
Aku mencintaimu dalam diam.
Dalam bait-bait daoku, kusematkan namamu
Dalam relung hatiku, ada namamu yang terukir disitu.
Aku mencintaimu dalam diam, tapi aku takut lebih mencintaimu dari Sang pemilik rasa.
Aku takut terlalu berharap padamu, hingga aku diberi pedihnya sebuah pengharapan.
___________________________________________
Hari ini adalah pembukaan lomba antar seluruh kelas. Dan seluruh pengurus sibuk mempersiapkan segalanya.
Nesya dan Arisha juga pengurus, tapi mereka diizinkan untuk tidak menjadi panitia dalam acara muharram kali ini. Mengingat, mereka akan mengikuti lomba 2 bulan lagi.
Tapi bukan Arisha namanya, jika melewatkan acara seperti ini, dia tetap keukeuh ingin menjadi panitia lomba, dan alhasil dia diizinkan. Toh, dia memang sangat bisa diandalkan untuk masalah seperti ini.
Jam 10.00 pembukaan acara lomba akan dimulai, kemudian dilanjutkan dengan lomba qasidah khusus santri putri dan hadrah khusus santri putra.
Maka dari itu, jam 09.45 semuanya sudah siap. Para panitia lomba tengah sibuk berlalu lalang, memperhatikan segala yang diperlukan dalam setiap acara nanti.
Kemarin malam, Dalam sebuah keputusan yang dipimpin oleh kepala madrasah aliyah, disepakati bahwa lomba akan berlangsung selama 7 hari, dan masing-masing madrasah yang ada di pondok pesantren ini diperkenankan untuk meliburkan para muridnya agar dapat berpartisipasi pada acara muharram kali ini.
Oleh karna itu, para panitia harus gesit dalam hal ini, karna mereka baru mempersiapkan segalanya tadi.
Sebelum acara dimulai, para pengurus sudah sepakat jika panitia santri putra bertugas dalam hal mempersiapakan barang-barang seperti meja, kursi, sapanduk, dekorasi dan hal-hal yang menyangkut tugas yang berat.
Sementara panitia santri putri bertugas membersihakan tempat acara, juga menyiapkan makanan, minuman dan segala hal kecil yang diperlukan.
Alfarizi Zahrani--santri putra yang kerap dipanggil Alfaris datang membawa spanduk untuk acara nanti.
Saat itu Arisha sedang merapikan tirai pengahalang antara santri putri dan santri putra.
Tiba-tiba Alfaris lewat dihadapannya,
Dia mematung, badannya terasa kaku untuk digerakkan. Entah mengapa setiap kali melihat santri putra itu jantungnya berdebar, bukan berdebar disertai nyeri, tapi berdebar seakan ada rasa yang sulit diartikan.
Tidak ada yang tahu jika Arisha menyukai Alfaris, kecuali Allah dan dirinya, karna bagi setiap santri putri, Arisha adalah orang yang tidak suka dengan pembicaraan yang menurutnya buang-buang waktu.
'Untuk apa memikirkan seseorang yang belum tentu jodoh kita, lebih baik kembali belajar dan memperbaiki akhlak. Sebab jodoh adalah cerminan diri'. Itulah tanggapan Arisha ketika ditanya tentang orang yang ia sukai.
Lain di tempat Alfaris berdiri dia celingukan mencari-cari sesuatu. Tak kunjung mendapat apa yang dirinya inginkan, ia kemudian bertanya pada salah satu teman yang duduk istirahat sambil mengipasi dirinya akibat mengangkat meja dan kursi yang tidak ada habisnya. "Zidan, gunting dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk memasang spanduk dimana?"
Zidan yang masih capek hanya menggeleng, dia juga tidak tahu.
"Yang siapin perlengkapan kayak gitu kan santri putri, coba ente tanya. Siapa tau mereka lupa beli atau naruh barangnya di suatu tempat," celutuk Adrian yang duduk di samping Zidan.
"Ooo, kalau gitu saya tanya santri putri dulu, afwan kak," kata Alfaris kepada kakak kelasnya. *(afwan, mempunyai dua arti, yakni : maaf / terima kasih)
Setelah mengatakan yang demikian, Alfaris memutuskan untuk menghamipiri seseorang yang tidak jauh dari tempatnya.
"Maaf Arisha, saya bisa minta tolong?" tanya Alfaris.
Arisha yang masih merapikan tirai, langsung mendongakkan kepala. Ia terperanjat, baru saja jantungnya berhenti berdebar, kini kembali lagi. Alfaris berdiri dihadapannya dalam jarak 1 meter lebih.
Kembali, ia seperti manahan napas akibat udara yang seakan menipis di dedakatnya. Jangan tanya kabar Arisha saat ini, rasanya dia mau terbang. Alfaris tidak pernah berbicara padanya, Tapi sekarang!!
Dan apa tadi, dia mengetahui namanya? Tidak disangka bagi Arisha jika namanya diketahui oleh orang yang telah lama ia sebut dalam doanya.
Arisha dihadapan asatidz memang sangat sopan dan beraklak mulia, dia lebih mengedepankan adab dari pada ilmu.
الأدب قبل العلم
adab sebelum ilmu.
Lebih baik berakhlak dengan sedikit ilmu darpada berilmu tapi kurang berakhlak.
Lebih baik lagi ketika memiliki keduanya.
Namun hanya satu kekurangan Arisha yang membuat pandangan teman-teman akan akhlaknya hilang, dia sangat suka mengganggu Felisha.
Ia juga tidak tahu mengapa, tapi sehari tidak mengganggu Felisha seakan ada yang kurang baginya.
Arisha pun membalas ucapan Alfaris,
"Iya."
"Saya butuh gunting, tali, dan perekat untuk memasang spanduk, tapi saya tidak melihat alat-alat itu," ucap Alfaris pada Arisha, yang memang santri putrilah yang bertugas mempersiapkan hal kecil seperti itu.
"Mmm gunting, tali, dan perekatnya nggak ada?"
"Emangnya ada?" tanya Alfaris, balik.
"Tadi sudah disiapkan sama Nalisya," ujar Arisha sambil memandangi seluruh aula, mencari barang yang disebutkan Alfaris tadi, "kayaknya disana." Seraya menunjuk satu kantong yang tersimpan rapi di meja para ustadz dan ustadzah yang akan ditempati nantinya.
"Ooo itu, maaf saya nggak tau."
"Iya nggak apa-apa, kalo gitu saya permisi, mau urus yang lain." Sungguh ini hanya alibinya saja, tapi jika tidak segera kabur dari sana ia takut jantungnya keluar, karna sedari tadi jantungnya sudah berdegup kencang.
Alfaris hanya mengangguk dan itu langsung membuat Arisha pergi.
Arisha masuk kedalam kamarnya, ia bernapas lega dan rasanya haus sudah bicara dengan Alfaris padahal mereka tidak bicara panjang lebar, hanya berbicara seperlunya saja.
"Ya Allah, rasa yang kau beri sungguh indah. Tapi dia bukan siapa-siapaku, aku takut berharap lebih padanya sampai aku lupa pada-Mu, hingga engkau beri rasa sakit sebuah pengharapan." batin Arisha.
Membatin kepada Allah adalah hal yang paling indah, menurutnya.
Lain halnya dengan Arisha yang ikut andil dalam acara, Nesya justru fokus dalam muroja'ah nya.
"Nesya pasti ada di Mushallah santri putri, aku samperin aah," Arisha membatin kemudian melenggang pergi. Tak lupa meminta izin kepada kakak kelasnya.
Sesampainya di Mushallah, ia melihat Nesya sedang khusyuk mengulang kalamullah 'kalam Allah', Arisha pun berniat untuk membantunya, dengan cara melihatkan bacaannya.
"Assalamualaikum."
Nesya berhenti ketika mendengar ucapan salam dari seseorang. "Waalaikumsalam, eh Arisha, ada apa? Bukannya kamu lagi sibuk buat persiapan acara nanti."
"Nggak ada apa-apa kok, cuma mau aja kesini sekaligus liatin kamu muroja'ah, dan juga aku udah izin kok sama kakel buat kesini." ujar Arisha. *(kakel \= kakak kelas, singkatan)
"Ooo gitu." Nesya mengangguk-ngangguk.
"Yaudah sini, Al-qur'annya aku liatin." Arisha mengulurkan tangannya di hadapan Nesya.
Dengan senang hati, Nesya memberi Al-qur'an di tangannya kepada Arisha. Diapun mulai menghafalkannya.
▪◽️◼️⬜️*⬜️◼️◽️▪