FeishSya

FeishSya
bagian 12



"Waktunya tinggal 45 menit sebelum kembali ke tempat acara, gunakan waktu sebaik-baiknya agar tidak ada lagi yang terlambat seperti tadi pagi," ujar Tasya--kakak kelas.


Semuanya serempak mengagguk.


"Baiklah, semuanya sudah bisa kembali, yang mau tinggal nanti jangan lupa tutup gerbang musholla."


Setelah penyampaian singkat tadi, beberapa santriwati pulang, hanya sebagian yang tetap tinggal, sekedar menambah hafalan, muroja'ah, berdzikir, cerita, maupun baring yang kuyakini akan terus berlanjut hingga tertidur, sungguh, tidur di musholla mempunyai kesan tersendiri, aku bisa jamin itu, mungkin.


Melihatnya saja membuatku ingin ikut berbaring di sana, jika saja aku tidak ingat dengan perutku yang belum terisi, pasti aku akan ikut bergabung pada tim yang tetap tinggal.


"Sha! Sendalku hilang!!"


Suara itu, membuat keseruanku menikmati pikiran tersindiri menjadi buyar.


Ah, siapa lagi kalau bukan Felisha, suara cemprengnya sudah sangat kukenal.


Aku segera menghampirinya. "Ada apa?"


"Sendalku hilang!!"


Aku memukul jidatku. "Sendalmu hilang sampai-sampai kamu berteriak hingga seperti itu, hanya untuk bilang ini?"


Felisha mengangguk.


"Kayak bukan anak pesantren saja kamu tuh."


"Ihh, ini beda lah sha, itu sendal mahhal."


"Makanya, sudah tahu di pesantren kalau kayak begitu sering terjadi, masih aja mau bawa yang mahhal."


Felisha cemberut, "Ah, yaudah deh, nggak apa-apa, kalau jodoh nggak mungkin kemana."


Aku tertawa mendengarnya.


"Ternyata kamu berharap, sendal itu jodohmu yah."


Kekesalan semakin nampak pada wajah Felisha. Cukup! aku tidsk bisa menahan tawaku untuk tidak meledak jika begini terus, aku harus berhenti tertawa.


"Oh iya, kok dari tadi aku nggak liat Nesya."


"Fei! Arisha!" Pasti Nesya, tebakku.


Aku dan Felisha sontak tertuju pada objek yang sama.


Dan terlihatlah sosok gadis yang masih memakai mukenahnya sedang berdiri sambil melambai. Ternyata bukan Nesya, tebakanku meleset.


Aku yang hendak melangkah langsung tertahan oleh cekalan felisha padaku, aku menatapnya seolah bertanya lewat sorot mata.


Felisha kemudian melihat kakinya, oh ya ampun, aku lupa, sendal Felisha kan hilang.


Sejenak aku berpikir, "Mmm, nggak usah pakai sendal, jalan tanpa alas kaki aja."


"Ihh Arisha, nanti kalau misalkan dijalan ketemu najis gimana?"


"Jangan diinjak."


"Kalau gue nggak liat?"


"Makanya diliat."


"Ihh punya sahabat kok gini amat sih," Felisha menggerutu sambil mencak-mencak.


"Mmm, gimana kalau aku pake sendal kamu yang kiri, kamu yang kanan," usul Felisha.


"Saran kamu bagus, tapi kamu ingat nggak pengajian ustadz Gaffar tentang memakai sendal hanya sebelah."


  «إِنَّ الشَّيْطَانَ يَمْشِي فِي النَّعةِ»


“Sesungguhnya setan berjalan dengan (menggunakan) satu sandal” [HR. ath-Thahawi, dishahihkan al-Albani dalam kitab ash-Shahihah no. 348]


"Iya juga sih, tapi masa aku jalan nggak pakai sendal lagi sih, padahal sendal itu baru satu minggu." Felisha meratapi nasibnya.


"Kamu mau berjalan kayak gayanya setan?"


"Nggak lah, tapi ... Yaudah deh nggak apa-apa," pasrah Felisha.


Siapa lagi kalau bukan gadis yang memakai mukena tadi.


"Eh, Muthiah maaf yah," ucapku, merasa bersalah kepada Muthiah yang memang sedari memanggil.


"Emang ada apa sih, dari sana kuliat kalin lagi berdebat sesuatu." Tanyanya padaku dan Fei.


"Ini semua tuh, gara-gara sendalku yang hilang, terus aku mau pakai sebelah sendal Arisha, Eh, bukannya dapat sendal, malah dapat hadist."


Muthiah tertawa, "Ternyata gara-gara itu toh, tapi Arisha benar loh Fei, tapi ada pengecualiannya."


"Kecuali apa!" Mata Felisha langsung berbinar  ketika mendengar kata pengecualian dari mulut Muthiah.


"Kecuali dalam keadaan darurat, seperti pada salah satu kakinya terdapat luka atau memakai gips. Tidak mengapa baginya memakai satu sandal karena darurat tersebut."


"Yaelah, ini mah sama aja, udah deh nggak apa-apa kayak gini, dari pada ngikutin gayanya setan."


"Tapi lo tenang aja Fei, gue ada simpanan kok, di dekat pohon," bisik Muthiah di samping telinga Felisha. 


Tapi masih bisa terdengar olehku, ada-ada saja Muthiah ini, ingin merahasiakan tapi bisikannya seperti sedang berbicara dalam nada rendah.


"Yaudah aku ambil dulu, tapi ingat nanti kembaliin ketempat semula."


"Siap," Tegas Felisha.


Setelah perdebatan kecil tadi, kami bertiga kembali berjalan pulang beriringan.


Ternyata Muthiah datang memanggil kami berdua untuk makan siang, dan rantang kami pun sudah di ambil, uhh sungguh teman-teman yang pengertian.


***


Acara kembali dimulai, lomba pertama adalah lomba MTQ, dan tentu saja pwrwakilan kelas kami adalah Nesya.


Kali ini, aku yang menjadi MC-nya  bersama ... Alfaris, aku mati-matian menahan diriku agar tidak menunjukkan tingkah yang aneh, kenapa bisa kebetulan begini? Aku berada pada samping kanan panggung, depan santriwati. Sedangkan Alfaris berada di samping kiri depan santriwan.


Tak lama kemudian tibalah saatnya giliran kelasku yang tampil, tak ingin membeda-bedakan tapi tanpa sadar aku membuat seakan seperti itu, sungguh terlalu.


Suara merdu Nesya seakan menyihir para santri, yang tadinya ribut tak karuan, kini diam mendengarkan.


Nesya menampilkan bakatnya, tajwid yang pas, nada yang tepat, seakan tak ada cela di sana.


Kulihat semua orang terpukau, terlebih Alfaris. Tiba-tiba aku merasa ingin pintar bertilawah, tapi apa yang kudapat jika bisa? Aku tidak boleh menjadikan itu hanya untuk mengejar seorang laki-laki. Aku menggeleng pelan, sadar akan pikiranku yang sudah kemana-mana.


▫️◾️◻️⬛️⭐️⬛️◻️◾️▫️


Tak terasa hari mulai gelap, acara pun telah usai, besok akan dilanjutkan lagi.


Banyak yang bilang jika Nesya yang akan mendapat juara satu, aku pun merasa seperti itu, terlebih, dia juga kan mewakili pondok. Aku senang mendengarnya, bukan aku yang berada di posisi itu, tapi bagiku kebahagiaan sahabatku adalah kebahagiaanku juga.


"Malam-malam kayak gini, lebih baik cari udara segar ah. sekaligus hilangin letih, capek banget tadi ngurusin acara," gumamku.


Di tengah perjalanan aku bertemu dengan Nesya. Ia terlihat mondar-mandir sana-sini, tak ingin mengambil pusing, aku pun pergi menghampirinya.


Ku tepuk bahu sebelah kanannya, "Nesya!!"


Nesya terkejut, ia kemudian memegang dadanya, mengucap istighfar, lalu menghadap penuh ke arahku. "Ada apa?" tanya Nesya.


"Nggak apa-apa, cuma mau hampirin aja." balasku, "oh iya, kamu ngapain berdiri di sini sendirian?"


"Nggak ada apa-apa, iya, nggak ada apa-apa, kok." Nesya seperti menyembunyikan sesuatu, terlebih cara bicaranya yang terkesan gagap. 'pasti ada apa-apa nih'


Aku memicingkan mataku, menatap Nesya penuh kecurigaan.


Dia lantas cengar-cengir, dan bilang kalau dia lagi mencari sesuatu. Aku ingin membantu, tapi Nesya bilang tak usah, "Aku bisa cari sendiri kok, lagian itu bukan apa-apa." kata Nesya waktu ingin kubantu.


Setelah pertemuan singkat dengan Nesya, aku terus melangkah hingga sampai pada tujuanku yang sempat tertunda, tempat yang paling aku sukai, apa lagi kalau bukan tempat jemuran.


Aku melihat Felisha dari kejauhan, aku pun mulai berjalan mendekatinya.


"Felisha!!" Felisha langsung menoleh ketika namanya kusebut.


Dia tampak kaget ketka melihatku, kemudian kembali seperti semula. "Arisha! Kamu kok bisa ada disini?"