Esnared By A Mad King

Esnared By A Mad King
BAGIAN 13



...SELAMAT MEMBACA...


Clair memandang rendah Kasion yang bersimpuh di depan kakinya. Putra baron tersebut datang setelah gagal menggoda si selir padahal cukup membuat adegan mesra tanpa penolakan lalu menyebarkan rumor, cukup itu saja tapi Clair malah mendengar cerita memuakkan Kasion. Pria yang pernah menghangatkan ranjangnya tersebut justru ditendang dari Et Luna! Menyebalkan sekali padahal perintahnya tak begitu sulit.


"Jangan muncul lagi di hadapanku." Clair berujar tanpa memandang Kasion lagi.


Kasion memeluk kaki Clair. "Bagaimana bisa Anda memperlakukan saya begini, Permaisuri?" 


Clair menyebikkan bibir. Kasion memiliki rupa rupawan dan tubuh cukup bagus, tapi dibandingkan Felix yang berdiri di balik sofa tempatnya duduk, Kasion tidak ada apa-apanya lagi. 


"Hah! Jika kamu tidak bisa melakukan pekerjaan dengan baik, enyahlah dari hadapanku!" 


Kaki Clair bergerak kasar. Kasion yang terdorong langsung melirik Felix dengan sinis. Jika bukan karena segala kuasa yang dimiliki Clair, Kasion bahkan tidak sudi menyembah sampai demikian namun keluarganya yang baru memasuki lingkup para bangsawan membutuhkan dukungan besar agar tidak tersingkir lebih cepat. 


"Saya akan datang lagi dan memberikan hasil yang terbaik. Jika saya berhasil, apakah Anda masih menginginkan saya, Permaisuri?" 


Kasion menyentuh dada, menunjukkan raut wajah penuh kepedihan dan harap. Clair lantas mengulum senyum, menangkup lembut wajah Kasion. "Tentu saja.  Jika kamu berhasil, akan kukabulkan satu permintaanmu." 


Wajah Kasion berseri, semangatnya kembali meledak sementara Felix diam sambil memandang tak bersahabat pada Clair yang hendak menyakiti Ziria. 


Sementara itu, di Paviliun Et Luna. Donna mengembuskan napas saat melihat Ziria terlelap setelah mencuci tangannnya berkali-kali sampai merah. 


"Bagaimana keadaan, Nyonya?" Mark bertanya cemas.


Pria yang mengaku sebagai penggemar berat setelah melihat Ziria menembakkan sihir ke kingtrix itu datang bersama Paolo.


"Dia sangat kesal," jawab Donna.


Paolo melirik telapak tangan Ziria yang memerah kemudian berujar, "Aku akan menyampaikan hal ini pada Yang Mulia."


"Yang Mulia mempercayakan Nyonya pada kita. Jika kamu menyampaikan ini, pekerjaan Yang Mulia pasti terganggu." Mark mendekati Paolo.


Paolo diam sejenak lalu melirik Donna. "Orang di belakang Kasion pasti Permaisuri. Jika sesuatu lebih buruk terjadi dari ini, kita tidak bisa berbuat apapun tanpa Yang Mulia." 


Mark dan Donna terhenyak kemudian saling pandang sebelum menyetujui perkataan Paolo.


"Biar aku yang pergi." Mark menawarkan diri.


Paolo geleng kepala. "Kamu cukup menghibur Nyonya, jadi tetaplah disini. Aku akan kembali bersama Yang Mulia, jadi pertajam lagi penjagaan kalian." 


"Serahkan pada kami!" 


...***...


Rowan dan Jonath baru selesai menyelesaikan penyeludupan senjata api di pasar gelap juga menangkap akar dari tindakan separatisme di Vetezia. Tidak terasa telah menghabiskan waktu dua pekan untuk menyelesaikan masalah tersebut. 


Kali ini, Rowan akan pergi mengurus lelang ilegal yang memperdagangkan manusia sebagai budak. Akan tetapi, saat dalam perjalanan kesana kereta kudanya dihalangi oleh seorang pria. 


Rowan turun saat mengenalinya hanya dalam satu lirikan. Pria itu sudah berada di depan pintu kereta kuda sambil memberi hormat padanya juga Jonath.


"Apa yang terjadi padanya?" 


Tanpa perlu berpikir lebih lama penyebab kehadiran Paolo, Rowan langsung memasang sikap yang hendak menerkam siapapun. 


"Itu ..., " 


Paolo masuk ke dalam kereta kuda dan menyampaikan semuanya termasuk cerita Donna saat Ziria datang ke tea party permaisuri. 


"Sialan!" 


Kedua tangan Rowan yang terkepal menunjukkan urat besar, menahan kemarahan yang sudah ada di ubun-ubun.


"Kembalilah, Yang Mulia. Lelang ilegal ini akan saya selesaikan dengan cepat." Jonath masuk dalam perbincangan lalu melirik ke arah luar jendela dimana pasukan yang mereka bawa bersembunyi layaknya assasin.


Rowan lantas keluar dari kereta kuda, langsung memisahkan diri dan kembali bersama Paolo. 


...***...


Ziria memijat pelipis frustasi. Terakhir kali Kasion datang dan memberi bunga adalah delapan hari lalu dan sejak saat itu putra baron tersebut entah dari mana terus datang ke Paviliun Et Luna dan yang lebih parah menyelinap di tengah malam dan berpapasan dengannya di taman. 


Pertemuan mereka di taman menyebar seperti api di tumpukan jerami kering, tidak bisa dibendung karena semakin hari kian membesar apinya, menciptakan rumor tak mengenakkam di seluruh istana. Keamanan Ziria pun tidak diperketat, semua penghuni disana kecuali Donna dan Mark justru berharap dirinya berada dalam situasi sulit.


"Jelas sekali ada pelayan dari istana Permaisuri di Paviliun ini. Mereka pasti sudah menanti kejadian itu lalu menyebarkannya." Ziria menunduk sambil mengembuskan napas.


Dia sungguh tidak peduli jika orang-orang mulai menunduhnya berselingkuh atau apapun karena yang membuat ia risih adalah Kasion yang tidak bisa berhenti mendekatinya bahkan secara terang-terangan segelintir pekerja pria berusaha menggodanya karena mengira dirinya mau ke pria manapun saat Rowan tidak ada. Maka dari itu, ia harus berada di kamar selama sepekan bersama Mark dan Donna.


Kalau saja borgol sihir dengan rantai tak kasat mata di kedua kakinya tidak ada, Ziria yakin bisa bergerak lebih leluasa misalnya berlari saat ada Kasion, tapi borgol itu membatasi langkahnya.  


"Kapan tuan kalian kembali?" 


Ziria meringkuk di ranjang sambil memeluk kedua lutut, kepalanya menunduk dan enggan menatap wajah lelah dua kesatria yang setia menemaninya.


"Sebentar lagi Paolo pasti datang bersama Yang Mulia." Mark berusaha menenangkan. 


Sudah sepekan, tapi Paolo belum juga datang dan Mark semakin khawatir pada kondisi istana yang tidak menentu. 


Duar!


Suara ledakan terdengar dari luar kamar. Donna langsung memeluk Ziria sementara Mark berusaha untuk mengintip keluar, mendapati asap mengepul dan memenuhi kamar.


sebelum kabut asap benar-benar menyelubungi kamar, Mata Ziria menangkap Mark yang tiba-tiba kepalanya dipukul tongkat kayu besar hingga berdarah sebelum terjatuh ke lantai. 


"M-mark!" 


Ziria berteriak, tapi seseorang langsung menariknya dari Donna. Ziria tidak melihat apapun kecuali tebalnya kabut asap kemudian terdengar Donna meneriaki namanya, tapi suara itu kian redup dan Ziria sadar bahwa dirinya sudah berada di halaman belakang, dimana ada danau tempatnya dan Rowan pernah naik perahu di malam hari. 


"Kerja bagus. Kalian boleh pergi." 


Kasion muncul dari balik orang-orang bertopeng yang membawa Ziria kesana. Lalu, pria berwajah mesum tersebut menatap Ziria cukup liar, mengamati selir sang raja dari atas sampai bawah.


"Saya sudah menyiapkan kereta kuda. Kita harus berangkat sekarang, Selir." 


Kasion menyentuh beberapa helai rambut blonde Ziria yang berkilau saat malam hari, tapi tangannya ditampik kasar.


"Menjauh dariku, baj*ngan!" 


Ziria berdiri agak sempoyongan. Kepalanya terasa pening karena asap tadi, penglihatan pun sedikit buram.


"Tsk! Hanya selir dari kerajaan pengkhianat saja kamu terus menolakku! Dasar tidak tahu malu!" 


Ah!


Ziria tersungkur saat Kasion menamparnya cukup kuat.


"Apakah rasanya sakit? Aku hanya membalikkan tamparanmu di awal pertemuan kita." Kasion berjongkok di hadapan Ziria, menyelipkan rambut yang menghalangi wajah si selir.


Ziria mengeritkan gigi sambil meremas kuat rerumputan tempatnya tersungkur kemudian melempar rumput bercampur tanah yang dicabut paksa ke wajah Kasion hingga pria itu memaki dan meraung karena matanya dimasuki banyak tanah.


"Sialan!" 


Mata Kasion sangat merah, ia menatap berang Ziria lalu mendekat sambil menarik kasar lengan pakaian Ziria hingga koyak. 


"Persetan dengan membawamu pergi dari sini! Lebih baik kamu kuhabisi disini, menyentuhmu hingga ke tulang dan dengan begitu Yang Mulia bahkan tidak akan melirikmu lagi!" 


...BERSAMBUNG ......