
Gerimis turun bersamaan ketika mobil Alhanan telah melaju. Perjalanan memakan waktu dua jam untuk sampai di pondok pesantren tempat Arisha belajar.
Angin sepoi-sepoi dingin menyambut Arisha saat kakinya turun dari mobil.
Arisha memegang kedua bahunya, membentuk silang.
"Arisha harus janji, jangan sampai capek yah. Mamah akan langsung datang kesini dan bawa kamu pulang, kalau dengar Arisha capek," terang Amira.
"Iya mah, aku janji nggak akan jatuh sakit. Kalau sampai sakit Arisha bakal pulang sama mamah," ucap Arisha bersungguh-sungguh, kemudian memeluk kedua orangtuanya.
Amira lantas masuk kedalam mobil berwarna hitam itu, kemudian menurunkan kaca hingga wajahnya terlihat jelas disana. "Yaudah, Mamah sama papah pulang dulu yah. Ingat!! Jangan sampai capek, mamah punya mata mata loh disini," ungkap Ameera.
"Iya mah ...." Arisha tidak habis pikir, jika betul disini ada mata mata mamahnya, maka dia harus selalu waspada jangan sampai usahanya kembali kesini menjadi sia-sia.
"Jangan terlalu lama diluar, disini dingin apalagi sekarang musim hujan, nanti kamu demam," pesan mamahnya.
"Iya mamahku sayang," sahut Arisha dengan tambahan sayang diakhirnya, ia pun lantas menyalimi Ameera dan Alhanan.
"Hati-hati dijalan yah pah-mah!" Arisha meninggikan sedikit suaranya ketika mobil papahnya telah berjalan.
▪▫️
▫️▪
Arisha memasuki ruangan bercat hijau-kuning, dengan 6 tempat tidur single bertingkat, yang berarti dihuni oleh 12 kepala. "Kok sepi, biasanya jam segini anak-anak pada tidur siang atau lakuin aktivitas lain. Apa mereka semua keluar? Pikirnya.
Tidak ingin berpikir terlalu lama, Arisha melangkah sampai kedepan lemari yang hampir 5 tahun telah menjadi tempat menyimpan barang-barangnya selama disini.
Setelah merapikan semua barang bawaannya, Arisha keluar. Ia ingin mencari para sahabat yang mungkin lupa atau tidak untuk menyambut dirinya. Tapi jangankan menyambut, batang hidung saja tak muncul. Padahal kan dia baru kembali sejak 3 hari yang lalu! Catat itu, 3 hari!!
"Awas aja kalau ketemu, aku akan minta penjelasan sambil ditraktir pentolan mas sopan, titik!" batinnya.
Dalam pencarian yang tak menuai hasil, Arisha memilih untuk duduk disekitar taman pesantren, capek.
Dia tengah duduk di atas batu yang sengaja diletakkan untuk memambah keindahan taman. Namun sayang, bukannya menambah keindahan, malah menjadi tempat duduk bagi para santriwati, tak luput dari Arisha.
Langit masih tampak murung, tidak ada tanda-tanda akan munculnya matahari yang ditutupi awan gelap. Sepertinya hujan akan kembali turun.
2 menit duduk disana, Tasya--kakak kelasnya lewat. "Eh, Arisha kamu kok masih ada disini, bukannnya semua anak kamar 5 pergi yah?"
"Aku baru sampai dari pulang kak," jelas Arisha. Tasya manggut.
"Oh iya, anak kamar lima pada pergi kemana ya kak?" Arisha membalikkan pertanyaan Tasya yang mengatakan pergi.
"Mereka pergi kepemakaman pak Rahmat--abi Nesya," ujar Tasya.
"Apa!! Kok bisa?" Arisha kaget, ia memegang dadanya. Jantungnya berpacu tak seirama, ia meremas ujung jilbabnya. Berusaha untuk tenang dihadapan kakak kelasnya.
"Namanya juga takdir Arisha. Nggak ada yang tau kapan ajal menjemput," jelas Tasya, "ya sudah kalau begitu saya pergi dulu."
Arisha hanya mengangguk lemah, pernyataan tadi membuat irama jantungnya tidak stabil.
▪▫⬜️❇️⬜️️▫️▪
'Ya Allah, Apa yang akan terjadi setelah aku pergi meninggalkan Nesya disaat dia seperti ini ...,' batin Arisha.
'Aku bersyukur masih bisa berada disini, meskipun hanya sebentar, itu sudah cukup. Semoga aku bisa membantu Nesya, menguatkannya, melewati masa-masa sulit ini.'
Felisha baru saja sampai dari pemakaman abi Nesya, dan dia sudah disuguhkan dengan pemandangan seorang gadis yang tengah duduk termenung dikasurnya. Dia pun melambaikan tangan dihadapannya. "Hai Arisha, kenalin gue Felisha sahabat lo yg paling cantik. Masih ingatkan? Jangan sampai lo lupa sama gue karna habis pingsan terus ketimpuk tanah." Felisha mengingatkan akan kejadian 4 hari lalu yang menyebabkan mamahnya datang dan memintakan izin pada pembina dan seluruh yang berkaitan dengan perizinan pulang!
Perizinan di pondok ini sangat sulit, harus mempunyai izin dari semua yang bersangkutan, setelah itu baru diperkenankan untuk pulang.
Jika keadaan mendesak, santri yang ingin meminta izin atau walinya, bisa langsung pulang. Akan tetapi perizinan masih berlaku, jika keadaan memang mendesak maka bisa diwakilkan oleh temannya untuk memintakan izin.
Jika tidak maka santri yang pulang dianggap tidak mematuhi peraturan dan akan dihukum setelah mereka berada di pondok.
Sistem ini berlaku bagi setiap santri yang ingin keluar dari pondok. jika bermalam, maka santri harus mendapatkan izin dari kepala madrasah, kepala asrama, wali kelas, dan departemen keamanan. Dengan membawa buku bersampul hitam kemudian meminta tanda tangan di hadapan pemberi izin sebagai persetujuan dari memberikan izin kepada santri yang ingin keluar dari pondok dengan durasi waktu perhari atau beberapa hari.
Felisha yang merasa ucapannya tidak digubris langsung memegang kedua bahu Arisha dan mengguncangnya. Siapa tau sahabatnya lagi kesurupan, bisa gawat kan kalau Arisha kesurupan, apalagi kalau yang memasuki tubuhnya adalah jin pendiam, dia nggak akan ngomong apapun itu, pikirnya.
Arisha yang terguncang pun langsung sadar dari lamunanannya. "Felisha! Sejak kapan kamu disini? Dan tolong hentikan, kamu buat aku pusing."
"Alhamdulillah ya Allah, aku kira Arisha kesurupan." Felisha mengucapkan syukur, ternyata pikirannya salah.
"Ihh apaan dah, kamu kira aku dimasukin jin apa! Enak saja bilang aku kerasukan," sebal Arisha.
"Ya maaf Sha. Aku kan cuma ngira, itu juga karna kamu ngelamun terus. Awas loh pikiran kosong gampang dimasukin jin," Felisha memberikan peringatan, dengan ekspresi sedemikian rupa.
"Felisha," panggil Arisha kemudian, "kamu dan yang lain beneran habis dari rumah Nesya?" tanya Arisha. Dengan tatapan mata sendu, suaranya melemah ketika menyebut rumah Nesya.
Felisha langsung tersadar dengan pertanyaan Arisha, ia dan anak-anak lain memang habis kembali dari rumah Nesya, tapi melihat tatapan cewek dihadapannya ia seperti sulit untuk mengatakan 'iya'.
Felisha tau bahwa Arishalah yang paling peka dengan apa yang dirasakan para sahabatnya, Arisha juga akan turut merasa sakit ketika melihat sahabatnya sakit.
Tapi Felisha harus jujur dengan apa yang terjadi, karena semakin ia menyembunyikan kebenarannya maka Arisha akan semakin sakit ketika mengetahuinya.
Felisha mengangguk, itu sudah membuktikan bahwa pertanyaan Arisha benar.
▪▫️️⬜️❇️⬜️️▫️▪
1 minggu setelahnya.
Hari ini tampak begitu cerah, secerah senyum yang telah terbit sejak tadi dibibir Arisha.
Sebab hari ini Nesya datang, Arisha harus menyambutnya dengan baik.
Tidak lama kemudian suara salam terdengar. "Assalamualaikum." sontak membuat para penghuni kamar yang tengah melakukan berbagai aktivitas, berhenti.
"Waalaikumsalam," jawab para penghuni kamar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=