
Cedric berlari dengan sekuat tenaganya. Dia berusaha keras untuk mengejar sosok burung yang dilihatnya untuk mengetahui kemana sebenarnya burung bangkai itu pergi. Setelah berlarian sepanjang hutan. Burung itu membawanya semakin dalam ke tengah hutan, sampai pada akhirnya burung bangkai itu berhenti di sebuah tanah yang cukup lapang.
Cedric berusaha untuk mengatur napasnya. Dia berjalan perlahan menuju tanah tersebut, dan di sana dia melihat ada seorang lelaki yang terbaring tidak berdaya di tanah. Cedric yang penasaran lalu mendekat. Ada yang tidak beres dengan orang yang dilihatnya itu.
Begitu tiba di sana, dia membelalakkan matanya saat melihat sosok lelaki yang sejak tadi dia perhatian. Rambut berwarna perak dengan kulit putih bersih yang membuatnya terlihat seperti seorang albino, dan sinar bulan yang membuat sosoknya tampak begitu bersinar, Cedric bisa langsung mengenali sosok itu.
“YANG MULIA!” Cedric bergegas menarik pedangnya. Berlari menuju arah si burung itu dan melindungi Ezra yang terbaring di tanah. Mulutnya mengeluarkan darah akibat racun yang dia terima dari kalajengking sebelumnya. Bahkan luka pada tangannya mengeluarkan bau menyengat yang tidak sedap yang membuat si burung bangkai itu menganggapnya sebagai mayat. Melihat Cedric yang mendadak muncul dan melindungi Ezra, burung itu tidak lantas tinggal diam. Dia menyerang Cedric dengan menggunakan paruhnya yang runcing. Beruntung Cedric adalah kesatria yang selalu siap siaga. Dengan mudahnya dia menangkis serangan burung itu dan segera melakukan serangan balik.
Cedric mengayunkan pedangnya dan menyerang si burung, mencoba untuk melumpuhkannya dengan mencari titik vitalnya. Burung itu pun sama-sama melakukan perlawanan hingga membuat pertarungan keduanya berlalu cukup imbang. Tapi tak lama. Cedric akhirnya memiliki kesempatan untuk melakukan serangan pada tubuhnya. Walau tidak langsung menyerang titik vitalnya, setidaknya serangannya akan mampu membuat pukulan telak yang membuat burung itu mundur.
Cedric melompat, berguling dengan segera sebelum paruh si burung berhasil menyerangnya. Dalam satu gerakan, lelaki itu bangkit dan menusuk sebelah sayap burung itu hingga burung bangkai itu memekik dengan suara melengking yang begitu nyaring. Bersamaan dengan itu, Cedric melihat kepulan asap di kepalanya. Dan mata si burung yang semula menyala kini berubah seperti yang seharusnya.
Cedric menarik pedangnya. Bersamaan dengan itu, tubuh burung itu tumbang dan dia terkapar dengan keadaan terluka. Cedric terdiam memandanginya. “Efek dari sihirnya menghilang. Sudah aku duga, burung ini memang sudah dikendalikan dengan kekuatan sihir hitam.”
Kepulan asap itu melayang dan akhirnya lenyap di udara. Menghilang di langit malam. Burung itu tampak begitu lemah, dia terkulai dan mulai tidak sadarkan diri. Setelah pertarungan yang cukup imbang itu, Cedric lantas mengalihkan atensinya pada lelaki yang semula dilihatnya. Dia berbalik dan mendekati Ezra yang masih dalam keadaan terluka.
“Yang mulia! Yang mulia pangeran, sadarlah!” Cedric berusaha untuk menyadarkannya. Dia sempat diam dan memperhatikan Ezra dari atas sampai bawah.
Sudah aku duga ini memang yang mulia pangeran ketiga. Aku bisa langsung mengenalinya hanya dengan melihat rambut peraknya… tapi, apa yang terjadi? Kenapa beliau bisa seperti ini? Cedric termangu untuk sesaat sebelum akhirnya dia melihat ada sebuah luka pada tubuhnya yang disebabkan oleh gigitan dari kalajengking tadi. Luka itu masih tampak menyala.
Tetaplah di sini, besok aku akan kembali dan mengobati lukamu, batinnya. Setelah selesai melakukan apa yang harus dia lakukan, dia langsung beranjak meninggalkan tempat itu dan pergi menuju desa. Dia sudah berjanji akan bertemu di desa dengan Elara.
...*...
“ARGGHHH!” morgana mengerang penuh kesal. Lelaki itu menjatuhkan seluruh barang yang ada di atas meja hingga semua benda itu berjatuhan dan hancur di lantai. Dia baru saja menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan burung bangkai untuk mencari keberadaan Ezra di seluruh penjuru Netherland. Namun usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil karena makhluk itu malah tidak bisa dikendalikan akibat mencium aroma mayat yang lebih kuat menarik perhatiannya.
“SIAL! BENAR-BENAR TIDAK BERGUNA!” Lelaki itu mengumpat penuh kesal. Tangannya terkepal erat, menghantam meja dengan kepalan tangannya berulang kali hingga permukaan meja itu rusak.
“Sayang, tenanglah. Jangan melakukan sesuatu yang bisa melukai tubuhmu… aku tidak ingin melihatmu terluka sedikitpun.” Ilsa mendekat dan menggenggam tangan morgana. Tangan lelaki itu sampai terluka dan mengeluarkan darah.
“BAGAIMANA MUNGKIN AKU BISA TENANG SEMENTARA BULAN SUDAH MUNCUL?! Pokoknya bagaimana pun caranya, aku harus bisa menangkap dia sebelum ramalan itu terjadi!”
...***...