Esnared By A Mad King

Esnared By A Mad King
BAGIAN 19



...SELAMAT MEMBACA...


Sudah tiga hari berlalu tapi Rowan selalu acuh, setiap kali mereka bertemu maka Rowan selalu menghindar bahkan enggan menatapnya terlebih Syerin selalu berkeliaran di sekitar Rowan.


Ziria merasa bahwa dirinya benar-benar dibenci eleh Rowan ditambah ia mendapat fakta bahwa Felix bukan menyamar sebagai pelayan biasa melainkan selir permaisuri maka dari itu pria itu bisa selamat.


Felix sendiri terlihat senang karena rencananya berjalan lancar. Sebelum membawa Ziria kembali, pria itu berniat membuat keduanya saling bertengkar dan tidak peduli sama sekali. Dengan begitu, Ziria akan kembali ke Syremis tanpa keraguan.


"Yah, lagipula dari awal Ziria bukanlah miliknya. Berani sekali bedebah sepertinya membawa Ziria ke Vetezia setelah menghancurkan sebagian Syremis." gumam Felix.


"Sebentar lagi, aku harus menahan diri." Felix menutup mulut, menyembunyikan seringai.


Sementara itu, Ziria duduk di kamar sambil memperhatikan Donna yang mengundang seorang perancang busana. Dua hari lagi akan ada pesta di istana, pesta yang digelar karena Raja berhasil menaklukkan monster tingkat tinggi kemarin dan monster itu seekor naga, luar biasa. Maka dari itu, pesta nanti akan menjadi jamuan besar karena kebanyakan dari mereka adalah para kesatria yang telah bekerja keras.


Di sisi lain, Syerin berusaha menahan rasa kesalnya karena sejak dipanggil ke istana untuk menemani Raja, tak sedikitpun dirinya di sentuh.


Rowan hanya ditemani sepanjang malam, pria itu begitu acuh tapi ketika mereka berhadapan dengan Ziria maka perlakuannya menjadi sangat hangat. Syerin sadar bahwa dia hanya dijadikan alat tapi ini juga adalah kesempatan untuk meraih posisi sebagai selir.


...***...


Sehari sebelum pesta digelar, Ziria memutuskan untuk menemui Rowan karena sudah tahan diabaikan namun saat sampai di ruang kerja pria itu, ia justru mendapati Syerin duduk di meja kerja dengan Rowan berdiri di depannya. Tangan Syerin mengalung di leher jenjang suaminya itu kemudian jarak antar wajah mereka hanya terpaut beberapa centimeter.


"Ah, ternyata ada Selir Ziria." Syerin tersenyum.


Rowan hanya melirik melalui ekor mata lalu memilih mendaratkan kecupan di leher jenjamg Syerin hingga wanita itu sedikit mendesah pelan. Menyaksikan hal itu, tangan Ziria terkepal, berusaha agar matanya tidak berkaca-kaca karena hatinya seperti tersengat melihat adegan itu.


"Abaikan saja dia. Kita lanjutkan saja apa yang baru saja kita lakukan," ujar Rowan pada Syerin.


Syerin mengerjap, senyumnya mendadak kaku. Padahal di awal dia yang berusaha menggoda dan Rowan sudah hendak murka tadi tapi sejak Ziria datang, pria itu jadi berubah pikiran.


"Saya akan malu, Yang Mulia. Silakan bicara dulu dengan Selir Ziria."


Rowan mendengus dan menatap Syerin dongkol kemudian menghampiri Ziria.


"Ada apa?" tanyanya agak ketus.


"Aku dan selir permaisuri tidak memiliki hubungan apapun."


"Lalu bagaimana kalian bisa bersama dalam kamar malam itu?"


Ziria diam, ia sulit menjawabnya dan hal itu membuat Rowan tertawa pendek. "Seharusnya kamu senangkan karena aku tidak lagi mengusikmu. Pada akhirnya aku mulai bosan padamu, jadi kamu mulai gelisahkan?"


"Apa?" Ziria mengerutkan dahi tidak percaya.


"Sekarang, bagiku kamu bukan apa-apa. Jika kamu ingin kabur pun aku tidak peduli, tapi yah itu jika kamu bisa meninggalkan tempat ini." Rowan membelai wajah Ziria, berharap kali ini wanita itu menangis atau tersakiti.


Akan tetapi, ketika Ziria sungguh mengeluarkan air mata dan terlihat amat kecewa, Rowan justru tergugu, hatinya terasa pedih dan amat bersalah.


Ziria buru-buru menyeka air mata dengan kedua tangan lalu menatap Rowan dengan tegas. "Ya, aku senang mendengarnya."


Setelah berkata demikian, Ziria pergi dari sana sementara Rowan membeku pada posisinya.


"Anda baik-baik saja, Yang Mulia?" tanya Syerin.


Rowan mengembuskan napas kasar. "Kembalilah ke kediamanmu. Kita bertemu lagi saat pesta."


Walaupun tidak terima, pada akhirnya Syerin segera pergi lalu Rowan kembali ke ruang kerja setelah memanggil kepala pelayan untuk mengganti meja kerjanya karena telah diduduki oleh Syerin.


Setelah meninggalkan tempat Rowan, Ziria menemui Felix di tempat yang sepi.


"Aku akan kembali ke Syremis."


Senyum Felix merekah amat lebar. "Senang mendengarnya, Ziria."


...***...


Donna, Paolo, Mark, dan Samuel ikut hadir dalam pesta. Mereka tidak menggunakan seragam kesatria, melainkan pakaian formal yang biasa dipakai untuk menghadiri pesta.


Para bangsawan terpandang pun hadir, pesta digelar cukup meriah dengan jamuan makan yang melimpah sehingga para kesatria begitu gembira.


Marchioness Balaran tampak asik berbincang dengan Ziria sementara di lain sisi Rowan dan Clair duduk bersama. Yah, karena keduanya adalah Raja dan Permaisuri Vetezia namun kali ini Rowan benar-benar tidak melirik Ziria sehingga segelintir tamu mulai membicarakannya, tentang Rowan yang pada akhirnya bosan pada selir dari Syremis tersebut.


Ziria tidak peduli karena baginya malam ini adalah hari terakhirnya di Vetezia.


"Maukah kamu berdansa denganku?" Mark mengulurkan tangan pada Donna ketika musik telah dimainkan.


"Aku akan menginjak kakimu berkali-kali."


Mark tertawa keras sambil menghentakkan kakinya. "Maka dari itu aku memakai sepatu dengan kulit yang keras!"


Bukan hanya Mark maupun Donna, para tamu dan pasangannya pun mulai bergabung untuk berdansa. Semua orang berpikir bahwa kali ini, Ziria akan menjadi pasangan dansa raja mereka namun secara tidak terduga Rowan justru mengulurkan tangan pada Clair lalu dansa keduanyanya diberikan pada Syerin.


Raja mereka tidak menghampiri Ziria sama sekali dan sekarang fokus berdansa bersama Syerin setelah dansa pertama diberikan pada Clair.


"Apa Nyonya baik- baik saja?" Donna tampak cemas.


"Sepertinya mereka bertengkar," komentar Marchioness pada suaminya.


Rowan diam saja dan fokus berdansa, walau begitu sesekali ia melirik Ziria yang berdiri tak jauh darinya. Setelah musik selesai, Rowan kembali untuk melihat Ziria namun wanita itu tidak ada, bahkan setelah ia mengedarkan mata di seluruh sudut pesta berlangsung.


"Yang Mulia! Segerombolan monster muncul di perkotaan dan beberapa berhasil memasuki istana!"


Seru para prajurit yang datang dari luar. Pesta mendadak hening sebelum akhirnya Rowan menurunkan perintah untuk memasang posisi pertahanan dan penyerangan.


Para tamu bangsawan yang tidak memiliki kemampuan untuk ikut bertarung diminta untuk berdiam diri dalam istana.


"Dimana Ziria?" Rowan bertanya pada Donna.


"Saya juga menyari Nyonya sejak tadi, Yang Mulia."


"Temukan dia! Jangan sampai di keluar dari istana karena di luar sedang kacau! Temani Donna mencari Ziria, Mark."


"Baik, Yang Mulia."


Sementara itu, dari pucuk istana, Ziria berdiri di samping Felix yang terus tersenyum karena berhasil memancing para monster memasuki Vetezia dan membuat kekacauan.


"Bukankah ini berlebihan, Felix?"


"Ini belum cukup, Ziria. Syremis harus kehilangan sebagian kedamaian karena ulahnya, kali ini mereka juga harus merasakannya."


Ziria tidak setuju. Peperangan adalah hal yang seharusnya dihindari, melihat kekacauan itu lalu pergi begitu saja membuatnya terbebani jadi Ziria memutuskan untuk membantu.


"Jangan lakukan itu, kita harus kembali."


"Aku tidak bisa membiarkan orang-orang itu mati, Felix. Aku tidak bisa membiarkan orang lain mati di depan mataku."


Ziria langsung meninggalkan Felix, pergi menuju perkotaan dan ikut membantu orang-orang pengguna sihir, serta prajurit menghadapi monster.


Lingkarang-lingkaran besar dengan pola aneh mengisi ruang hampa di udara, mengeluarkan selarik cahaya yang ditargetkan pada monster.


Para penyihir dan prajurit yang menyaksikan Ziria menggunakan sihir tercengang, ini pertama kalinya mereka melihat seseorang melayang sambil menggunakan sihir tanpa merapal mantra.


"Siapa wanita itu, Ibu?"


"Apa kita akan selamat?"


"Itu, dia selir Yang Mulia, kan?"


Para warga berlindung di dalam lingkaran para prajurit. Mata mereka tidak pernah lepas dari sosok wanita yang lambat laun menghabisi monster-monster di perkotaan. Sihirnya bagai hujan peluru, membunuh para monster dalam sekejap.


"Ziria?"


Napas Rowan tercekat di kerongkongan saat melihat lingkar sihir dan wanita melayang di udara.


"Dia menggunakan sihir?"


Rowan mempercepat laju kuda yang ditungganginya. Tangannya meremas kuat tali kendali kuda, rasa takut langsung menyergapnya.


"Sudah waktunya kembali, Ziria. Kamu sudah menghabisi para monsternya."


Felix muncul di hadapan Ziria sambil mengulurkan tangan. Saat itu pula mata Rowan melotot, ternyata selir permaisuri adalah orang yang mungkin diutus untuk menjemput Ziria.


"Tidak, jangan membawanya!" Rowan berteriak.


Ziria langsung menoleh ke bawah sedangkan Felix menunjukkan senyum angkuhnya pada Rowan.


"Apa kamu mulai goyah lagi?" tanya Felix.


Ziria memutuskan kontak mata dari Rowan. "Tidak. Lagi pula aku bukan apa-apa baginya, dia tidak lagi menginginkanku, jadi tidak ada alasan bagiku untuk tetap di sini."


Ziria lantas menerima uluran tangan Felix, siap menggunakan sihir teleportasi. Mendengar perkataan yang mungkin tidak bisa ditangkap oleh orang biasa, Rowan merasa hatinya berdenyut.


Lantas ia bersiap hendak melompat dan menangkap Ziria namun ketika dia melompat, saat itu pula Ziria dan Felix raib bagai ditelan bumi dan dirinya mendarat ke tanah dalam posisi terlentang.


"Seharusnya aku tidak mengatakan itu." wajah Rowan mengerut, menunjukkan rasa penyesalan yang amat besar.


...BERSAMBUNG ......