
...SELAMAT MEMBACA...
"Rowan, apa alasanmu menyukaiku sampai seperti ini karena pertemuan kita 12 tahun lalu?" tanya Ziria, nyaris berbisik.
"Ah, akhirnya dia mengingatku setelah sekian lama."
Rowan mendesah pendek, tapi tidak menjawab pertanyaan Ziria justru beralih membicarakan tempat lelang ilegal bersama Jonath, membiarkan Ziria kembali berbincang bersama Marchioness.
"Apa dia baru saja menghindari pertanyaanku?"
Ziria memicing tak senang pada Rowan yang kembali mendekati Jonath, sementara itu Marchioness yang tampak kebingungan kembali mempersilakan Ziria untuk duduk dan memperhatikan pasangan mereka dari kejauhan.
"Apa yang terjadi?" tanya Marchioness.
"Dia memamerkan tembakannya, Marchioness."
Ziria kembali ke tempat duduk sementara Rowan diam-diam memperhatikan Ziria selama berbincang.
"Baron Jills yang melakukan lelang ilegal itu, Yang Mulia."
"Karena Permaisuri ada di belakangnya, dia mulai bertindak seenaknya dengan berpikir bahwa kita tidak akan mengendusnya."
Rowan mengalihkan pandang pada Baron Jills dengan amarah tertahan. "Kita lakukan penyelesaian besok, Marquess."
Jonath angguk kepala kemudian mereka kembali dan saling berbincang bersama pasangan masing-masing. Kini, Rowan dan Ziria telah kembali ke Istana Sol saat hari telah petang tapi tidak ada pembicaraan sama sekali selama perjalanan pulang lalu sekarang Ziria yang sejak insiden terakhir kali tidur di kamar Rowan tampak hendak meninggalkan kamar malam ini, seolah kesal sepulang dari rumah Marquess.
"Kamu mau kemana?" Rowan langsung berdiri depan pintu, menghalangi Ziria keluar dari kamarnya.
"Aku mau tidur di tempatku."
"Tidak. Disini lebih aman."
Ziria meremas kuat ujung piyama tidur, menatap Rowan dengan sengit. "Aku yakin kamu sudah membereskan pria gila itu, jadi kondisinya lebih baik sekarang."
Rowan mengembuskan napas, tahu penyebab Ziria jadi kesal sejak pulang dari rumah Marquess Balaren.
"Ya. Aku adalah anak lelaki yang kamu temui 15 tahun lalu. Kamu membersihkan rambut, tubuh, juga pakaianku, apa itu sudah membuatmu sedikit lebih baik?"
Ziria tercenung dan Rowan membawa istrinya itu untuk kembali ke ranjang dan beristirahat, membawanya lebih dalam ke dekapannya yang hangat.
"Jadi, kamu menyukaiku karena hal itu?" Ziria mendongak, menatap wajah Rowan yang berada di atas kepalanya.
Rowan lantas menunduk, membalas tatapan Ziria. "Tentu saja bukan. Itu hanya salah satu alasan terkuat aku menyukaimu. Banyak penyebab kenapa aku bisa sangat menyukaimu."
Dalam sekejap, Ziria merasa wajahnya panas dan mungkin sedikit merah. Ia berpikir bagaimana bisa setiap kata yang keluar dari mulut Rowan tentang dirinya begitu mudah dan alami.
"Yah, setidaknya aku sudah tahu salah satu penyebabnya." Ziria langsung memutuskan kontak mata, menunduk dan mulai memejamkan mata.
Rowan hanya mengerjap dua kali melihat respon Ziria kemudian setelah itu terdengar dengkuran halus. Rowan sedikit mengendurkan dekapannya, mengangkat dagu selirnya.
"Hah, sepertinya dia benar-benar lelah."
Rowan mengembuskan napas. Ziria tidur begitu cepat namun kali ini bibir wanita itu sedikit menyunggingkan senyun tipis.
"Aku akan kembali." Rowan mendaratkan kecupan ringan di bibir Ziria kemudian pelan-pelan meninggalkan kamar.
Drake yang telah kembali bersama Jonath pagi tadi mendadak muncul dan mengekori Rowan menuju penjara bawah tanah, di salah satu sel paling menjorok di sana.
"Apa yang selanjutnya akan Anda lakukan, Yang Mulia?"
Drake bertanya ketika Rowan berdiri di depan sel sambil memandang hina Kasion yang telah babak belur dan penuh darah.
"Bebaskan dia."
Drake tidak lagi melanjutkan perkataan saat Rowan diam sambil menatap Kasion dengan kilat kemarahan. Itu seolah menjadi pertanda, jika Drake tidak membebaskan Kasion sekarang, maka putra baron itu akan mati dalam sekejap. Drake lantas membuka sel dan Kasion yang langsung sadar langsung menatap ke depan.
Darah yang memenuhi wajah dan kedua mata bengkak kebiruan membuat Kasion kesulitan untuk melihat situasi di sekitar namun yang pasti ia melihat pintu sel terbuka jadi tanpa banyak pilihan, ia langsung berlari walau langkahnya terseok-seok.
"Sekarang siapkan prajurit untuk pergi kediaman Permaisuri lalu perintahkan Paolo untuk menjemput Baron Jils dan menyusul."
Rowan lantas pergi dari sana dan Drake segera melaksanakan perintah. Sementara itu, selang beberapa waktu, Clair yang sibuk dijamu minuman oleh Felix dikejutkan oleh kehadiran Kasion.
Pakaian Kasion penuh noda, lalu sekujur tubuhnya terdapat darah dan debu yang bercampur. Tidak berhenti disitu, Clair mendapati jejak-jejak penyiksaan disekujur tubuh pria itu. Padahal Clair yakin bahwa Kasion akan datang membawa kabar baik setelah tak ada kabar sejak kemarin.
"Apa yang terjadi?" Clair meninggalkan Felix, mendekati Kasion yang tersungkur penuh penderitaan.
"Tolong selamatkan saya, Permaisuri. Yang Mulia pasti tidak akan membiarkan saya hidup."
sekujur tubuh Clair meremang ngeri. Jelas sekali bahwa mata-mata yang dia kirim untuk mengawasi pergerakan Rowan mengatakan bahwa raja akan kembali tiga hari lagi karena hendak mengurus beberapa masalah setelah itu mata-matanya tak mengirim surat lagi.
"Jadi Rowan kembali lebih cepat? Apa ada seseorang yang memberitahu situasi buruk wanita itu?" Clair menggigit kuku jari kemudian ia memanggil dua kesatrianya untuk membawa Kasion pergi dari sana.
Akan sangat beresiko jika ada orang di luar pihaknya yang melihat hal ini terutama Baron Jils yang sejak kemarin menanyakan keberadaan Kasion. Akan tetapi saat dua kesatria hendak membawa Kasion ke luar, di depan pintu, Rowan sudah berdiri ditemani beberapa prajurit.
Rowan menatap rendah Kasion yang bersimpuh di lantai dengan kedua tangan yang dipegangi dua kesatria.
"Benar saja, kamu langsung lari ke tuanmu, ya." Rowan mengulum senyum, melempar pandangan mengejek pada Clair yang panik setengah mati.
"Yang Mulia, untung Anda datang kemari. Saya terkejut saat pria ini muncul dalam penampilan seperti ini."
Clair memeluk tubuh sendiri dan bergetar melihat Kasion.
"P-permaisuri, padahal saya sudah memberikan segalanya tapi kenapa Anda melakukan ini pada saya!" Kasion berujar lantang pada Clair.
Pria sialan ini! kenapa dia tidak tutup mulut saja! Clair memaki dalam hati dan Rowan tidak menyiratkan kepercayaan apapun padanya.
"Cepat juga kamu membawa Baron Jils kemari, Drake."
Rowan menoleh ke kiri, mendapati Baron Jils tiba ditemani Drake. Pria bertubuh gempal tersebut terengah-engah dan penuh keringat kemudian setelah melihat kondisi anaknya yang babak belur membuat Baron Jils diliput amarah dan kesedihan.
"Bukankah kamu mencari putramu? Kebetulan sekali dia ada disini." Rowan menyunggingkan senyum angkuh pada Kasion kemudian beralih pada Clair.
"Sepertinya kamu harus menjelaskan banyak hal pada Baron Jills, Permaisuri," sambung Rowan.
Baron Jills lantas membantu Kasion berdiri seraya memandang penuh kecewa pada Clair. "Padahal saya sangat percaya pada Anda."
Rowan menikmati pemandangan saat ini, tapi perhatiannya berpindah pada pria tampan yang terlihat lemah di belakang Clair. Pria itu mirip dengan kesatria yang membantu Ziria malam itu, tapi jelas rambutnya bukan keperakan melainkan hitam.
"Yang Mulia! Kumohon, ini pasti kesalahpahaman! Aku dijebak!"
Clair menangkap lengan kekar Rowan, tapi tidak ada respon apapun.
"Saya tidak melakukan apapun yang merugikan Anda, tapi kenapa Anda melakukan ini pada saya?!"
"Hah? Tidak melakukan apapun katamu?" Rowan menatap Clair penuh kekesalan, seolah mengatai wanita itu tidak tahu malu melalui tatapan.
"Kamu mengusik wanitaku, apa kepalamu bermasalah?" Rowan mencekal kuat dagu Clair.
"Saya tidak melakukan apapun! Selir itulah lah yang menggoda semua pria saat Anda tidak ada di sisinya!"
Rowan menyentak kasar cekalan Clair di lengannya. Tanpa banyak bicara lagi, Rowan pergi dari sana tanpa menoleh lagi.
"Sungguh menjengkelkan." Felix membatin setelah kepergian Rowan.
...BERSAMBUNG ......