Esnared By A Mad King

Esnared By A Mad King
BAGIAN 09



...SELAMAT MEMBACA ...


Bagai permata safir yang bersembunyi di kegelapan, mata biru Rowan berkilat saat diterpa sinar bulan yang menerabas dari jendela sayap yang terbuka lebar, membiarkan angin bermain dengan tirai transparan disana sedangkan pemilik kamar tak pernah melepaskan pandang dari wanita yang masih terbaring di ranjangnya.


Mengenakan dress putih polos selutut, punggung dan belahan dada wanita tersebut terekspos. Kulit putih mulus bak porselennya sungguh menawan saat tersorot cahaya bulan ditambah rambut blonde panjang yang terurai nampak berkilau dan sepasang bulu mata lentik yang senantiasa merunduk karena kelopak mata sang wanita masih terkatup. Mata Rowan lantas berakhir pada salah satu betis selirnya, terbalut perban. Itu ulahnya empat hari lalu dan wanitanya belum juga sadar karena diberi semacam sihir tidur agar tidak mengamuk saat dalam perjalanan dan Liav berkata seharusnya malam nanti sudah terbangun.


Rowan meninggalkan sofa, menghampiri sang wanita lalu duduk di tepi ranjang. Jemarinya menari-nari di sekitar wajah sang selir lalu berakhir dengan ibu jari yang mengusap lembut bibir kering dan pecah-pecah selirnya.


"Kalau kamu tidak keras kepala, aku tidak akan bertindak sampai seperti ini." 


Pandangan Rowan menggelap saat melihat kaki Ziria tersemat borgol, kali ini rantai itu terlihat seperti gelang kaki mewah, elegan, ringan dan tidak akan meninggalkan bekas. Rowan membuat Emine lembur untuk membuat benda tersebut dari serpihan batu mana kingtrix yang menyimpan mana kegelapan sangat besar.


"Aku sangat ceroboh waktu itu. Kalau sedikit saja terlambat, kamu pasti akan benar-benar pergi dariku. Seharusnya kuhancurkan saja inti Manamu, tapi bagimu sihir adalah segalanya dalam hidupmu." 


Dahi Rowan mengernyit getir bersama tangan kiri  beralih menelusup untuk menyentuh pusat perut Ziria, dimana inti Mana istrinya berada. Di sisi lain, rasa panas dan kasar yang dirasakan di tengah kesadarannya membuat Ziria melenguh pelan, lantas kepalanya bergerak ke kiri dan mendapati siluet pria gagah duduk di sisinya. Aroma kayu hitam yang menimbulkan sensasi menenangkan itu sangat dikenali oleh Ziria, hanya satu orang dengan aroma tubuh memabukkan seperti itu, Rowan Terrence, suaminya.


"Padahal aku berharap saat membuka mata kamu hilang dari hadapanku." Suara Ziria terdengar lirih.


Rowan mengulas senyum lantas tangannya menyingkir dari perut Ziria, beralih menangkup sebagian rahang wanita itu sambil mendaratkan kecupan singkat di bibir.


"Selamat malam, Sayang." 


Walau samar, Ziria bisa lihat bibir tebal Rowan melukis senyum puas namun tersimpan kemarahan di balik tatapannya, pria yang terobsesi padanya sungguh mengerikan.


"Mau kuambilkan sesuatu?" Rowan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi pandangan Ziria.


Ziria menepis tangan Rowan dan berusaha untuk bangun namun betisnya seperti tersengat sampai ia kembali berbaring sambil menahan keluhan rasa sakit tersebut. Sudut mata Ziria berair lalu diliriknya sumber rasa sakit tersebut, ia lupa kalau pria gila di hadapannya memberi luka disana.


Rowan hanya tersenyum melihat ketidakberdayaan sang istri lantas pria itu bergerak untuk menuang air dan memberikannya pada Ziria.


"Minumlah." 


"Aku tidak ma—" 


Penolakan Ziria terputus karena Rowan langsung menangkap dagunya, memaksakan air itu masuk ke mulutnya hingga kedua sudut bibirnya dibanjiri oleh air dari gelas yang tiba-tiba.


Uhuk! Uhuk!


Sambil menyentuh leher, Ziria terbatuk dan sekarang kerongkongan yang terasa kering dan sakit menjadi lebih baik.


"Kenapa kamu selalu bersikap kasar!" 


"Jika kamu menurut aku tidak akan bersikap demikian." 


"Baj*inga— Ah!" 


Rowan langsung mengangkat tubuh Ziria setelah disampirkan mafela lalu keluar dari kamar, membawa wanita itu berjalan di koridor yang senyap, tak ada penerang, semua benar-benar mengandalkan sinar bulan karena tirai-tirai jendela disimpul. 


"Kamu mau membawaku kemana sekarang?" Ziria meremas kuat sepasang bahu Rowan.


"Berkeliling. Kamu sudah empat hari di kamar dan sekarang butuh udara segar." 


Rowan terkekeh dan terus berjalan hingga berada di taman belakang yang tidak ada siapapun, ada danau di sana.


"Aku akan menghangatkanmu." 


Ziria tidak bicara lagi dan memilih diam. Kemudian mereka mendekat ke bibir danau, ada sebuah perahu indah yang diikat pada ujung jembatan dan penuh kehati-hatian Rowan menaiki perahu tersebut, membawa Ziria untuk duduk terlebih dahulu sebelum melepas tali dan mulai duduk di hadapan istrinya sambil mendayung perlahan, menjauhi tepi danau.


"Aku yakin kamu tidak bisa tidur setelah terbangun dari tidur panjang." 


Rowan terus memperhatikan ekspresi wanita tersebut, selalu saja ada kemarahan disana. Namun, Rowan menyukai ekspresi itu, tidak, Rowan menyukai semua ekspresi yang Ziria tunjukkan.


"Padahal aku menyelamatkan kalian semua." Ziria memusatkan pandang pada pantulan bulan di permukaan danau.


"Ya, benar. Sayang sekali, jika kamu tidak membunuh Kingtrix aku pasti sudah menghukummu sangat keras."


Ziria mengeritkan gigi, Rowan selalu saja bisa menjawabnya! Melihat Rowan masih bisa mengulas senyum sungguh membuat Ziria kesal setengah mati, tapi ia tahu betul apa yang akan membuat pria itu menunjukkan raut ketakutan.


"Hei, Rowan." 


Ziria menatap Rowan dan tersenyum manis. Dalam sekejap jantung Rowan berdebar lebih cepat dan angin terasa berdesir lebih lambat, pergerakan tangan Rowan saat mendayung pun berhenti.


"Kamu tahu apa yang paling kusuka darimu saat ini?" Ziria bertanya sambil berdiri, mendongak untuk melihat indahnya bulan.


"Apa itu?" Rowan berusaha mempertahankan wajah dinginnya.


Ziria menurunkan pandang, menatap Rowan dengan penuh kekesalan. "Melihatmu menunjukkan ekspresi gila seperti waktu itu." 


Setelahnya Ziria menjatuhkan diri ke sisi kanan perahu hingga sepasang mata Rowan melotot. 


"Ziria!" 


Bulan masih terlihat dari permukaan danau namun, Ziria memejamkan matanya dan membiarkan air danau yang terasa dingin seolah menyayat-nyayat kulitnya, semakin lama Ziria merasa dadanya penuh dan sesak namun itu cukup menyenangkan karena Rowan kembali menggila hanya karena dirinya mencoba menyakiti diri.


Jika mati begini, kurasa tidak apa-apa.


Senyum Ziria kembali terlukis, rasanya ia semakin ditarik ke dalam danau, cahaya sudah tak terlihat namun tangan besar melingkar erat di pinggulnya. Ziria tidak terkejut, jelas sekali bahwa itu Rowan jadi Ziria tidak perlu membuka mata sampai akhirnya napasnya terlepas mendadak setelah dibawa ke permukaan oleh Rowan.


"Kamu benar-benar menguji kesabaranku, Ziria!" 


Wajah Rowan telah diselimuti amarah, namun berbeda dengan Ziria yang justru tersenyum puas nan angkuh sambil mengalungkan tangan di leher jenjang Rowan. 


"Aku akan terus melakukannya sampai kamu muak denganku." 


Keduanya sudah tidak peduli dinginnya air danau dan angin malam menyatu, atau mungkin hati keduanya pun akan membeku sangking dinginnya perasaan satu sama lain.


Rahang Rowan mengeras, lalu didorongnya tengkuk Ziria penuh tekanan, menyumpal mulut wanita itu dengan bibir yang penuh, mengabsen setiap sisi dalam mulut sampai istrinya kesulitan bernapas.


"Lakukan itu setiap hari karena aku tidak akan pernah bosan padamu." Rowan melepas pangutan lalu membalas tatapan sengit Ziria.


...BERSAMBUNG ......