
Perihal tentang sahabat
Menjaga kesetiaan dalam kepercayaan, menahan ego yang menenggelamkan, berdiri bersama menatap masa depan.
Tertawa bersama dalam kebahagiaan, merangkul bersama dalam kegagalan.
Dan sahabat ... sebenarnya adalah dirimu yang menjelma menjadi orang lain.
Nesya Lituhayu
___________________________________________
Kini Nesya dan Arisha berada dibagian paling atas asrama atau bagian tempat jemuran. Angin mengibarkan jilbab keduanya.
Pada tempat yang sama, diwaktu dan hari yang berbeda, Nesya ingin menuntut penjelasan.
Dari tadi, otaknya selalu memikirkan kejadian malam itu, dia tidak bisa konsen pada setiap pelajaran. Beruntung—saat jam pelajaran ustadzah Inna, waktu habis dan dia akan menghafal pada pertemuan selanjutnya, jika waktu itu dia disuruh naik, ia yakin 100%, hafalannya akan kabur kesana-sini.
Berbeda dengan Nesya yang beruntung, Arisha malah dihukum karna selalu salah di bab ke 7.
Ustadzah Inna sampai geleng-geleng melihat Arisha yang baru kali ini tidak hafal dengan lancar, padahal kitab itu yang akan dia lombakan nantinya. Sungguh terlalu.
"Sha ...," panggil Nesya. Arisha hanya membalas dengan deheman saja, matanya fokus mengarah ke jalanan. Banyak kendaraan yang berlalu lalang di sore hari ini.
"Sha!" Nesya kembali memanggil dengan menaikkan sedikit tinggi suaranya. Gadis itu ingin dirinya diperhatikan saat bicara, tapi kenapa hanya jalanan yang Arisha perhatikan. Bukan dirinya?
Kali ini Arisha tidak menanggapi panggilan Nesya, dia seakan tersihir oleh pemandangan seorang anak kecil yang membantu nenek-nenek tua menyebrang jalan dari atas sini, badannya yang kecil membuat anak itu sedikit kualahan membantu, tapi anak itu tetap gigih.
Nesya mengikuti arah pandang Arisha, yang membuat ucapannya tidak diperdulikan. Ternyata seorang anak kecil dan nenek tua. Keduanya telah berhasil menyebrang kemudian sang nenek berterimakasih kepada anak itu dan pergi.
Karena merasa ini adalah waktu yang pas, Nesya kembali memanggil Arisha, dan benar saja, panggilannya ditanggapi, tapi itu tetap tidak membuat lawan bicara menatap dirinya. Namun ia yakin Arisha pasti mendengar ucapannya. "Sha! kamu harus jujur, tadi malam kamu kenapa?" tanya Nesya.
Semilir angin kembali mengibarkan jilbab mereka, Arisha sedikit menahan jilbab birunya yang hampir membuat jilbab itu terangkat sempurna, ke atas. Ia kemudian menatap Nesya, hendak menjawab pertanyaan sahabatnya itu. "Nggak ada apa-apa, aku benar cuma lambat makan kemarin malam, jadi perutnya sakit. Terus aku jongkok deh." Balasan Arisha sungguh hanya alibi, tidak mungkin kan dia jujur dengan keadaan Nesya yang bisa dibilang masih dalam suasana berkabung.
Arisha kembali mengalihkan pandangannya cepat. Bisa saja Nesya menemukan kebohongan dimatanya. Kali ini, ia memandang yang lain, bukan jalanan lagi.
Nesya melihat Arisha seperti tidak mau kontak mata dengannya. Sebab setelah membalas ucapannya, Arisha langsung mencari objek lain untuk dilihat.
"Arisha ... kamu tahu? Sahabat itu menjaga Kesetiaann dalam kepercayaan!! Aku memilih mempercayaimu karna kamu adalah sahabatku!" ujar Nesya.
Sepasang mata yang tengah asyik memandangi indahnya senja dari atas sana, langsung terbelalak! Yang dikatakan Nesya adalah sebuah pernyataan? Atau sindiran?
Tapi Arisha berpikir positif, itu tadi pasti hanyalah pernyataan! Yah, pernyataan yang langsung menyayat hati, sampai kebagian yang paling dalam.
Pernyataan Nesya masuk telak dihati Arisha, itu seperti sebuah ancaman baginya. 'Jujur saja daripada menunggu kebenaran terungkap dan itu sangat menyakitkan bagi orang yang memilih mempercayaimu.' itulah maksud yang diartikan Arisha dalam otak cepatnya.
Ucapan Arisha juga seperti teka-teki, sulit untuk dipahami. Nesya yang notabenenya udah pintar dari sono, tidak mau langsung mengambil kesimpulan, ia takut su'udzon terhadap sahabatnya sendiri.
Mereka sama-sama terdiam. Hening. Hanya suara kendaraan dari bawah sana yang terdengar, serta kibasan pakaian yang terjemur, terkena angin.
"Yaudah kalau nggak ada lagi yang mau di omongin, aku kebawah, mau siap-siap sholat maghrib." Arisha membuka kecanggungan diantara keduanya yang sempat tercipta karena perkataan masing-masing pihak. Setelah mendapatkan persetujuan dari yang bersangkutan, Arisha melenggang pergi dengan sedikit berlari-lari kecil.
Melihat Arisha yang seperti itu, membuat lengkungan sabit tercipta di bibir Nesya.
Saat seluruh tubuh Arisha menghilang dibalik pintu, ia menghembuskan nafas, lalu senyum itupun luntur.
Sorot matanya tampak teduh, ia menghela nafas lagi. "Mudah-mudahan kamu tidak mengecewakan kepercayaanku Arisha. Aku hanya tidak ingin kamu menyembunyikan sesuatu dariku dan Fei. Kita udah bersahabat cukup lama, kita selalu bersama, dan berbagi setiap hal. kita bagaikan satu," batin Nesya.
"Aku nggak mau, hanya diriku dan Fei yang selalu membuatmu ikut andil, sedangkan kami, tak pernah sekalipun ikut andil terhadap dirimu. Entah itu hidupmu yang memang baik-baik saja, atau caramu menyembunyikan yang terlalu hebat? Hingga kami saja, sulit untuk membantumu, seperti kau yang membantu kami .... "
▪▫️◼️*◼️▫️▪
Tidak ada lagi cahaya matahari yang menerangi Jawa Timur, tidak ada sinar kemerah-merahan, yang ada hanya gelap dengan sedikit penerangan dari bintang-bintang dan bulan. Itu berarti waktu isya telah masuk.
Setelah sholat berjamaah, para santriwati segera mengambil rantangnya digerobak.
Di pondok pesantren ini diterapakan untuk memakai mukena putih saat shubuh dan maghrib, yakni waktu pengajian rutin dipondok itu.
Termasuk mengumpul rantang bagi santri putri digerobak. Maklum dapur para santri berada dekat dengan asarama santri putra, jadi santri putri diwajibkan mengumpul rantangnya digerobak tepat waktu dan akan dibawah oleh kak Zammil--yang bertugas dalam hal antar-mengantar.
Tidak ada acara antri-mengantri untuk pengambilan makanan bagi santri putri, yang ada hanya menunggu kak Zammil. Iya, menunggu kak Zammil membawakan rantang mereka.
Lain halnya dengan santri putri, santri putralah yang mengantri untuk mendapatkan jatah makanan.
Jika dipikirkan, ini seperti santri putri menunggu dan santri putra mengantri.
Jadwal pengantaran makanan sebenarnya sore menjelang maghrib, tapi terkadang rantang akan dibawa setelah maghrib, jadi yah seperti itu, santri putri akan memakan makanannya setelah sholat isya.
Dan sekarang tiga sahabat yang selalu bersama berjalan beriringan. Kembali ke asrama, usai mengambil rantang masing-masing.
"Tadi pagi akoh lihat kak Adrian loh, sebenarnya gue mau langsung kasih tahu kalian, tapi kalian berdua ngelamun ... terus, jadi nggak jadi deh." Felisha membuka percakapan, "dan kalian tau, dia lagi apa?"
Nesya dan Arisha menggeleng, hampir bersamaan.
"Dia lagi bantu ustadz Ilham ngecat. Ya ampun rajin banget kan?"
Arisha mengangguk paham, tiba-tiba ide langsung terlintas di otaknya. "Yah iyalah rajin, orang dia nggak belajar kalau bantu ustadz Ilham, Jadi lebih baik manfaatin peluang depan mata, agar nggak ikut belajar, Iya kan?" Arisha melirik ke Nesya, mecari pembenaran.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=