
Ezra…
Ezra mendadak diam ketika dia tiba-tiba seolah mendengar suara seseorang memanggilnya dari arah sungai. Dia menoleh guna memastikan. Tapi sungguh tidak ada siapapun di sana karena semua temannya yang ada sudah naik dan bersiap untuk kembali ke desa.
Aku seperti baru saja mendengar suara seseorang yang memanggilku. Siapa, ya? Ezra membatin. Dia masih diam sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling guna mengecek sekali lagi. Tapi sungguh tidak ada siapapun di sungai itu.
“Yang mulia?” Osric membuyarkan lamunannya. Ezra spontan menoleh ke arah lelaki yang sejak tadi menunggunya itu. Dia menatap Ezra dengan wajah kebingungan karena Ezra sejak tadi malah diam dan melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Osric, apakah kau mendengarnya juga?” tanya Ezra, mencoba memastikan.
“Mendengar apa?” Osric menaikkan sebelah alisnya. Dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Ezra.
“Memangnya kau tidak dengar? Aku baru saja mendengar suara seseorang memanggilku dari arah sungai ini.”
“Tidak ada siapapun di air. Semua orang sudah naik. Mungkin hanya perasaan anda saja. Sudahlah, ayo kita pergi sebelum tertinggal jauh dari yang lain. Setelah ini kita akan sarapan. Saya sungguh tidak sabar untuk makan bersama anda dan yang lain.” Osric beranjak dari sana, memimpin jalan dengan Ezra yang perlahan berjalan mengikuti dari arah belakang. Sebelum benar-benar melangkah pergi, Ezra sempat menoleh kembali ke arah sungai. Entah kenapa tapi hatinya begitu yakin kalau ada yang baru saja memanggil namanya. Anehnya hanya dia yang mendengar suara itu, sementara Osric yang sejak awal bersamanya sama sekali tidak mendengar suara yang dia dengar.
Mungkin ucapan Osric benar. Itu hanya perasaanku saja, batin Ezra yang mencoba untuk tidak menghiraukan apa yang baru saja terjadi dan memutuskan untuk terus berjalan dengan Osric yang kini mulai mengajaknya mengobrol. Osric mengajaknya bicara mengenai apa yang bayangannya mengenai apa yang terjadi kalau kegelapan abadi berhasil mereka kalahkan. Ezra mendengarkan sambil sesekali berkomentar serta menanyakan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan kegelapan abadi dan raja kegelapan yang dimaksud Osric.
...*...
Jadi selama ini aku selalu memimpikan sungai itu? Tapi bagaimana bisa aku memimpikan sungai yang bahkan baru aku kunjungi sekarang? Dan kenapa setiap kali aku memimpikan tentang sungai itu, aku selalu melihat seekor kuda terbang yang selalu berdiri di air sambil menatap ke arahku? Apakah ini hanya kebetulan atau sebenarnya ada alasan dan maksud tertentu dari mimpi yang aku alami? Ezra termangu dalam lamunannya. Entah kenapa dia jadi kepikiran mengenai sungai yang tadi dikunjunginya bersama dengan Osric dan yang lainnya. Ezra hanya tidak mengerti saja kenapa sungai itu bisa muncul di mimpinya sementara dia baru mengunjungi tempat itu secara langsung tadi.
“Yang mulia!”
Perhatian Ezra mendadak beralih pada Elara yang kini berjalan menghampirinya. “Aku sudah mencari anda sejak tadi, ternyata anda di sini..”
“Kau mencariku? Ada apa?”
“Sejak kemarin anda sudah sibuk belajar beladiri dengan Cedric, dan anda sama sekali tidak memiliki waktu untuk belajar sihir. Jadi karena Cedric bilang hari ini beliau ada urusan, maka beliau mengizinkanku untuk mengajarkan beberapa pelajaran dasar sihir pada anda.”
“Belajar sihir?”
“Ya. Ayo, kita belajar dengan yang lain.” Elara beranjak dengan Ezra yang kini bangkit dan melangkah dibelakangnya.
“Kau bilang yang lain, apakah itu artinya ada penduduk lain yang belajar mengenai sihir juga?”
“Tentu. Karena pecahnya perang, kita jadi harus memiliki perlindungan yang cukup. Maka dari itu, pada pemuda dan nona di desa yang tersisa mau tidak mau harus kami latih untuk menjadi pertahanan kedua kami. Kami melatih mereka semua dengan kemampuan beladiri dan sihir yang mumpuni agar mereka bisa membantu melindungi penduduk lain yang lemah.”
“Begitu rupanya…”
“Sebagai seorang pangeran, sudah seharusnya anda juga memiliki keahlian dalam sihir. Dan aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan sihir pada anda sampai anda menjadi penguasa kekuatan yang handal.”
...***...