Esnared By A Mad King

Esnared By A Mad King
BAGIAN 18



...SELAMAT MEMBACA...


Lagi. Felix mengunjunginya di larut malam melalui jendela. Pria itu menggunakan sihirnya untuk menyelinap kemudian kembali berbagi kabar terkait kondisi Syremis.


Kali ini, Felix menyampaikan kabar dari Zared. "Magdia kian melemah. Jika kita tidak kembali secepatnya, maka perbaikan Syremis terhambat."


"Tapi di luar sana banyak penyihir tingkat tinggi. Jika kita pergi sekarang dan dikepung, pada akhirnya kita berdua dalam masalah."


Felix memandang jauh keluar jendela. Berdasarkan informasi Clair, malam ini Rowan akan kembali lebih cepat karena penaklukkan telah selesai.


"Hah..."


Felix menghela napas panjang, menyisir ke belakang rambut keperakannya dengan jemari lalu menatap Ziria dengan dingin. "Kamu hanya membuat alasan."


Sepasang mata Ziria terbelalak.


"Jika tidak mencobanya kita tidak akan tahu. Lagi pula jika tertangkap, kamu tidak akan mati di tangan pria itu. Tapi sepertinya kamu memang tidak berniat kembali karena pria itu, kan?"


Jantung Ziria berdetak lebih cepat, tangannya jadi berkeringat. "Tidak. Bukan begitu."


"Lalu apa alasannya?" desak Felix, kilat di mata pria itu berubah dingin.


"Aku hanya—"


"Yang Mulia sudah kembali, Nyonya. Kami undur diri dulu karena sepertinya Yang Mulia akan menemui Anda."


Donna berujar dari luar pintu lalu pergi dari sana.


"Dia akan kemari, jadi kita bicarakan nanti lagi." Ziria memutar tubuh hendak membelakangi Felix, enggan melihat pria itu lebih lama namun Felix mencekal pergelangan tangannya.


"Aku tidak punya banyak waktu, Ziria. Syremis adalah tempatmu, bukan disini."


"Lepaskan, Felix. Sebentar lagi Rowan akan datang, kamu harus pergi!" hardik Ziria.


Seolah tuli, Felix justru menarik kasar tangan wanita itu dan mendekapnya amat erat sembari memperhatikan celah di bawah pintu, menunggu pria yang ditunggu Ziria datang dan melihat adegan saat ini.


"Lepaskan, Felix. Sebenarnya ada apa denganmu?" Kedua tangan Ziria menyentuh punggung tangan Felix, berusaha menarik pria itu agar segera melepaskannya.


"Tidak bisa. Aku melakukan ini karena tidak suka kamu goyah karena lelaki lain."


"Apa?"


"Tempatmu adalah bersamaku, di menara sihir."


Bersama kalimat Felix yang membuat Ziria membisu, pintu kamar terbuka dan menampakkan Rowan berdiri dengan ekspresi terkejut.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Rowan.


Ziria langsung menoleh dan Felix melepaskan dekapannya, menatap Rowan dengan senyum kecil terselip di bibirnya yang tipis.


"Sialan!"


Ukh!


Rowan langsung mendekat, menghantam wajah Felix hingga tersungkur kemudian Ziria mencegah tindakan Rowan yang hendak kembali menghantamkan tinju pada Felix, ia menahan tangan besar Rowan.


"Hentikan, Rowan. Jangan menyakitinya lagi!"


Waktu seolah terhenti bagi Rowan, dadanya terasa penuh dan sesak, fokusnya jatuh pada Ziria yang menatap Felix penuh kecemasan.


"Ah, kamu takut aku melukai pria ini? Kalau begitu kenapa kamu bermain dengannya di belakangku?" Rowan mencekam dagu Ziria dengan sebelah tangan sambil berujar penuh penekanan.


"Kamu salah paham."


Dada Rowan naik turun kelewat emosi kemudian ia berteriak memanggil Paolo, memberi perintah untuk membawa Felix ke penjara kemudian setelah itu ia melempar Ziria ke atas ranjang.


"Salah paham? Kamu pikir aku bodoh karena berpikir aku buta karena terlalu mencintaimu? Kamu bermain dengan pria lain saat aku tidak ada padahal selama ini kamu kuperlakukan baik walau merupakan rampasan perang! Hah! kupikir Kasion akan memberi trauma mendalam bagimu makanya aku selalu mencemaskanmu tapi kamu malah membawa pria lain!"


"Apa? Rampasan perang?"


"Benar. Kamu rampasan perang walau berstatus sebagai selirku."


Ziria memejamkan mata, berusaha tidak tersulut emosi akan perkataan seseorang yang diliput amarah kesalahpahaman.


"Kamu membutuhkan sentuhan maka dari itu merayu pria itu, kan? Kalau begitu, aku akan memberikannya agar kamu tidak berani melakukan kesalahan untuk kedua kalinya."


Rowan melotot sembari menanggalkan seluruh pakaian kemudian mengoyak gaun yang dikenakan Ziria tanpa belas kasih, hingga sang selir tak mengenakan apapun.


"Rowan, hentikan! Kamu salah paham! Aku tidak memiliki hubungan semacam itu dengannya!" Ziria menahan dada bidang Rowan menggunakan kedua tangan, mencegah pria itu mencumbunya.


"Aku tidak peduli. Kamu harus menyadari posisimu."


Setelah berkata demikian, Rowan mengunci pergerakan Ziria dan menyerangnya. Malam itu, suara Ziria terus keluar bersama perlakuan kasar Rowan terhadap tubuhnya.


Tidak ada kelembutan seperti biasanya, Rowan tidak memberi ampun seolah setiap sentuhan malam itu adalah sebuah cambuk bagi Ziria.


...***...


"Nyonya?"


Donna menutup mulut dengan sebelah tangan, bagian hitam matanya gelisah melihat Ziria masih terbaring di kasur dengan kondisi kamar berantakan lalu sekujur tubuh dipenuhi tanda keunguan juga gigitan, itu terlihat cukup menyakitkan.


Tidak hanya itu, bahkan wajah nyonyanya begitu pucat, matanya terlihat sayu. Setelah membuatnya dalam kondisi demikian, Rowan pergi begitu saja di pagi buta, pria itu masih sangat marah namun Ziria terlalu lelah untuk menjelaskan segalanya.


"Saya akan membantu Anda."


Dengan kegetiran, Donna membantu Ziria membersihkan tubuh lalu memerintah para dayang merapikan kamar. Setelah itu Ziria kembali berisitirahat, ia tidur sampai sore hari setelah makan.


Rowan melirik dari celah pintu, menatap begitu dingin Ziria yang terlelap damai dalam kamar.


"Bagaimana kondisinya?" Rowan bertanya pada Donna.


"Saya yakin Nyonya dijebak Yang Mulia."


Rowan mendelik tajam. "Aku tidak menanyakan itu. Lagi pula bagaimana bisa pria itu ada di sini saat kalian berjaga di luar? Berarti Ziria lah yang memberi jalan agar pria itu masuk ke kamarnya."


Donna mengatupkan bibir rapat, lidahnya terasa kelu. Dia dan lainnya pun terkejut saat tahu skandal antara Ziria dan selir permaisuri.


"Dimana pria itu?" tanya Rowan pada Paolo.


"Permaisuri datang dan membebaskannya. Dia berkata jika Yang Mulia bersikap demikian pada selirnya maka ia pun berhak memperlakukan Nyonya seperti itu."


Rowan mengeraskan rahang kemudian berkelebat sementara Ziria perlahan membuka mata, menatap langit-langit kamar dengan rasa kantung yang masih tergantung.


"Anda mau kemana, Nyonya?"


Donna langsung mendekat saat Ziria keluar dari kamar.


"Menemui Rowan."


"Berisitirahatlah dulu, Nyonya."


Ziria menggeleng. "Aku harus menemuinya."


Donna memutuskan untuk menemani dari belakang, membiarkan Ziria menemui Rowan namun saat sampai di Istana Sol, ia justru berpapasan dengan wanita lain. Wanita itu menggunakan gaun indah yang cukup terbuka dan menyapanya sambil memperkenalkan diri sebagai Putri Count Reiwel, Syerin Reiwel.


"Kenapa kamu mengunjungi istana, Yang Mulia?" Ziria bertanya, nadanya terdengar tak senang.


"Aku yang menyuruhnya kemari. Kupikir menambah satu selir tidak masalah untuk menemaniku."


Rowan muncul lalu menyelipkan tangan besarnya pada pinggul Syerin. Wajah Syerin bersemu diiringi senyum nakal sementara Ziria tersentak, dadanya sesak dan berdenyut melihat hal itu.


"Aku perlu meluruskan kesalahpahaman kemarin, mari bicara." Ziria berusaha baik-baik saja.


Melihat reaksi tenang dan tidak cemburu Ziria membuat Rowan makin marah.


"Kembalilah ke kamarmu. Aku tidak punya waktu meladenimu karena kami harus menghabiskan malam ini bersama." Rowan kemudian pergi sembari membawa Syrein masuk, meninggalkan Ziria begitu saja.


Ukh! Ziria menyentuh dada kemudian bulir-bulir air mata menyusuri pipinya. Dia tidak rela membiarkan Rowan bersama wanita itu juga tidak kuat bahwa dirinya diabaikan demikian.


"Aku akan menemuinya besok pagi lagi."


...BERSAMBUNG ......