
“Yang mulia!” Perhatian Ezra dan Gordon seketika beralih ketika mereka mendengar suara Cedric yang baru saja datang menghampiri mereka.
“Cedric.” Ezra beranjak dari tempatnya. Begitu tiba di hadapan mereka, Gordon langsung beranjak bangun dan berpamitan. Dia bilang masih ada hal yang harus dikerjakannya.
“Bagaimana kondisi anda hari ini?” tanya Cedric begitu Gordon pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
“Aku sudah merasa jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.”
“Syukurlah, aku senang mendengarnya. Itu berarti anda siap untuk memulai pelatihan anda.”
“Pelatihan?”
“Ya. Aku akan membantu anda untuk membangkitkan kemampuan dalam diri anda, yang mulia. Itu yang ditugaskan oleh duke Bruce terakhir kali sebelum beliau meninggal.”
“Tapi, bagaimana caranya?”
“Kita akan coba mencari caranya secara perlahan, tapi sebelum itu, anda harus memperkuat kemampuan fisik anda. Jadi aku akan melatih anda beladiri.”
...*...
“Apakah anda pernah belajar beladiri sebelumnya?” tanya Cedric. Mereka berdua kini berada di lapangan tempat berlatih. Lapangan itu terletak di rumah salah seorang penduduk desa yang posisinya berada cukup jauh dari pintu masuk. Di sana, bukan hanya dirinya saja yang berlatih. Tapi ada banyak juga pemuda yang usianya hampir sama dengannya berlatih beladiri.
“Tidak, aku tidak pernah belajar beladiri sebelumnya,” ujar Ezra.
“Baiklah, kalau begitu kita mulai dari hal yang paling mendasar. Anda bisa mengikutiku.” Cedric memasang kuda-kudanya dan memperlihatkan posisi siap untuk bertarung. Ezra yang melihat itu tidak lantas diam saja. Dia mencoba mengikuti apa yang ditunjukkan oleh Cedric.
Cedric memintanya mempertahankan posisi itu sementara dia mulai mengoreksi postur tubuhnya yang sekiranya salah. Begitu posturnya sudah benar, Ezra mulai diajarkan beberapa jurus dasar, seperti tinjuan, pukulan, tendangan, dan cara menangkis serangan musuh dengan tangan kosong.
Ezra awalnya merasa kesulitan, tapi Cedric berusaha untuk tetap sabar dan melatihnya tanpa kenal lelah. Begitu latihan itu terus berlanjut hingga sore menjelang. Hari itu, Cedric hanya melatihnya beberapa hal mendasar, tapi entah kenapa Ezra merasa energinya begitu terkuras habis.
Sore tiba, dan langit mulai berubah warna. Di tempat latihan itu, kini hanya tersisa Ezra dan Cedric saja yang masih berlatih walau keringat membasahi seluruh tubuh mereka.
“Bisakah kita istirahat sebentar saja?” keluh Ezra.
“Kita sudah terlalu banyak beristirahat. Anda tidak akan bisa menguasai hal ini jika anda terus mengeluh. Jadi kita lakukan sekali lagi sebelum malam tiba.”
“Hanya sekali saja, okay? Aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga,” ujar Ezra. Cedric hanya menganggukkan kepalanya. Ezra lantas mengulang kembali gerakan yang dipelajarinya. Tapi karena energinya habis, dia sampai melakukannya dengan tidak bertenaga. Cedric yang melihat itu hanya bisa menghela napas lalu berjalan mendekat dan menyerangnya tanpa peringatan. Dia menggunakan sebelah kakinya untuk menyerang. Menendang kuda-kuda yang dipasang Ezra hingga membuat lelaki itu tersungkur jatuh dengan posisi bokongnya mendarat lebih dulu.
Brukk!
Ezra terduduk di tanah. Dia meringis kesakitan begitu bokongnya menghantam tanah dengan begitu kasar. “Sshhh… kenapa kau melakukan itu?”
Ezra mendongak, menatap Cedric dengan wajah yang sedikit kesal. Cedric benar-benar membuat bokongnya terasa sakit. Alih-alih merasa bersalah, Cedric hanya berdiri dan memandangnya dengan wajah serius. “Ini yang akan terjadi ketika anda tidak menggunakan tenaga anda. Kalau seperti ini, musuh akan lebih mudah menyerang anda, yang mulia.”
“Argh, sakit sekali.” Ezra mengusap bokongnya yang terasa sakit.
“Seharusnya anda melakukannya dengan bersungguh-sungguh, dan dengan menggunakan seluruh energi anda.”
“Aku sudah melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Hanya saja karena energiku habis, aku jadi tidak memiliki tenaga.”
“Anda hanya belum terbiasa. Aku melakukan ini juga agar anda terbiasa untuk melatih ketahanan kaki anda. Ingat, musuh akan selalu mencari titik lemah lawannya. Maka dari itu, sebisa mungkin anda harus memperlihatkan bahwa anda tetap terlihat kuat walau anda kehabisan tenaga. Karena dengan apa yang anda lakukan tadi saja bahkan bisa langsung membuatku bisa melihat kalau pertahanan anda lemah, musuh akan bisa melihat hal itu juga kalau anda seperti ini.”
Ezra menghela napas panjang. “Baiklah, aku mengerti.”
“Karena anda terlihat begitu kelelahan hari ini, mari kita akhiri saja latihannya sampai di sini. Simpan tenaga anda untuk besok, karena mulai besok akan lebih banyak lagi pelatihan yang akan aku berikan.”
“Okay,” gumam Ezra pelan. Dia merebahkan tubuhnya di tanah sambil berusaha untuk mengumpulkan kembali seluruh tenaganya. Ezra terdiam memandangi langit sore yang tampak berubah jingga. Sementara itu, Cedric masih berdiri dan memandangnya.
“Anda tidak ingin langsung beristirahat?”
...***...