FeishSya

FeishSya
bagian 2



Tidak lama kemudian suara salam terdengar. "Assalamualaikum." sontak membuat para penghuni kamar yang tengah melakukan berbagai aktivitas, berhenti.


"Waalaikumsalam," jawab para penghuni kamar.


"Nesya ... Aku kangen tau nggak. Apalagi yang satu ini, hampir setiap waktu dia nyariin kamu," jelas Felisha, sambil menunjuk Arisha yang sudah menunggu sejak tadi, bahkan senyumnya pun semakin merekah. Felisha ngeri sendiri melihatnya, sahabatnya yang satu itu, otaknya lagi geser mungkin, jadinya kayak gitu.


Nesya berjalan masuk kemudian memeluk Felisha dan Arisha, bergantian.


"Aku juga rindu sama kalian, hiks ... hiks." Nesya menangis dalam dekapan Arisha, ia tidak tahu mau bicara apa  yang bisa dia lakukan hanya menangis.


Arisha terdiam, senyum yang sudah ia persiapkan sejak pagi mendadak luntur karna tangisan Nesya, niat ingin memberi kebahagiaan, malah turut larut dalam kesedihan.


Mata Arisha terasa panas, ia menggigit bibirnya berusaha untuk tegar, agar sahabatnya ikut tegar mengahadapi kenyataan ini. Tapi, apalah daya, air mata yang telah ia bendung dipelupuk, kini tumpah.


Arisha masih mencoba untuk tidak menangis, ia melihat keatas, berharap itu akan menghentikan laju air yang keluar, tanpa suara. Walau dadanya bergemuruh hebat, Arisha tidak tahu, apa Nesya merasakan sesak di dadanya, tapi yang pasti pelukannya pada Nesya semakin erat.


Itulah sahabat, selalu bersama dalam duka maupun suka. Berjalan bersama meski harus tertatih, dan berlari bersama kala senang datang.


Meski tak sedarah, sahabat sesungguhnya, akan selalu berada disamping untuk selalu menguatkan, mendorong lebih, memberi rasa kekeluargaan.


Tanpa pernah diminta, sahabat akan selalu memberi rasa lengkap pada diri kita.


Felisha yang sedari tadi hanya terdiam menyaksikan kedua sahabatnya, tidak bisa berbuat apa-apa. Hatinya juga sakit, bukan hanya Arisha yang merasa sakit ketika salah satu dari mereka bersedih, Felisha juga merasakannya, dia tahu rasa ditinggal oleh orang yang kita sayang.


Felisha menggenggam tangan Arisha, memberinya sedikit kekuatan.


Arisha yang merasakan tangannya tiba-tiba digenggam oleh Felisha, seperti mendapatkan kekutan lain, untuk tetap tegar.


Lain halnya dengan mereka berdua, Nesya hanya terus menangis. Dia tidak tahu apa yang dilakukan para sahabatnya yang pasti, ia sekarang hanya ingin bahu untuk bersandar.


▪▫️◼️*◼️▫️▪


Setelah acara tangis tadi Nesya sudah kembali bahagia. Yaa, walaupun masih sulit untuk melepas, tapi dia harus menerima takdir Allah. Setidaknya ia masih mempunyai dua sahabat yang selalu ada untuknya.


"Jadi kamu beneran nggak apa-apa kan Sha?" tanya Nesya lagi. Dia masih khawatir, mengingat 11 hari lalu saat Arisha tiba-tiba pingsan dan dibawa pulang kerumah sakit, langsung! Oleh mamahnya. maklum sang mamah adalah seorang dokter, jadi apapun yang terjadi pada keluarganya harus ditangani dengan cepat.


"Iya, aku nggak apa-apa kok. Jangan tanya itu mulu ah, lebih baik bahas tentang lomba tilawahmu, persiapanmu sudah sampai mana? Kalau aku udah hafal pada bab Amma, Laula, dan Lauma di kitab alfiyah ibnu malik." Arisha membanting stir pembicaraan segera mungkin, agar tidak terus maju membahas dirinya. bisa saja kan, dengan terus membahas dirinya dia bisa keceplosan.


Dengan mencari pembahasan akan MTQ yang diikuti oleh Nesya, dan MQK yang ia ikuti.


"Tega benar sih lo Sha, langsung banting pembicaraan kelomba, mentang-mentang diatantara kita bertiga cuma gue yang nggak ikut lomba," ujar Felisha, seraya melipat tangannya didada.


"Cih ngambek," goda Arisha, lalu menoel dagu Felisha.


"Jangan toel-toel dagu gue. Gue bukan Aleeya dengan pipi tembemnya yang udah mau tumpah," terang Felisha. Kemudian berjalan sedikit menjauh dari kedua sahabatnya, jika tidak maka Arisha akan semakin gencar menoel dagu cantik Felisha.


Arisha mengulum senyum, dia sangat suka membuat sahabatnya yang satu ini kesal, karna itu sangat lucu baginya, ketika melihat ekspresi ngambek Felisha.


Dia berjalan mendekati Felisha kemudian kemudian membisikkan sesuatu. "Emang yang anggap dagu kamu kayak pipi Aleeya siapa? Aku kan cuma noel dagu kamu, nggak ada tuh bilang dagu kamu mirip pipinya Aleeya." Felisha yang tidak tau bahwa sahabatnya yang sering mengganggu sudah ada di belakang, dan berbisik di samping telinganya, langsung terlonjat kaget.


Tanpa aba-aba Arisha sudah berada dihadapan Felisha dengan tampang tidak bersalah sedikitpun. Bahkan Arisha menaik turunkan alisnya, kemudian memberi ekspresi mengejek.


Sedangkan Nesya saat ini, hanya geleng-geleng kepala, "Aleeya anaknya ustadz Ilham kok juga dilibatkan dalam pertikaian mereka," batinnya. Ketika masih bisa mendengar bisikan Arisha, yang memang tidak terlalu jauh darinya.


"Ihh kamu ini maunya apa sih Sha, tadi banting pembicaraan kelomba sekarang bahas pipinya Aleeya, pakai bisik segala lagi. Kayak setan tau, bisik-bisik. " Felisha tidak terima dengan ejekan gadis dihadapannya itu. Dia memanyunkan bibirnya. Tidak lupa dengan tambahan 'kayak setan,' berharap Arisha yang akan kesal.


Baik Nesya maupun Arisha ingin sekali tertawa lepas melihat Felisha menunjukkan ekspresi seperti itu, tapi keduanya menahan untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Kyai hasan selalu menegaskan untuk 'tidak tertawa terbahak-bahak atau tertawa dengan keras, karena itu dapat menggelapkan hati atau membuat hati keras untuk melakukan suatu ibadah.'


Apalagi ketika Felisha menyebut dirinya kayak setan, ingin sekali rasanya mengumpat, tapi ingat dengan ayat pertama surah Al-humazah, akhirnya nggak jadi.


"Kan kamu yang mulai sebut-sebut Aleeya dan juga suka-suka aku dong mau bicara ini kek, mau itu kek, kan itu terse ...." ucapan Arisha terpotong.


"Gue bukan kakek lo, jangan panggil kek." Dengan wajah yang masih setia dengan bibir manyunya.


"Ihh Felisha, aku nggak bilang kakek, " ucap Arisha sebal.


Ketika melihat Arisha kesal seperti sekarang, maka saatnya Felisha yang akan tersenyum puas. Harapannya terwujud!


Felisha menahan senyumnya dengan tetap memasang raut cemberut, padahal dia ingin sekali tertawa karna telah memotong ucapan Arisha dan bilang seperti itu.


"Mau-mau gue dong, kan itu terserah mulut gue mau bilang apa." Felisha menegaskan kalimat akhir, dan membalikkan ucapan yang tadi ingin diucapkan Arisha.


Membuat Arisha melongo, perkataan yang seharusnya dia ucapkan tadi kepada Felisha kini berbalik padanya.


Sekarang gantian Felisha yang ingin tertawa sedangkan Arisha cemberut. Memang kalimat 'Roda berputar nggak selamanya lo diatas, ada saatnya lo dibawah' itu memang benar adanya karna sekarang Felisha lah yang sedang mengulum senyum dengan tingkah cemberut Arisha.


Ajal


Tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput.


Yang kita tahu adalah berbuat sebaik-baiknya untuk bekal akhirat sebelum malaikat datang mencabut nyawa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=