
“Yang mulia!” Cedric mengguncang tubuhnya perlahan. Ezra seketika terbangun dari mimpinya, dan hal pertama yang dilihatnya ketika membuka mata adalah lelaki yang selama ini telah banyak membantunya. Cedric memandanginya sambil tersenyum, dia tampak senang karena akhirnya Ezra bangun.
“Cedric…” Ezra bangkit dari tempat pembaringannya.
“Maaf aku membangunkan yang mulia, tapi ini sudah pagi, dan sudah saatnya untuk kita pergi berlatih.” Cedric beranjak bangun dari tempat duduknya dan kini berjalan menuju arah pintu keluar kamarnya. “Aku akan menunggu di luar sementara anda bersiap. Segeralah bangun, karena yang lain juga sudah menunggu. Pagi ini kita akan mulai berlatih dengan cara yang lebih serius.”
Cedric menghilang di balik pintu, meninggalkan Ezra yang kini sudah bangun dan terduduk di ranjangnya. Entah jam berapa sekarang, Ezra sama sekali tidak bisa memastikannya. Namun yang pasti udara masih terasa begitu dingin untuk bangun dan berlatih. Walau demikian, Ezra sama sekali tidak ingin membantah ucapan Cedric. Lelaki itu sudah bangun pagi-pagi seperti ini hanya untuk membantu melatihnya.
Setelah terdiam beberapa saat untuk mengumpulkan kesadaran, Ezra akhirnya beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap untuk pergi seperti yang Cedric katakan. Begitu selesai bersiap, dia keluar dan menemui Cedric. Lelaki itu sudah ada ruang tengah. Seperti yang Cedric katakan sebelumnya, dia tidak sendirian. Di sana ada begitu banyak lelaki seumurannya yang sedang bersama dengan Cedric. Mereka adalah lelaki yang kemarin Ezra lihat berlatih di tempat latihan sebelum dirinya datang.
Saat Ezra tiba, semua orang di sana tiba-tiba saja membungkuk dan memberikan hormat padanya. Hal itu membuat Cedric menoleh ke arahnya yang baru saja tiba. “Syukurlah anda sudah siap. Itu artinya kita sudah bisa memulai latihannya.”
“Kita akan berlatih dengan mereka?” tanya Ezra sambil memandangi pria lain di belakang Cedric.
“Tadinya aku hanya ingin melatih anda, tapi yang lain ingin ikut berlatih bersama anda. Jadi aku pikir tidak ada salahnya. Lagipula akan menyenangkan kalau kita bisa berlatih bersama.”
“Kalian tidak perlu meminta izin. Lebih ramai, akan membuatku merasa lebih semangat untuk berlatih,” kata Ezra sambil tersenyum. Hal itu berhasil membuat yang lainnya senang.
“Baiklah, kita berangkat!” Cedric beranjak menghampiri pintu keluar diikuti oleh Ezra dan yang lainnya. Begitu keluar dari dalam rumah tempatnya menginap selama ini, Ezra melihat pemandangan luar yang masih tampak cukup gelap. Tampaknya ini masih dini hari, dan bahkan tidak terlalu banyak orang yang bangun untuk beraktivitas sepagi ini.
Ezra memeluk tubuhnya sendiri. Rasa dingin yang mendadak menyeruak begitu dia keluar sungguh membuatnya merasa tidak terbiasa. Tapi melihat yang lain tampak biasa saja, Ezra jadi sebisa mungkin untuk menahan kedinginannya.
Sepertinya yang lain sudah terbiasa bangun dan keluar sepagi ini untuk berlatih, mereka bahkan tidak terlihat kedinginan sama sekali, pikirnya sambil memperhatikan yang lain.
Ezra sama sekali tidak tahu apa yang hendak dipelajarinya hari ini karena Cedric sama sekali tidak banyak bicara dan hanya terus berjalan. Ezra akhirnya sampai di titik dimana dia merasa penasaran dengan latihan yang dimaksud oleh Cedric karena lelaki itu malah menuntun mereka keluar dari desa, dan bukannya malah pergi ke tempat latihan seperti kemarin.
“Cedric, bukankah kau bilang kita akan berlatih? Kenapa kita malah pergi keluar desa?” Ezra mencoba mengimbangi langkahnya. Pria berambut panjang yang selalu diikat itu menoleh sambil tersenyum padanya.
“Aku sudah katakan, kita akan berlatih dengan serius, dan aku sudah meminta anda untuk mempersiapkan diri. Jadi inilah pelatihan yang sebenarnya.”
...***...