
Perhatian mereka bertiga tiba-tiba saja beralih pada suara ramai yang berasal dari lapangan di tengah desa. Mereka menoleh bersamaan dan melihat beberapa orang pemuda yang baru saja kembali dari berburu. Mereka semua datang bersama dengan membawa hasil buruan yang begitu banyak hingga membuat semua penduduk yang datang dan menyambutnya bersorak memuji mereka.
“Hebat! Mereka membawa tangkapan besar yang begitu banyak!” Osric tersenyum memandangi teman-temannya yang datang dengan hasil buruan mereka. dari yang dilihat, mereka berhasil menangkap beberapa ekor rusa berukuran yang ukurannya dua kali lebih besar dari rusa yang ada di dunia atas. Bukan hanya itu, bahkan mereka berhasil menangkap dan membawa lebih dari satu rusa.
“Sepertinya hari ini kita akan berpesta dengan semua daging hasil tangkapan itu!” Everly tersenyum senang.
“Kau benar. Hasil tangkapan mereka bahkan bisa untuk dijadikan sebagai jamuan pesta.” Ezra menimpali.
“Ah, pantas saja mereka datang dengan membawa hasil tangkapan yang begitu banyak. Ternyata ada Gawain yang ikut berburu dengan mereka. Gawain memang luar biasa! Selain tampan, dia juga hebat dalam berburu.” Everly semakin melebarkan senyumannya.
“Kau kenal dengan Gawain juga?” Ezra melirik pada Everly. Dia tidak menyangka kalau wanita itu juga akan kenal dengan Gawain. Padahal selama ini Ezra perhatikan Everly adalah wanita yang selalu sendiri dan jarang berinteraksi dengan yang lain selain mereka berdua.
“Tentu saja. Semua orang tahu dengannya. Dia adalah pemuda paling berbakat di desa, dia punya keahlian beladiri yang begitu hebat, dan wajahnya tampan. Banyak gadis yang berusaha mendekatinya.”
“Dan kau mengaguminya?”
“Ya, siapa yang tidak kagum dengan sosoknya?” Everly sama sekali tidak bisa berhenti memandangi Gawain yang sejak tadi berdiri di sana sambil tersenyum di antara kerumunan para gadis desa yang menyambutnya datang.
Ezra hanya bisa tersenyum menanggapi Everly yang begitu bersemangat membahas tentang Gawain. Harus Ezra akui kalau lelaki itu memang hebat. Sejak awal Ezra berlatih saja, Gawain sudah menyita perhatiannya karena memiliki kemampuan beladiri yang hebat, dan kalau dari segi penampilan, dia memang cukup tampan seperti yang Everly katakan.
Sementara itu Osric yang mendengar Everly membesar-besarkan nama Gawain itu hanya bisa meliriknya dengan kesal. “Kau pikir hanya karena dia hasil tangkapannya jadi sebanyak itu? Lihat! Ada teman-teman lain yang membantunya. Kau tidak bisa bicara bahwa itu hanya karena ada Gawain bersama mereka!”
“Tapi memang karena ada Gawain hasil buruannya jadi banyak.”
“Belum tentu. Kemampuan yang lain kan tidak sebanding dengan Gawain.”
Everly dan Osric ujung-ujungnya malah bertengkar hanya karena membahas mengenai hasil perburuan yang dibawa oleh Gawain dan teman-temannya. Semakin lama perdebatan mereka tidak mencapai akhir, hingga membuat Ezra berusaha melerai mereka berdua.
“Akui saja bahwa kau hanya cemburu karena kemampuanmu tidak sehebat dia kan!” Everly menatap Osric dengan tak kalah sengit. Wajah lelaki itu mendadak berubah merah padam, dia kesal dan tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan Everly padanya.
“Kau begitu mengagung-agungkan kemampuannya, kau pikir dia yang terhebat? Akan aku buktikan bahwa aku juga bisa mendapatkan hasil buruan yang tidak akan banyak, dan bahkan kalau mau aku bisa membawa pulang hasil buruan yang lebih banyak!” tukas Osric tak mau kalah.
“Omong kosong! Jangan hanya bisa bicara tanpa bisa membuktikan apa-apa.”
“Aku tidak bicara omong kosong. Lihat saja! Besok aku akan berburu dan aku akan membawa pulang lebih banyak hasil buruan dari pada yang dibawa Gawain. Kalau perlu aku akan membawanya langsung ke hadapanmu untuk membuktikannya!”
“Okay, kalau begitu buktikan! Aku baru akan percaya kalau ucapanmu itu benar.” Everly beranjak dari sana dengan wajah kesal. meninggalkan Osric Ezra yang merasa usahanya mendamaikan mereka sama sekali tidak membuahkan hasil.
“Lihat saja! Akan aku buktikan.” Osric mengepalkan tangannya lalu beranjak meninggalkan Ezra seorang diri di sana.
Ezra terdiam sambil memandangi kedua sahabatnya yang pergi secara bergantian. Menanggapi sikap mereka membuatnya hanya bisa menggelengkan kepala pelan. “Tingkah mereka malah jadi seperti sepasang kekasih yang bertengkar karena cemburu.”
...***...