
...SELAMAT MEMBACA...
Tanah dan langit bergemuruh, angin berembus kencang bersama awan gelap yang bergumul seolah akan terjadi badai. Sihir perlindungan yang berbentuk kubah mulai menunjukkan kerusakan dan hal itu membuat senyum Ziria merekah.
"Dimana inti Mananya?"
Liav bertanya pada Ziria tapi tidak ada jawaban sampai saat Rowan berdiri di hadapan wanita tersebut.
"Ada apa?" tanya Rowan.
"Aku tidak bisa melihat inti Mananya karena energi gelap terlalu pekat."
"Lalu bagaimana cara menghadapinya?"
"Biarkan aku memulihkan inti Mana dengan begitu penglihatanku dapat menem—"
"Jangan main-main denganku. Itu hanya alasanmu untuk kabur, kan?"
Tangan Rowan mencekal kuat bahu Ziria dan ringisan terdengar.
"Berikan aku batu Mana maka tidak satupun dari mereka tewas. Bagaimana?"
Tangan Rowan langsung beralih mencekal kerah sang selir hingga kaki tak menapak tanah. Wajah Ziria mulai merah karena kesulitan bernapas sementara di sisi lain semua mulai mencemaskan Ziria yang telah menyulut emosi Rowan.
"Ini bukan waktunya meladenimu!" Urat leher Rowan tercetak jelas sangking geramnya.
"Aku sungguh tidak bisa melihat letak inti Mananya. Jika kamu ingin aku tahu, maka berikan batu Mana padaku!" Ziria meraung sambil mencakar tangan Rowan agar mengendur.
Rowan tidak percaya sama sekali dan menganggap bahwa itu hanya akal-akalan Ziria, jadi dalam satu kali ayunan Ziria telah terlempar dan tersungkur di depan kaki Donna.
"Jangan sampai lengah. Mulai sekarang aku dan Liav yang akan membunuh makhluk itu."
Rowan keluar dari lingkar sihir perlindungan, berdiri tak jauh dari Kingtrix yang terus meraung, membuat telinga berdengung hebat dan saat itu mata Ziria menangkap darah meleleh keluar dari kedua telinga Rowan namun Liav sigap memberi perlindungan sihir dari belakang.
"Kamu sungguh tidak mengetahuinya?" Emine mendekat sambil meminta pengguna sihir menyembuhkan luka di siku dan lutut Ziria akibat ulah kasar Rowan barusan.
Ziria diam. Ia bisa melihatnya, tapi kurang jelas karena energi kegelapan yang pekat membuat inti itu terbagi menjadi beberapa bayangan samar. Mata Ziria sudah terlalu lelah sejak kemarin, ditambah tidak adanya Mana yang mampu ia serap untuk memulihkan inti Mana.
"Rowan tidak pernah menaruh perhatian sebesar ini pada seseorang. Dia terbiasa untuk sendiri tapi aku tidak tahu kenapa sifat manusiawinya diperlihatkan padamu dan setelah semua ini apa kamu akan membiarkannya dalam bahaya?"
Mendengar perkataan Emine membuat telinga Ziria sakit. Lalu bagaimana dengannya? Rowan memilik Emine sebagai sahabat, memiliki rekan yang dapat dipercaya, sementara dirinya?
"Yang Mulia!"
Drake dan Donna berseru saat tubuh Rowan terpelanting, menghantam tubuh pohon cukup keras. Sayatan lebar dan panjang menghias lengan besar Rowan sementara Liav berusaha menembakkan sihir namun Mananya terkuras. Kingtrix adalah makhluk langka yang kemampuan regenerasinya mendekati keabadian. Syremis hanya menggambarkan makhluk itu dalam buku, dan selama perburuan pun Ziria tidak pernah menjumpai Kingtrix.
"Ck, sialan!"
Rowan bangkit berdiri. Mengibaskan tangan lalu merenggangkan otot kemudian kembali melesat untuk memberi tebasan secara beruntun. Rowan hanya diberkati kemampuan fisik luar biasa juga cara bertarung gila yang terorganisir tapi makhluk tak masuk akal seperti itu harus berhadapan dengan sihir.
"Rowan!"
Kali ini Ziria yang berseru lantang ketika kaki besar kingtrix nyaris memijak Rowan.
Ah—
Ziria membungkam mulut setelah sadar napasnya tercekat di kerongkongan ketika melihat pria itu nyaris mati.
Harusnya aku senang. Kenapa aku jadi ketakutan? Sial! Aku pasti sudah sinting. Jika Rowan mati maka besar peluangku untuk bebas, tapi ... kenapa
Kedua tangan Ziria gemetar melihat bagaimana Rowan berkelit dan mulai terengah-engah karena semua usahanya sia-sia.
"Berikan padaku!"
"Ah!"
Emine terkejut saat Ziria merampas kalung berbatu mana yang mengandung sihir perlindungan.
"Ah, jangan! Aku menggeluarkan banyak uang untuk membelinya!" Emine berusaha menggapai Ziria.
Rowan berteriak sementara Ziria telah melakukan penyerapan secara cepat. Inti mana mulai menyatu kembali, tidak menyisakan kerusakan dan saat itu Ziria merasa sihir dalam tubuhnya meluap-luap sampai menghancurkan rantai yang mengekang kaki dan tangan.
"Ya ampun, jadi itu penyihir tingkat sembilan?"
Semua orang tercengang saat Ziria mengudara tepat di depan wajah Kingtrix. Wanita itu tak berekspresi ketika Kingtrix melancarkan setiap serangan namun tidak satupun mengenainya karena ia menghindar dengan mudah, seperti seseorang yang menari di langit.
"Ini benar-benar menyenangkan, setelah sekian lama tidak menggunakan sihir dengan bebad." gumam Ziria.
Kingtrix geram dan mulai mengejar Ziria di langit. Itu seperti bentrokan antara burung besar dan burung kecil.
Bum!
Kingtrix tiba-tiba jatuh ke tanah kemudian di atasnya Ziria masih mengudara sambil menciptakan lingkar sihir raksasa di atas kepala. Setiap pola dari lingkar sihir bersinar di langit dan bersamaan tangan Ziria yang digerakkan ke bawah, sebuah cahaya besar menyembur dari lingkar sihir, melubangi perut kingtrix hingga hangus dan saat itu pula inti mana kingtrix hancur.
"Ya ampun."
Semua orang menelan ludah dengan sulit melihat serangan dari penyihir tingkat sembilan yang baru pulih tersebut, kecuali Rowan yang telah mengarahkan anak panah pada Ziria yang masih diam untuk memastikan apakah Kingtrix sungguh mati karena ia harus menggunakan teleportasi untuk kabur.
"Apa yang mau kamu lakukan?" Emine bertanya pada Rowan yang sudah memfokuskan target.
"Menangkap burung yang hendak kabur."
Setelah menjawab, anak panah Rowan melesat penuh kekuatan. Ziria yang sudah bersiap kabur langsung menoleh untuk menghindar tapi panah itu terlalu cepat dan kuat hingga betisnya telah ditembus oleh panah tersebut.
"Rowan bajingan!"
Ziria memaki saat proses jatuh ke tanah dan Rowan sigap menangkapnya sebelum menghantam tanah. Darah mengalir deras dari betis putih tersebut, kedua tangan Ziria mencengkeram kuat kerah Rowan dengan penuh kebencian.
"Dasar gila! Kenapa kamu melakukan ini padaku!" Ziria meraung.
Rowan tersenyum sinis. "Karena kamu milikku."
Napas Ziria bergemuruh, keringat muncul karena rasa sakit begitu besar kemudian inti Mananya pun terasa aneh dan mulai retak kembali. Yah, seharusnya sihir sebesar itu tidak dikeluarkan saat inti Mana baru saja dipulihkan, tapi setidaknya Ziria masih bisa menggunakan mana yang tersisa untuk kabur walau kakinya terluka parah oleh Rowan.
"Tidak! Aku tidak sudi menjadi milikkmu!"
Ziria lantas menyatukan kedua tangan untuk melakukan teleportasi tapi Rowan langsung memukul tengkuknya cukup kuat hingga kesadaran Ziria hilang dalam sekejap.
Semua orang yang menyaksikan tindakan Rowan bergidik ngeri. Sementara Rowan langsung meminta pendarahan pada betis Ziria dihentikan dengan sihir penyembuh.
"Bersiap, kita segera kembali."
...***...
...Kerajaan Syremis, Istana....
Zared Holeic, Raja sementara Syremis mulai mengembuskan napas kasar sembari membanting surat kabar yang terus beredar dan membuatnya sakit kepala sejak kemarin.
Pembangunan dari wilayah yang hancur tidak akan butuh waktu lama karena para penyihir handal bisa melakukan sihir perbaikan, tapi yang menjadi masalah bagi Zared adalah kondisi adiknya yang menjadi tawanan Rowan Terrence.
"Pengkhianat apanya?!"
Zared menghantamkan tinjunya pada dinding, menyalurkan emosi yang tidak terbendung. Perdamaian Hestphalia hancur bukan karena pengkhianatannya saja melainkan ulah Rowan Terrence.
Rowan menginginkan Ziria, tapi Zared menolaknya karena Syremis membutuhkan Ziria untuk melindungi Magdia, sebuah batu besar biru yang menyimpan energi besar untuk membuat Syremis selalu ada walau sudah hancur berkali-kali. Magdia adalah jantung Kerjaan Syremis.
Zared tahu bahwa Rowan tidak akan tinggal diam jadi mengirim beberapa mata-mata ke Vetezia untuk mencari tahu kelemahan dari kerajaan tersebut tetapi tindakannya tertangkap basah oleh Rowan.
"Berikan Ziria untukku maka perang ini tidak akan terjadi."
Seperti itulah isi pesan Rowan demi mengaburkan kesalahan Zared namun itu diabaikan olehnya hingga Rowan datang sendiri untuk menghancurkan sebagian Syremis lalu membawa Ziria, tapi sekarang jika berusaha membawa Ziria kembali ke Syremis, semua orang akan membencinya karena adik angkatnya itu telah dicap sebagai pengkhianat yang mementingkan nyawa sendiri.
"Apa yang bisa kulakukan untukmu, Zared?"
Zared langsung menoleh ke arah jendela, seorang pria berambut keperakan sudah duduk disana sambil tersenyum ramah, Felix Orfias, Master menara sihir Syremis.
...BERSAMBUNG ......