
Orang yang ridho akan takdir Allah, adalah orang yang paling berbahagia di dunia.
Meskipun takdir itu sangatlah pahit untuk dirinya.
Namun, pada akhirnya mereka akan tahu, bahwa setiap takdir yang dijalani adalah cara Allah memberinya kebahagiaan.
____________________________________________
Nesya tidak tahu, apa yang harus dia perbuat, abinya telah meninggal sedangkan ummi, ibu, bunda, mama, entahlah, dia saja tidak tahu ingin memanggil seseorang yang telah melahirkannya dengan sebutan apa?
Sejak kecil Nesya dirawat oleh abinya, dan nenek lala. Ia tidak pernah bertemu dengan malaikat tak bersayapnya, padahal dia juga ingin merasakan belaian dari sosok yang disebut ibu!
Nesya teringat perkataan neneknya, bahwa sang ibu adalah orang yang baik, berhati mulia, tapi setelah dirinya lahir, ibunya yang tak lain bernama Alya pergi tanpa kabar sedikitpun.
Tidak ada yang tahu Alya pergi kemana, bahkan keluarganya juga.
Nesya merasa ingin berhenti saja dari pesantren, dia seperti tidak memiliki semangat hidup lagi.
Dia terdiam, membiarkan dirinya merasakan angin malam yang menerpa. Membawa sejuta keresahan dari raut wajahnya. Dingin.
Tapi itu tak cukup untuk melepas resah dihati.
Di tempat lain, Arisha duduk termenung. Beberapa kali dirinya menghela nafas berat.
Pikirannya kalut, ia tak bisa tidur dengan pikiran yang selalu berputar-putar di otaknya. Ingin memberi tahu para sahabat tentang keadannya atau tidak.
Mungkin lebih baik dirinya diam saja untuk saat ini, menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu Felisha dan Nesya. Pikirnnya.
Arisha bangkit, ia segera membawa kedua kakinya keatas. Sama seperti biasa, gadis itu memilih mengikuti kata hatinya.
Arisha baru saja sampai di atas, tempat jemuran. Dan dia melihat Nesya sedang duduk sendirian. "Nesya," gumam Arisha.
"Aku kira dia sudah tidur tadi," batin Arisha.
"Nesya ...," panggilnya, seraya berjalan mendekati Nesya.
"Nesya!"
Arisha sampai di hadapan Nesya, tapi gadis itu hanya menatap kosong di depannya. Pantas saja panggilan Arisha tidak ditanggapi. "Nesya!! Kamu kenapa? Jangan ngelamun gitu." Arisha mengguncang tubuh Nesya.
"Eh, Sha, kamu ngapain disini? Ini udah malam, kamu nggak ngantuk?" tanya Nesya yang telah kembali kedunia nyata. Gadis itu mengusap kedua matanya dengan jempol.
"Kamu sendiri belum tidur?" balas Arisha, tanpa menjawab pertanyaan Nesya. Kemudian mengambil tempat duduk disampingnya.
Detik selanjutnya Arisha langsung bertanya tanpa menunggu balasan dari Nesya. "Kamu nangis?" Arisha menyadari ada kejanggalan dari diri Nesya.
"Nggak kok, ini cuma kelilipan tadi," Nesya beralibi, seraya menggosok matanya agar membuktikan kebenaran dari alibinya.
"Jangan bohong Sya, aku tahu kamu tadi nangis, matamu sembab." Sambil memegang kedua bahu Nesya.
"Maaf," gumam Nesya.
"Nggak apa-apa. Aku tahu, ini mungkin sangat sulit bagi kamu. Tapi aku ada, Felisha juga, kita selalu ada untuk kamu. Jangan pernah ragu untuk berbagi kesedihan. Kita itu udah kayak keluarga," terang Arisha, seraya memeluk Nesya.
"Kalau kamu masih sedih, maka menangislah, aku siap jadi sandaran kamu, setiap kali kamu butuh. Menangis adalah cara yang paling efektif untuk menghilangkan resah dihati, maka sering-seringlah menangis, terutama saat kau berdoa, setelah kau menangis hatimu pasti akan tenang," jelas Arisha.
Bersama dengan balutan malam yang sunyi, suara Nesya bagai berbaur di udara. Suaranya seakan terbawa oleh angin hingga tiada manusia yang mendengarnya, kecuali dua orang itu.
Setelah cukup lama berlarut dalam tangis, Nesya merasa tenang.
Kelegaan berhasil tercipta dihati Nesya. Ia baru menangis pada seorang ciptaan tapi dirinya sudah merasa tenang, bagaimana jika ia menangis dihadapan Sang pencipta? Pasti rasanya lebih dari ini. Jiwa akan merasa tenang, hati sejuk dan pikiran akan merasa ringan.
Nesya menghapus air yang masih mengenang dimatanya, serta jejak yang ditinggalkan oleh cairan bening itu. Yang sudah berapa kali melewati pipi mulusnya.
"Makasih," ucap Nesya yang sudah melepaskan pelukannya.
"Sama-sama," balas Arisha, ia tersenyum hangat pada gadis dihadapannya.
"Arisha kalau aku. Berhenti pesantren. gimana?" sesenggukan Nesya masih berlanjut akibat terlalu lama menangis, hingga suaranya tersendak-sendak.
"Kamu mau berhenti mondok? Kenapa?" lagi-lagi Arisha tidak menjawab pertanyaan sahabatnya, dia malah balik bertanya.
"Aku. nggak tahan Sha! abi. aku udah. pergi. nggak ada lagi. alasan buat aku. tetap berta ...."
"Ada!!" potong Arisha cepat, jangan sampai Nesya benar-benar akan pindah, walaupun cara bicara Nesya putus-putus akibat kelamaan nangis, tapi dia juga tidak ingin kata itu keluar dari mulut sahabatnya, "om Rahmat masukin kamu kesini bukan untuk dirinya, tapi untuk kamu!! Dia pengen liat kamu jadi ustadzah saat besar nanti, om Rahmat ingin anaknya! Bisa jadi panutan setiap orang!" Arisha menggebu-gebu. Nafasnya sudah seperti orang yang baru selesai lari, jantungnya berdetak sangat cepat.
"Apa kamu lupa sama impian abimu sendiri? Lagi pula kamu nggak sendirian! Aku udah bilang berkali-kali ada aku, ada Fei, apa semua itu nggak cukup untuk membuktikan kalau kamu punya alasan disini." Mata Arisha berkaca-kaca, hatinya sakit mendengar ucapan Nesya tadi, pasokan udara seakan menipis disekitarnya.
Nesya tersadarkan oleh perkataan Arisha, kenapa dia cepat sekali menyerah? Ya Allah, ampuni hambamu ini, yang seperti tidak menerima ketentuanmu.
Hampir saja benturan ketidak percayaan menghancurkan dinding kesabaran hati ..., dalam tangis manahan rasa sakit tanpa sadar. Setetes demi setetes jatuh, mata tak sanggup lagi membendung segala sesak di dada.
Arisha tiba-tiba memegang dadanya yang berpacu lebih, rasa nyeri sudah tercipta disana. Nyeri sudah berkuasa penuh atas dadanya, ia kemudian jongkok, tidak tahu mau berbuat apa? Rasanya sakit!
Nesya melihat itu, dia langsung memfokuskan dirinya kepada Arisha, "Arisha kamu kenapa?" tanya Nesya.
"Sha ...."
"Sha!" Nesya khawatir, ada apa dengan sahabatnya? Apa sungguh begitu menyakitkan kah perkataannya tadi?
Nesya memilin-milin jari-jarinya, kejadian seperti ini sudah biasa terjadi ketika dia merasa takut dan khawatir.
Arisha memeperhatikan gerak-gerik Nesya, dia tahu apa yang terjadi pada sahabatnya. "Aku nggak apa-apa. Tadi telat makan jadinya kayak gini, bentar lagi juga mendingan," Arisha berdalih.
"Tapi kamu kelihatan sakit banget, kamu punya obat? Aku ambilin yah?"
Baru satu pijakan, tangan Nesya sudah di pegang.
"Jangan!! Jangan turun kebawah!" larang Arisha. dia mencoba menghentikan sahabatnya.
Nesya dibuat bingung oleh Arisha, memangnya ada apa jika dirinya kebawah dan mengambil obat untuknya? "Kenapa?"
"Tolong ikutin perintah aku ... saat ini," mohon Arisha, nyeri didada masih ada.
Nesya mengangguk, dia tidak tahu apa-apa, tapi lebih baik dia mengikuti permohonan Arisha.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=