
“Apakah kau yakin dengan keputusanmu ini?” tanya Ezra sambil menatap Osric. Pria itu langsung menghentikan langkahnya lalu beralih pandang pada lelaki yang menjadi sahabatnya itu.
“Maksudmu tentang keputusanku untuk berburu hari ini? Tentu saja aku yakin. Kau pikir aku main-main?”
“Tidak, hanya saja kita ditugaskan untuk tetap berada di desa, kan? Ingat dengan ucapan Cedric?”
“Kita hanya pergi sebentar, Ezra. Begitu selesai berburu, kita akan segera pulang. Lagipula kenapa kau tampak meragukan keputusanku begitu? Apakah kau juga memiliki pemikiran yang sama dengan Everly bahwa aku payah dalam berburu?”
“Aku tidak pernah berpikiran begitu. Hanya saja kita sudah mendapatkan tugas dari Cedric dan Elara untuk tidak meninggalkan desa. Aku hanya mencoba mengingatkan.”
“Desa akan baik-baik saja selama kita pergi. Kita tidak akan pergi sampai berminggu-minggu. Hanya satu hari, dan setelah itu kita akan segera kembali. Tapi kalau kau ingin tetap di desa, itu adalah keputusanmu. Kau bisa memilih untuk ikut atau tidak. Yang jelas, aku akan pergi bersama dengan yang lain!” Osric bersikeras dengan keputusannya. Pria itu berlalu meninggalkan Ezra yang hanya bisa termenung sambil menatap sahabatnya itu.
“Dia lebih keras kepala dari yang aku kira,” gumam Ezra sambil menghela napas. Detik berikutnya, Ezra berjalan mengikuti Osric dari arah belakang.
“Pokoknya kita harus menangkap lebih banyak hasil buruan daripada kemarin!” Osric tampak berapi-api menjelaskan semua rencana yang telah disusunnya pada teman-teman yang lain. Mereka merespon dengan tidak kalah semangat.
“Teman-teman. Apakah kalian akan pergi berburu hari ini?” Gawain tiba-tiba saja muncul dan menyita perhatian semua orang. Raut wajah Osric seketika berubah ketika mendapati sosok itu di sana.
“Kau tidak perlu ikut berburu hari ini!”
“Hari ini biarkan aku dan teman-teman saja yang pergi. Hari ini kau tetap di sini dan tunggu kami kembali!”
“Tapi…” Gawain masih tidak mengerti. Ezra yang melihat sikap dingin Osric pada Gawain bergegas menghampiri lelaki itu untuk memisahkannya.
“Gawain, bisa kita bicara sebentar?” ujarnya begitu tiba di sana.
“Yang mulia?”
“Ikut aku.” Ezra mencoba membawa Gawain pergi dari sana agar mereka berdua bisa bicara empat mata. Setelah membawa lelaki itu menjauh dari kerumunan Osric dan teman-teman yang lain, Ezra segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. “Untuk hari ini, bisakah kau tetap di desa? Kau sudah sering bekerja keras berburu untuk penduduk di desa, dan kalau kau tidak keberatan, hari ini berikan kesempatan untuk Osric serta yang lainnya untuk mencoba berburu. Selain itu, kau juga pasti lelah setiap hari berburu, kan? Aku ingin kau beristirahat agar kau bisa memulihkan energimu.”
“Tapi, saya rasa itu tidak perlu, yang mulia. Bagaimanapun, berburu adalah hobi saya, dan saya sudah terbiasa melakukan itu setiap hari,” tolak Gawain lembut.
“Aku mengerti. Tapi untuk hari ini saja, bisakah kau tetap di sini dan memberikan kesempatan untuk Osric?” Ezra mencoba untuk membuat Gawain mengerti akan situasinya. Gawain terdiam sejenak untuk merenung, sebenarnya dia tidak ingin mengikuti permintaan dari Ezra karena dia sudah terbiasa melakukan kegiatan itu. Tapi dia tidak mungkin menolak permintaan dari seorang pangeran yang secara khusus meminta padanya.
“Jika boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi, yang mulia? Kenapa anda meminta saya untuk tetap di desa? Bukankah kalau Osric ingin berburu, dia juga bisa ikut dan kami bisa berburu bersama?”
Kali ini giliran Ezra yang diam. Dia bingung harus bagaimana menjelaskannya, karena tidak mungkin dia menjelaskan bahwa larangan Ezra bertujuan memberikan peluang untuk Osric membuktikan kemampuannya. Di saat yang bersamaan juga dia tidak mungkin mengikuti saran dari Gawain, karena kalau pria itu ikut, Ezra rasa situasi akan menjadi semakin kacau. Terlebih emosi sahabatnya sedang tidak stabil akibat perdebatan kemarin.
...***...