
Morgana mendengus kesal. Sejak tadi dia terus berjalan mondar-mandir dengan wajah tidak tenang.
Malam tiba, dan hal yang paling dia benci telah muncul di langit. Bulan purnama yang begitu terang hingga membuat malam tampak begitu cerah. Hatinya masih belum bisa lega kalau benda itu masih menampakkan wujudnya di langit. Karena setiap kali dia melihat bulan muncul di langit, setiap kali itu juga dia mengingat bahwa kehancurannya sudah berada tepat di depan mata. Yang dia takutkan adalah kalau ramalan itu sampai terjadi, maka maut berada tepat di hadapannya.
“Tidak bisakah kau tenang, sayang?” Ilsa menghampiri suaminya dan mencoba membuat lelaki itu tenang. Berjalan mondar-mandir di hadapannya sungguh membuatnya yang melihat merasa pusing.
“Aku tidak akan bisa tenang kalau benda itu masih muncul di sana!” Morgana menunjuk ke arah jendela dimana bulan tampak jelas.
“Aku tahu kau cemas, tapi dengan kau seperti ini tidak akan membuat situasi menjadi lebih baik. Sekarang ada baiknya kita memikirkan cara agar kita bisa menangkap orang itu dan mencegah ramalannya terjadi. Pasti akan ada cara untuk menghentikan semuanya.”
“Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk mencari dia lagi, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar juga.”
Perhatian mereka berdua seketika beralih ke arah datangnya suara. Mereka menoleh ke arah pintu. Tepat setelah Morgana memberikan izin untuk mereka masuk, beberapa orang anak buah yang sedang dibicarakannya itu muncul di sana.
“Akhirnya. Kenapa kalian begitu lamban?” kesal Morgana.
“Maafkan kami yang mulia, kami perlu mengecek beberapa kali guna memastikannya,” ujar pemimpin mereka dengan kepala tertunduk.
“Bagaimana hasilnya? Apakah kalian berhasil menemukan mereka?” tanya Ilsa.
“Maaf, tapi kami sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan orang itu dimanapun. Kami sudah menyusuri seluruh hutan bahkan sampai berulang kali, dan hasilnya tetap sama. Kami tidak bisa menemukan mereka.”
“Tidak mungkin anak itu tidak ada sementara bulan terus muncul selama beberapa hari,” gumam Morgana.
“Aku rasa ada yang aneh. Apakah jangan-jangan dia sudah bertemu dengan mereka?” Ilsa beralih menatap Morgana. Lelaki itu bisa langsung mengerti dengan apa yang dimaksudnya. Mereka yang Ilsa maksud adalah orang-orang yang telah melarikan diri dari desa di kerajaan, dan menghilang hingga saat ini.
“Sepertinya anak itu memang sudah bertemu dengan mereka. Itu sebabnya kita tidak bisa menemukannya dimanapun. Kalau seperti ini, hanya ada satu cara untuk menangkapnya.” Morgana mengepalkan kedua tangannya erat. Sebuah ide terlintas di benaknya begitu saja.
“Perintahkan semua anak buahmu untuk berjaga di seluruh hutan, dan lakukan penelusuran setiap hari. Jangan sampai kalian lengah sedikitpun!” Morgana memerintahkan pada anak buahnya. Lelaki yang menjadi pimpinannya itu menganggukkan kepalanya lalu beranjak meninggalkan tempat Morgana dan Ilsa berada.
“Aku juga tidak bisa tinggal diam. Akan aku pastikan sendiri kalau mereka sungguh melakukan tugasnya dengan benar.” Morgana beranjak dari tempatnya.
“Kau mau kemana?” Ilsa mencengkram pergelangan tangannya.
“Aku harus melakukan sesuatu, menyusun rencana untuk mengawasi mereka.” Morgana pergi dari sana dengan Ilsa yang bergegas mengikutinya dari arah belakang.
Morgana pergi ke sebuah ruangan. Ruangan yang dihampirinya tak lain adalah ruangan untuk mengumpulkan kekuatan dan melatih kemampuan sihirnya. Ilsa ikut masuk karena penasaran dengan rencana dari suaminya. Begitu tiba di dalam, dia segera menutup pintu rapat-rapat lalu menguncinya.
Morgana berdiri di tengah-tengah ruangan yang begitu gelap itu. Dia memejamkan kedua matanya dan menggerakkan tangannya, lalu hanya dalam satu gerakan, beberapa lilin menyala mengelilinginya. “Saatnya untuk memanggil bantuan…”
...***...