FeishSya

FeishSya
prolog



"Arisha!! Kalau papah bilang nggak bisa, yah nggak bisa," emosi Alhanan sudah berada dipuncaknya, ia tidak bisa tahan jika anaknya masih ngotot ingin kembali kepondok.


Suara gemuruh hujan, seakan terkalah kan dengan bentakan Alhanan. diluar sedang turun hujan, sesekali terdengar suara keras seakan ingin membelah bumi.


Arisha semakin menangis, Alhanan tidak pernah membentak dirinya, kecuali ia melakukan kesalahan yang sangat berat, itupun bisa terhitung 3 kali selama hidupnya.


Matanya sembab oleh derai air mata yang kunjung habis. hatinya juga sakit


'Apakah salah kalau ia ingin kembali kepondok? Walaupun hanya mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya?' pikir Arisha.


Dingin kembali menyelimuti, Alhanan  merutuki dirinya sendiri karena membentak sang anak dengan begitu keras. Tapi ini semua demi kebaikannya.


"Pah, aku mohon, hiks ... hiks ... izinin aku tinggal dipondok sebentar ... aja," mohon Arisha kepada papahnya dengan bibir bergetar dan suara tangis yang tak henti-hentinya keluar. "Hiks ... hiks ... aku janji, bakal turutin semua maunya papah. Asalkan hiks ... turutin syarat aku dulu."


Arisha menangkupkan kedua tangannya dihadapan Alhanan.


Alhanan mengusap wajahnya, kasar. Dari tadi anaknya tidak berhenti memohon dan menangis. Ini membuat Alhanan tidak bisa berbuat apa-apa, ia takut anaknya bertambah parah karena hal ini. "Oke, papah akan ngizinin kamu, tapi kamu harus pegang janji kamu. Papah nggak mau sesuatu terjadi sama kamu," putusnya.


Tak bisa dipungkiri, Arisha sangat senang dengan apa yang ia dengar, papahnya memberikan izin. Ini bagaikan cahaya yang datang ditengah kegelapan. Dalam ketakutan akan sesuatu di masa yang kan datang, sebuah izin yang sudah susah payah ia dapatkan menjadi kekuatan tersendiri untuknya.


▪▫️️⬜️❇️⬜️️▫️▪


Di ruangan bernuansa abu-abu hitam, dua pasangan sedang berdebat.


"Mas! Nggak bisa gitu dong!" protes Amira saat suaminya selesai menceritakan kejadian dikamar Arisha.


"Amira ini udah keputusan mas!" Alhanan memegang kedua bahu istirinya, meyakinkan bahwa itu adalah yang terbaik. Wajahnya tampak teduh. Sulit memang mengambil keputusan yang berat.


"Tapi mas ini tuh nggak seperti yang kamu kira, kalau Arisha ...." Belum selesai Amira berucap, Alhanan telah menempelkan jari dimulutnya. Membuat Amira bungkam.


"Mas tahu!, tapi Arisha yang minta. Kamu nggak lihat tadi, dia memohon dari jam 20.00 sampai 21.18, itu udah hampir satu jam setengah loh. Kalau mas nggak ngizinin, dia pasti bakal nangis terus. bahkan bisa membuatnya nyesal seumur hidup ..., dan akan berpikir, mengapa dirinya tidak bisa kembali walaupun hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Arisha udah kelas 2 aliyah disana, yang berarti empat tahun lebih, pasti banyak kenangan yang bakal sulit dilupakan, biarkan dia selesaiin apa yang perlu bagi dia ...," jelas Alhanan, seraya memeluk Amira. Memberi ketenangan.


Dalam dekapan suaminya Amira masih tidak bisa menerimanya. "Mas ... Jawab dulu kenapa Arisha kasih syarat kayak gitu?" tanyanya.


"Karna Arisha wakili pondoknya dalam Musabaqah Qira'atil Kutub, dia mau selesaiin apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya sekaligus menjadi penentuan," ujar Alhanan, dan itu sudah membuat Amira mengerti kenapa anaknya memberi syarat.


____________________________________________