Esnared By A Mad King

Esnared By A Mad King
BAGIAN 06



...SELAMAT MEMBACA...


Clair Holdis, Permaisuri Vetezia menatap rendah selir baru yang datang bersama rombongan Rowan di istana utama. Semua perhatian jatuh pada selir itu dan Clair mengulas senyum puas saat coleteh para pejabat di ruang takhta mencela kehadiran selir.


Sesungguhnya Clair merasa kalah telak saat Rowan datang sambil mengenggam tangan si selir seolah berkata 'semua akan baik-baik saja, aku ada bersamamu' pada wanita itu, sungguh membuat Clair jengkel.


"Ziria Vendetta, dia adalah selirku. Kuharap kalian tanamkan itu mulai sekarang dan hentikan omong kosong yang membuat telingaku sakit."


Rowan duduk di bangku singgasana sambil memegang kuat pedangnya, memastikan bahwa tidak ada mulut lagi yang terbuka untuk mencela dan dalam sekejap celaan dan penolakan terhadap Ziria raib.


"Saya harap anda kembali dengan selamat, Yang Mulia."


Clair berdiri di hadapan Rowan, menyematkan sebuah sapu tangan di pergelangan pria tersebut. Rowan tak menolaknya, ia tidak bisa melakukannya disini karena bagaimana pun Clair memiliki koneksi kuat di Vetezia dan itulah penyebab pernikahan mereka terbentuk.


"Lebih baik kamu urus pria-pria yang menghangatkanmu setiap malam, Ratu." Rowan menelusupkan tangan diceruk leher Clair sambil mengulum senyum sarkas.


Clair tersentak. Seperti tikus yang tertangkap basah, Claire langsung memutuskan kontak mata dari Rowan namun orang yang tak melihatnya dengan baik mengira bahwa tampaknya raja mulai menaruh sedikit perhatian pada permaisuri.


Ziria memalingkan pandangan ke sembarang arah, tapi saat itu ia yang berada di tengah-tengah tim yang tergabung dalam perburuan justru bersitatap dengan pria berkulit cerah dengan rambut pirang yang tersenyum dan melambai padanya.


Wah.


Sepasang mata Ziria berbinar saat melihat intensitas Mana dari pria itu cukup besar, mungkin saja penyihir tingkat tujuh, terka Ziria.


"Eh? Kenapa dia tampak senang begitu?" Laiv langsung menurunkan lambaian tangannya.


Sementara itu di waktu bersamaan, fokus Rowan telah sepenuhnya berada pada Ziria namun senyum pria itu luntur melihat wajah sang selir berseri-seri saat bersitatap dengan master menara.


"S-saya hanya mencintai anda, Yang Mul—"


Perkataan Clair terhenti bersamaan Rowan yang tiba-tiba meninggalkannya, melangkah ke arah tim perburuan lalu tanpa diduga menarik Ziria untuk lebih rapat pada tubuhnya.


"Apa kamu baru saja menggoda pria lain saat aku ada di depan matamu?" Rowan berdesis, memaksa Ziria menatap matanya.


Memalukan! Rasanya Ziria mau menghilang saja setelah mendapat perlakuan itu di depan banyak orang terutama semua yang ada di dalam ruang takhta adalah orang penting dan berpengaruh sementara dirinya ... Ziria sadar bahwa ia hanya memiliki Rowan maka dari itu banyak orang menahan diri untuk tidak menghapus keberadaannya atau mungkin mereka akan melakukannya secara senyap dalam waktu dekat ini.


"Dia memiliki jumlah Mana yang besar dan itu sedikit memicu rasa penasaranku terhadapnya." Ziria menatap arah lain demi menghindari tatapan penuh penghakiman dari suaminya itu.


Rowan mengembuskan napas dan tidak mempermasalahkannya kemudian ia menatap Clair yang sudah berang, ini menyenangkan. Sejak awal, Rowan tidak suka perangai Clair dan dengan adanya Ziria di sisinya maka Rowan berharap bahwa Clair bisa tersingkir dari posisi permaisuri. Jika selirnya mengandung sang penerus maka kekuatan politik keluarga Clair yang mendominasi akan melemah dan tentu saja Rowan berharap bahwa Ziria bisa sedikit lebih baik di mata beberapa orang agar mendapat koneksi atau faksi untuk mendukungnya naik ke posisi itu.


"Selirku akan ikut dalam perburuan." Rowan memberitahu semua orang disana.


"Apa? Yang Mulia ... bukankah disana sangat berbahaya? Membawa Selir kesana bukanlah pilihan yang baik." Clair maju dan terlihat cemas.


Ziria bisa melihat semua orang kagum terhadap sifat belas kasih permaisuri terhadap selir yang membahayakan posisinya. Jika itu permaisuri yang asli mungkin Ziria bisa melihat Clair tersenyum puas dan berharap bahwa dirinya mati atau mungkin berusaha mengusirnya dari tim agar hubungannya dan Rowan tidak semakin dekat.


"Perburuan kali ini tergantung padanya. Strix yang membuat kekacauan dibunuh dengan cara berbeda dan selirku yang memiliki kemampuan menjadi kunci keberhasilan misi kali ini."


"Memang wanita itu mau membantu? Dia bisa saja menghalangi atau mencelakai anda, Yang Mulia."


Rowan melirik salah satu eksekutif, itu adalah Marquess Jonath. Marquess Jonath adalah menteri pertahananan yang bertanggung jawab atas segala urusan kenegaraan dalam departemen pertahan, dia bukan dipihak keluarga Clair jadi Rowan yakin bahwa Jonath sungguh mengkhawatirkannya, yah walau pria 56 tahun tersebut masih memancarkan rasa tidak suka dan kecurigaan pada Ziria.


Rowan hendak menjawab namun Ziria maju beberapa langkah menatap Jonath dengan seksama. "Anda mengenal saya dengan baik, Marquess Balaren. Ini bukan pertama kalinya kita berhadapan dan anda pasti tahu seperti apa saya jika dalam situasi seperti ini."


Sorot mata tegas dan sikap penuh wibawa. Itulah yang selalu membuat Jonath berdecak kagum pada sosok Ziria. Marquess Balaren memang mengenal Ziria dengan baik karena wanita itu selalu datang ke Vetezia sebagai perwakilan dari Syremis untuk memelihara pedamaian dan terkadang keduanya terlibat dalam perbicaraan terkait pertahanan dan Jonath tahu bahwa kemampuan Ziria dalam sihir sungguh luarbiasa maka dari itu, Jonath meragukan keberadaan Ziria karena bagaimana bisa wanita yang begitu hebat jatuh dengan mudah ke tangan musuh.


Jonath tidak punya pilihan lain. Jika memang Ziria tidak memiliki niatan buruk maka wanita itu akan mengutamakan nyawa yang dalam bahaya akibat ulah monster.


"Tolong jaga Yang Mulia." Sebelah tangan Jonath menyilang di dada kiri disusul kepala tertunduk rendah pada Ziria.


Tindakan Jonath memicu beragam persepsi sementara Rowan tampak puas melihat bagaimana selirnya menghadapi sedikit kekacauan itu. Bukannya tertekan, Ziria justru seperti tertantang dan itu membuat Rowan semakin ingin mengurung Ziria dalam sangkar emas.


...***...


Perjalanan sudah ditempuh selama satu setengah hari dan tujuan mereka masih membutuhkan waktu sekitar empat jam lagi untuk sampai. Mereka akan pergi ke Desa Orban yang dikelilingi hutan dan perbukitan, sarang dimana Strix terakhir kali terlihat.


"Kita akan berisitrahat!"


Drake berseru setelah mendapat kode tangan dari Rowan yang menunggang kuda di sisi kereta kuda Ziria yang berada bersama Emine dan Laiv.


Sepanjang perjalanan Ziria harus merapatkan mulut dan tidak berbicang banyak hal pada pria berMana besar tersebut karena mata menyebalkan Rowan selalu meniliknya dari luar jendela.


Sial! Rasanya mau kucongkel saja mata pria gila itu!


Sudut bibir berkedut lalu kedua tangan terkepal kesal. Melihat hal itu dari Ziria membuat Laiv menahan tawa, berusaha tidak mengeluarkan suara apapun.


"Turunlah."


Rowan mengulurkan tangan pada Ziria yang hendak keluar dari kereta kuda karena semua orang sudah berhenti dan beristirahat, duduk di sembarang tempat.


Para kesatria melirik Ziria dengan sinis, rasa tidak suka yang kuat terhadapnya membuat Ziria mendengus lelah. Entah sampai kapan dia akan berada di situasi tak nyaman ini.


Tak hanya kesatria, disana juga ada tiga orang dari pusat penelitian sihir dan empat dari menara sihir yang miliki kemampuan sihir penyembuh, penyerang dan pertahanan.


"Ah!"


Ziria tersentak, matanya yang semula berfokus pada uluran tangan Rowan beralih ke arah selatan, dimana mereka akan melanjutkan perjalanan setelah berisitrahat.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Rowan saat matanya menangkap kengerian menghias wajah selirnya.


"Energi ini ... jauh lebih besar dari seekor Strix." Ziria menatap Rowan, ia jadi mau muntah karena pertahanan sihir untuk dirinya sendiri terhadap pancaran energi gelap tidak ada sama sekali.


...BERSAMBUNG ......