
...SELAMAT MEMBACA...
Zerad berada di menara sihir, tepat magdia berada. Batu tersebut semakin redup karena tidak menerima energi. Oleh karena itu, pembangunan mulai terhambat.
Jika ayahnya masih sehat dan mengetahui kekacauan Syremis saat ini, mungkin posisinya sebagai Penguasa sementara akan dicabut dan jika itu terjadi, Zerad tidak punya pilihan selain mengotori tangan lebih jauh, tapi Zerad masih memiliki harapan jika Ziria kembali. Wanita yang bahkan tidak tahu dibalik kebenaran mengapa dirinya diangkat sebagai keluarga kerajaan.
"Sial! Kalau saja aku tidak ketahuan oleh Rowan, semua pasti berjalan lancar!"
Zared berdecak lalu meninggalkan menara sihir. Lagi pula ia tidak perlu berkecil hati karena perintah telah diturunkan pada Felix untuk membawa Ziria kembali secepatnya dan dengan begitu energi Magdia akan kembali meluap dan membuat Syremis kembali disebut kerajaan abadi.
Sementara itu, di Istana Permaisuri.
Beberapa dayang memejamkan mata setiap kali benda terlempar ke arah mereka. Jika menghindar, Clair akan lebih murka jadi mereka hanya diam sambil memastikan bahwa amarah Clair akan reda.
"Anda akan menyakiti diri sendiri, Permaisuri."
Para dayang bernapas lega saat Felix muncul dan mendekap Clair penuh kelembutan membuat amarah dari mata sang permaisuri redup. Lantas Felix melirik para dayang diiringi senyum kecil, pertanda bahwa mereka bisa meninggalkan Clair bersamanya dan kini hanya mereka berdua dalam kamar penuh kekacauan tersebut.
"Apa yang terjadi, Permaisuri?" Felix menuntun Clair duduk di tepi ranjang, mengusap lembut punggung wanita itu.
Hati Clair sedikit menghangat lantas menjatuhkan diri lebih dalam pada dekapan pria berambut perak tersebut. Aroma vanila dari Felix sungguh menenangkan Clair namun emosinya tetap tidak hilang.
"Jal*ng itu merusak segalanya! Bagaimana bisa dia sudah menghabiskan malam bersama Rowan! Jika terus begini, penerus kerajaan akan lahir dari rahim ******* itu!"
Felix mengerutkan dahi. "Yang Mulia memiliki selir?"
"Ya. Dia wanita rampasan perang di Syremis, putri tertua kerajaan itu."
Felix tersentak. Jika itu putri tertua berarti dia adalah Ziria Vendetta. Saat perang terjadi, Ziria mungkin sibuk mengisi Mana ke magdia sehingga gagal menjaga diri sendiri sementara dirinya memang pergi ke tempat yang jauh untuk mengurus beberapa monster merepotkan seperti naga dan itu menghabiskan waktu selama dua bulan.
"Apa yang harus kulakukan sekarang, Felix?"
Clair menangkap rahang Felix, memandang lekat pria tersebut dengan mata penuh air mata. Sejujurnya, Felix tidak nyaman setiap kali wanita itu menyentuhnya namun, rasanya menyenangkan setiap kali melihat Clair yang hilang kendali.
"Berikan perintah apapun pada saya, Permaisuri."
Clair tampak berpikir kemudian senyumnya mengembang. "Tidak. Aku tahu apa yang harus kulakukan."
...***...
Tidak ada Rowan saat bangun di pagi hari adalah hal membahagiakan bagi Ziria, tapi sepertinya tidak untuk hari ini.
Baru selesai sarapan dan jalan-jalan di sekitar Paviliun yang tak jauh dari Istana Sol, Ziria justru berpapasan dengan pria asing berambut kelimis, tersenyum sambil mengarahkan sebuket bunga tulip padanya.
Mark dan Paolo langsung pasang badan, mencekal gagang pedang sambil menatap sengit si pria.
"Dia Kasion, putra tertua Baron Jils." Donna berbisik pada Ziria.
"Apa-apaan ini, Sir Kasion?" Mark maju selangkah, melirik sinis bunga di tangan pria itu.
"Jangan salah paham, Tuan kesatria. Saya datang untuk memberi salam saja pada Sang Selir." Kasion mengulum senyum sambil mengarahkan bunga pada Ziria yang berdiri di belakang dua kesatria tersebut.
"Terima kasih sudah menyapa saya, Sir Kasion." Ziria tersenyum sambil meraih bunga tersebut.
Wajah Kasion berseri, tapi dalam sekejap wajahnya berubah suram melihat bunga pemberiannya merosot dari genggaman Ziria, jatuh ke rerumputan sampai kelopaknya berserakan.
"Ah, maaf. Tangan saya tidak memegangnya dengan baik." Ziria menyesal.
Kasion menyentuh tengkuk dengan canggung sambil tersenyum paksa. " Tidak masalah, Selir. Kebetulan Saya ingin lebih dekat dengan Anda, bisakah kita minum teh bersama?"
Donna menautkan alis sedangkan Mark dan Paolo mengepalkan tangan. Namun, Ziria tak merasa situasi saat ini sulit baginya karena tahu betul bahwa Kasion datang kemari bukan karena keinginan sendiri, itu pasti perintah Clair.
Ziria lantas menunjukkan sorot mata penghakiman dan tidak senang terhadap ajakan tersebut hingga Kasion sedikit beringsut ke belakang.
"Sangat disayangkan, Sir Kasion. Menerima pria lain di saat Yang Mulia tidak ada disini bukanlah hal baik untukku dan dirimu. Selain itu, Yang Mulia pasti tidak akan senang saat tahu kamu mendatangiku dengan cara seperti ini seolah hendak memancing rumor negatif diantara kita."
Ziria langsung menyerang fakta yang ada. Enggan berbasa-basi lagi karena banyak pasang mata mengamati. Para penghuni masih membencinya dan pasti akan menggoreng berita yang belum pasti kebenarannya untuk menjadi rumor mengerikan.
Kasion terbelalak namun bersikeras menampik perkataan Ziria. Pria itu bahkan secara langsung mengatakan bahwa dirinya sangat mengagumi sosok Ziria yang seperti malaikat dan yang lebih parahnya lagi, lelaki itu merubah ekspresi menjadi lebih bernafsu.
Apa-apaan orang ini?! Ziria menjadi tak nyaman.
"Saya bisa mengusir rasa bosan Anda sampai Yang Mulia kembali!"
Kasion menangkup kedua tangan Ziria hingga raut keterkejutan menghias wajahnya namun itu hanya seperkian detik sampai Mark menendang perut Kasion hingga tersungkur.
Selama di Syremis, tidak satupun orang berani bersikap kurang ajar padanya tapi sejak berada di Vetezia, perlakuan semacam ini semakin parah. Rasa jijik seolah menggelitik kedua tangan yang habis ditangkup Kasion, Ziria merasa marah.
"Saya akan membawanya pergi, Nyonya." Paolo yang biasa diam langsung bersuara sambil menarik kerah belakang Kasion, hendak menyeret pria itu keluar, tapi Ziria mencegahnya sejenak.
Kasion tersenyum saat Ziria menghampirinya, berpikir bahwa wanita itu berubah pikiran. Lagi pula, selama ini tidak ada yang menolak ajakannya jadi mustahil ia ditolak oleh selir yang diperlakukan seperti budak oleh Raja.
Plak!
Eh?
Wajah Kasion tertoleh cukup cepat ke samping bersama rasa panas yang membakar setengah wajahnya. Wanita itu ... selir raja baru saja menamparnya.
"Jika Yang Mulia kembali, bersiaplah kehilangan kedua tanganmu itu!" Ziria lantas berbalik dan pergi dari sana ditemani Donna.
Paolo yang tercenung beberapa saat langsung tersenyum puas kemudian mengeret Kasion keluar dari Paviliun Et Luna. Mark pun ikut bersama Paolo demi memastikan bahwa Kasion tak kembali lagi.
"Hei, Sir Kasion." Mark memanggil saat Kasion yang diliput kemarahan dan rasa malu hendak pergi.
Kasion menoleh dan mendapati Mark menunjukkan ekspresi menyebalkan sambil menggesekkan ibu jari di leher jenjang, seperti memotong leher sendiri.
Mark lalu berujar, "Matilah kamu saat Yang Mulia kembali."
...BERSAMBUNG ......