FeishSya

FeishSya
bagian 6



"Tadi pagi akoh lihat kak Adrian loh, sebenarnya gue mau langsung kasih tahu kalian, tapi kalian berdua ngelamun ... terus, jadi nggak jadi deh." Felisha membuka percakapan, "dan kalian tau, dia lagi apa?"


Nesya dan Arisha menggeleng, hampir bersamaan.


"Dia lagi bantu ustadz Ilham ngecat. Ya ampun rajin banget kan?"


Arisha mengangguk paham, tiba-tiba ide langsung terlintas di otaknya. "Yah iyalah rajin, orang dia nggak belajar kalau bantu ustadz Ilham, Jadi lebih baik manfaatin peluang depan mata, agar nggak ikut belajar, Iya kan?" Arisha melirik ke Nesya, mecari pembenaran.


Orang yang dimintai pembenaran sedikit berpikir kemudian menjawab. "Mmm yang dibilang sama Arisha ada benarnya sih," balas Nesya, dan itu membuat Felisha tidak terima, baru saja ia membuka mulutnya untuk protes, Nesya melanjutkan ucapannya, "tapi kita nggak boleh berpikir seperti itu, bisa ajakan dia memang ikhlas menjalankannya. Kita nggak tau apa isi hati manusia, jadi lebih baik kita berhusnudzon jangan selalu su'udzon, nggak baik," terang Nesya.


"Nah, tuh dengar. Jangan selalu su'udzon sama orang! Apalagi sama kak Adrian! Kakak kelas sendiri," ucap Felisha kepada Arisha.


Sebenarnya Arisha tidak su'udzon pada Adrian, dia hanya ingin menjaili Felisha! Tapi kenapa rencananya selalu gagal, Nesya sih nggak bisa diajak bercanda. Itukan tadi gara-gara ide kejahilan terlintas.


Tidak ingin memulai perdebatan yang akan sangat panjang nanti, akhirnya Arisha memilih diam, sambil merenung.


"Napa lo diam, nggak bisa balas ucapan gue hah!" pancing Felisha.


Arisha tidak peduli dengan ucapan Felisha, tapi hatinya seperti menyuruh dirinya untuk membalas, ini lebih seperti bisikan! Yah bisikan untuk membalas dengan emosi. Mau tidak mau Arisha langsung bersuara.


" من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فاليقل خيرا او ليصمت "


Arisha mengatakan sabda Rasulullah saw. tentu saja tidak memakai emosi seperti yang dibisikan, dan mulai mengartikannya. "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya mengatakan yang baik atau diam."


Dia menegaskan kata akhirnya, dan itu sukses membuat felisha bungkam.


Kali ini Arisha tersenyum menang.


"Eh tunggu bentar, kita mampir dulu yuk, aku mau beli sesuatu di waserda. Bentar ... aja," pinta Arisha, kakinya sudah melangkah masuk kedalam. Tanpa menunggu persetujuan dari kedua sahabatnya.


"Dasar sahabat nggak ada akhlak! Main pergi aja, kita belum bilang iya, dia udah nyelonong ... masuk." Felisha berkacak pinggang.


"Ini kan malam jum'at Fei. Masa kamu lupa kebiasaan Arisha untuk ngumpul para cemilan kesukaannya buat dimakan bareng saat nonton nanti," jelas Nesya.


"Oh iya, aku hampir lupa, ini kan kesempatan emas, yuk masuk pilih cemilan juga." Felisha menarik tangan Nesya.


"Tunggu bentar deh, emang kamu bawa uang?" tanya Nesya, memberhentikan langkah Felisha, yang menariknya.


"Aduh, ini aku yang pelupa, atau kamu sih Sya, kamu ingat nggak ucapan Arisha setiap dia lagi senang kayak gini, saat mau nonton sekali seminggu." Felisha mengajak Nesya membuka memori ingatan yang tersimpan rapi di dalam otak.


"Kalian nggak mau ambil cemilan juga? Ini kan malam jum'at, kita mau nonton, kan lebih enak kalau lagi nonton drakor terus sambil ngemil," kata Arisha.


"Ya ampun gue lupa bawa uang! Padahal kan ini malam paling indah, malam kita dikasih laptop terus nonton." Felisha memukul jidatnya. Sepertinya dia harus merestar ulang otaknya.


Arisha terkekeh melihat tingkah sahabatnya. "Yaudah ambil saja, sekarang kan aku lagi senang, dari pada aku ambil makanan kesukaan aku terus, kalian juga ambil gih, nanti kita makan bareng sama yang lain saat nonton, tapi ingat! Aku cuma bawa uang 50 ribu jadi ambil cemilan kesukaan kalian nggak lebih dari 15 ribu per-orang," ujar Arisha yang membuat Felisha dan Nesya senang,


"Yeay, cemilan gratis, Fei datang."


"Oh iya ya, aku udah ingat, yuk masuk Fei, ambil cemilan gratis."


Felisha dan Nesya pun masuk, dan ikut memilih makanan ringan yang akan mereka makan nantinya.


Mata Arisha menelisik segala hal yang di jual, kedua matanya menangkap sesuatu yang sangat diburu oleh para santriwati disini, yaitu makaroni.


"Yeayy!"


Felisha dan Nesya yang mendengar seruan dari Arisha langsung menghampirinya.


"Ada apa sih Sha, senang banget kelihatannya."


"Coba tebak, apa yang aku dapat ini." Arisha memperlihatkan sesuatu yang berada ditangannya.


Felisha yang sedari tadi hanya diam menyaksikan langsung terpekik, "makaroni!!"


"Iya, untung kita singgah, kalau tadi lupa mungkin kita nggak akan ketemu sama benda kecil ini," ucap Arisha takkala antusiasnya dari Felisha. "Aku mau ambil ini saja, kalian mau ambil apa?"


"Aku juga makaroni saja, Fei kamu juga kan?" Felisha mengangguki ucapan Nesya.


Akhirnya Arisha memutuskan untuk membeli makaroni ukuran besar, pasti temannya yang lain juga bakal senang.


"Eh tunggu, aku masih mau beli, buat dicampur nanti saat makan malam."


"Kan ini juga udak banyak, lo mau apa beli lagi?" tanya Fei.


"Buat dimakan sama nasi, bareng yang lain juga," ucap Arisha.


Akhirnya Arisha kembali membeli beberapa makaroni kecil, untung saja dia membawa uang lebih.


Tidak lama kemudian sampailah mereka dilantai dua kamar mereka.


Semua teman kamarnya ternyata sudah duduk menunggu diteras kamar.


Hanya kamar 5 yang seperti ini, kamar lainnya semua makan didalam kamar masing-masing.


Tapi bukan kamar lima namanya jika makan didalam dan membuat kamarnya jadi kotor, entah itu makanan yang berserakan atau air yang tumpah.


Jadi kamar ini memilih untuk makan diteras yang pastinya telah dibersihkan sebelumnya.


Kamar lima juga terkenal akan solidaritasnya, seperti sekarang ini. Mereka tak akan makan kecuali semuanya sudah berkumpul atau jika ada udzur dari salah satunya, maka mereka akan memberitahu.


"Udah pada nunggu yah!" seru Felisha. Langsung bergabung di lingkaran yang hampir terbentuk sempurna, tinggal Arisha dan Nesya yang harus duduk dan lingkaran akan sempurna.


"Nggak!!" bantah Jingga, Putri, dan Resky bersamaan.


"Loh, kok gitu?" tanya Felisha, polos.


"Mereka sedari tadi udah lapar. Kalian dari mana aja sih, lama banget datengnya," ucap Qalbi, kesal.


Pasalnya dia yang jadi tempat Jingga, Putri, dan Resky menumpahkan semua amarah perutnya yang sudah gedor-gedor minta makan.


Sedangkan yang lainnya hanya diam menyaksikan. Mungkin memilih untuk diam karna kekesalan mereka sudah diwakili. Atau untuk bicara saja enggan, karna lapar.


Felisha, Nesya, dan Arisha hanya tersenyum canggung, sambil menggaruk kepala yang terbalut jilbab, tidak gatal.


"Aku tahu, apa yang bisa buat kalian kembali senang," ucap Arisha, sambil mengambil makaroni tadi, dan membagikan kepada seluruh temannya.


"Makaroni!!" seru mereka semua.


"Aduh kenapa teriak sih, kamar lain udah pada dengar tuh. Kita bakal kehabisan lagi deh. Padahalkan ini waktu nonton." thiah mendesah lesu.


"Eits, kalian tenang aja, kita tadi mampir ke waserda sekalian beli banyak makaroni kok, buat nonton nanti." Felisha membuat para penghuni kamar lima kembali senang.


Udah dapat makaroni gratis untuk campur dengan nasi, eh sekarang dapat makaroni buat nonton nanti, lengkap sudah, tak apa tadi penghuni kamar lima nunggu, akhirnya mereka dapat balasannya akibat dengan 'sabar' menunggu.


Setelah itu, akhirnya mereka makan bersama dengan khidmat.


▪▫️◼️*◼️▫️▪


"Kakak!"


Satu sosok gadis terbangun pada jam 01.00 dini hari, dia mengingat kakaknya. Keringat dingin bercucuran di pelipis, dia menggigit bibir bawahnya.


"Mimpi buruk itu lagi," lirihnya.


Kemudian dia pun menangis dalam diam, sungguh sesak.


Hampir setiap bulan dia memimpikan kejadian itu.


Dia seakan dihantui terus, dan selalu terbayang akan peristiwa satu tahun yang lalu.


Rambut yang tergerai dia ikat, mungkin ini bisa membuatnya kembali tenang.


Gadis itu mulai mengambil kacamata hitamnya. Dia terlihat cantik dengan kacamata itu.


Kacamata yang selalu bertengger dihidungnya, kapanpun itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=