamar, Arisha menemukan tulisan Felisha.


"Maaf, aku mau pergi sama kakak."


"Apa maksudnya?" tanya Nesya yang berada di belakang Arisha.


Arisha celingukan, ia meremas tulisan yang Felisah tinggalkan. Ia kemudian bercerita tentang kejadian semalam.


Tapi sebelum itu, Arisha menarik tangan Nesya, membawanya keluar mencari Felisha.


Keduanya bolos, tidak mengikuti jam pelajaran, juga tidak meminta izin keluar pondok.


Arisha ingin memastikan terlebih dahulu sebelum melapor kepada ustadz dan ustadzah. Tapi caranya juga salah karna keluar tanpa melapor, ia yakin setelah ini, mereka pasti akan dihukum.


Sedangkan ucapan Nesya tadi di daun pintu kelas, entah ditanggapi oleh temannya yang lain atau tidak.


"Semoga yang lain tidak menanggapi ucapanmu."


Nesya bingung, "Lah, kok gitu?"


"Kalau ucapanmu yang tadi di respon, otomatis semuanya akan gempar," jelas Arisha.


Nesya mengangguk, paham.


Tidak jauh dari pondok pesantren, keduanya telah menemukan Felisha.


Tapi tunggu! "Apa yang Fei lakukan!" pekik Arisha.


Terlihat disana Feilsha sedang duduk dipinggir trotoar, ia tersenyum ketengah jalan.


Felisha lantas bangkit, ia menepuk-nepuk rok yang ia kenakan. Ketika tidak jauh dari Feilsha, sebuah motor hitam melaju.


Felisha berjalan ke tengah jalan, masih dengan senyum hangat.


Dan ... Bruk.


Dua orang berguling, kejadian itu sungguh sangat cepat. Semua warga yang mendengar dan melihat kejadian itu langsung menyusul ketempat dua orang yang tergeletak.


Sebagian dari mereka langsung memberhentikan beberapa kendaraan yang masih ingin melaju.


Para warga membentuk lingkaran mengelilingi kedua orang yang tertabrak.


Flashback off


Setelah mengingat ulang kejadian itu, tanpa sadar satu cairan bening meluncur. Felisha mengapusnya.


Ia lantas memperbaiki letak kacamata hitam miliknya.


Arisha tersenyum melihat sahabatnya yang sepertinya telah berdamai dengan takdir.


Kayaknya satu tujuan, sudah akan selesai, tinggal beberapa lagi.


Rintik hujan mulai turun, ketiganya langsung bergegas kembali ke pondok.


Di tengah perjalanan, Arisha bertanya, "Kira-kira, kita bakal sampai di pondok sebelum hujan deras turun atau nggak?" Langkah mereka semakin cepat untuk menghindari hujan yang akan turun lebih banyak, sebentar lagi.


"Tergantung," balas Nesya. Matanya fokus menatap kedepan.


"Kita lari aja, gimana?" usul Felisha. Arisha langsung menegang.


"Nggak usah lari, kita bakal capek. Apalagi bawa barang kayak gini." Sambil mengankat tangannya memlerlihatkan apa yang ia bawa, "lagi pula, aku nggak bisa lari terlalu kencang, aku cepat lelah."


"Loh, kukira lari kamu cepat?" tanya Nesya bingung.


Arisha sedikit berpikir, ia juga bingung mau jawab apa. "Mmm, itu dulu. Sekarang kalau lari-larian terus cepat capek. Detak jantungku nggak stabil."


Felisha mengangguk. Begitupun Nesya, namun ada sedikit keraguan disana.


Arisha langsung merutuki jawabannya sendiri. Entah apa yang dipikirkannya hingga menyebut tentang detak jantungnya. "Mudah-mudahan Nesya dan Felisha nggak terlalu memikirkan ucapanku," Batin Arisha.


Tidak lama kemudian mereka sampai, untung saja guyuran hujan yang turun dari langit masih sedikit.


"Nesya, kamu mau ikut gue sama Arisha ke aula sekarang atau nanti?" Felisha menjulurkan tangannya, meminta kue-kue yang dipegang oleh Nesya.


Nesya memberikannya. "Kalian duluan aja. Nanti aku nyusul bareng yang lain. Kalian kan harus cepat datangnya."


Arisha melihat jam tangan yang melilit di pergelangannya. "Semuanya sudah berkumpul 5 menit sebelum acara dimulai, dan 7 menit lagi acara akan dimulai. Kamu benaran nggak mau langsung kesana sekarang?" Arisha mengalihkan pandangannya ke Nesya.


"Iya. Lagian masih ada 2 menit kan. Aku mau ke mushallah terlebih dulu. Tadi Al-qur'an-ku kutinggal disana."


"Yaudah, kita duluan yaa Sya." Felisha menarik Arisha untuk segera ke aula.


⚛⚛️⚛️


Nesya merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Tapi siapa?


Tak ingin memperdulikan instingnya, Nesya tetap melangkah ke tujuan.


Sesampainya di mushallah, Ia pun bergegas mengambil Al-qur'an miliknya. Dan segera keluar menuju aula.


Tiba-tiba, sebuah pesawat kertas mendarat tepat di depannya. Nesya sempat bingung, kemudian ia mengambilnya.


Tampak di bagian sayap kiri pesawat mainan itu, tertulis namanya dengan tulisan yang cantik, -untuk Nesya Lituhayu-


Dengan ragu-ragu Nesya membongkar pesawat itu, hingga menjadi bentuk semula.


Iris matanya menatap lekat kertas itu.


Detik kemudian, senyum indah terukir diwajah Nesya usai membaca isi kertas itu. Apalagi dibagian akhir samping kiri, tertulis nama seseorang yang telah mengirimnya. Membuat senyumnya semakin mengembang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=