Esnared By A Mad King

Esnared By A Mad King
BAGIAN 14



...SELAMAT MEMBACA...


Ledakan di Paviliun Et Luna memancing perhatian seluruh kesatria di Istana Sol, mereka berbondong-bondong datang kesana namun berpapasan dengan Donna.


Sambil terengah-engah, Donna mengatakan bahwa paviliun diserang dan selir diculik. Maka dari itu, semua menyebar untuk mencari begitu pun Mark yang memaksakan diri untuk ikut mencari di saat kondisinya tak begitu baik.


"Kenapa saat begini kamu baru mau membantu kami!" 


Mark mencekal kerah pakaian Samuel, pria yang menjabat sebagai wakil ketua kesatria di Istana Sol. Padahal sejak kemarin, Mark sudah meminta bantuan untuk memperketat penjagaan di Paviliun Et Luna tapi Samuel dan anggotanya abai.


"Kupikir masalahnya tidak akan sampai seperti ini." Samuel menatap Mark dengan dingin.


"Kamu tahu bagi Nyonya itu sangat menakutkan dan Yang Mulia meminta kita untuk menjaganya!" 


"Nyonya? Wanita dari kerajaan pengkhianat itu? Kamu pikir aku mau melindunginya? aku justru berharap wanita itu mati karena keberadaanya bisa jadi kelemaham terbesar bagi Yang Mulia." Samuel menarik kerah baju Mark, melampiaskan amarah secara balik.


"Hentikan! Ini bukan waktunya untuk bertengkar!" Donna melerai keduanya.


"Tsk! Menyebalkan!" Mark menggerutu dan segera melanjutkan pencarian sementara Samuel kembali memberi perintah pada anak buahnya untuk mencari di seluruh sudut Paviliun.


Dari banyaknya kesatria yang mencari, Felix menyamar jadi salah satu bagian dari mereka dan bergegas mencari keberadaan Ziria menggunakan sihir pelacak keberadaan, merasakan Mana samar milik Ziria yang nyaris tak terasa dan itu membawanya ke halaman belakang namun betapa murkanya Felix melihat adegan di depan sana.


Pipi kanan wanita itu merah dan agak bengkak, lengan baju tidurnya pun koyak kemudian yang paling menyedihkan adalah Ziria berada dalam danau dan basah kuyup, berusaha menjauhi Kasion yang terus mendekat penuh nafsu.


Tanpa pikir panjang lagi, Felix menarik kerah Kasion ke belakang agar tidak mendekati Ziria yang terus mundur hingga danau sudah menenggelamkannya hingga leher. 


Bersamaan Kasion yang ditarik dan hendak Felix hajar menggunakan sihir, ada tangan berkulit tan besar dan kekar merampas Kasion darinya. Felix tidak bisa melihat kecepatan tangan itu, namun detik berikutnya yang ia lihat adalah tubuh Kasion melayang sebelum menghantam tanah cukup keras.


Felix membelalakkan mata. Kini di depannya, seorang pria berkulit tan dengan mata biru berkilat penuh amarah tengah mencengkeram kuat leher Kaison yang baru saja dilempar ke tanah. Aura membunuh yang pekat itu membuat Felix bergidik namun perhatiannya teralih pada Ziria yang kesadarannya makin menipis di  danau.


"Zir—" 


Felix berlari ke arah Ziria, tapi sosok tadi bergerak lebih cepat memasuki danau dan langsung merengkuh Ziria yang hilang kesadaran. Memperhatikan sosok itu lebih lekat, akhirnya Felix tahu siapa itu. Rowan Terrence.


Rowan meninggalkan danau bersama Ziria yang basah kuyup dan tidak sadarkan diri dalam bopongannya. Raut wajah Rowan bener-benar diliput amarah kemudian ia melirik Felix yang berseragam kesatria.


"Kenapa kamu diam saja? Tangkap baj*ngan itu sebelum melarikan diri." Rowan mendelik bengis pada Felix sambil menendang Kasion yang menghalangi jalannya.


Sorot mata yang berkilat penuh kemurkaan itu membuat Felix sedikit ngeri, tapi ia tidak takut sama sekali justru saat ini matanya memandang sedih pada Ziria juga ... ada sedikit kecemburuan saat Rowan lebih dulu meraih wanita itu.


"Maaf, kan, saya, Yang Mulia." 


Felix segera meringkus Kasion yang babak belur dan pingsan sedangkan Rowan bergegas membawa Ziria ke istana agar segera diperiksa.


...***...


Dokter kerajaan sudah keluar dari kamar Rowan setelah merawat Ziria. Cukup lama sang raja menemani selir yang masih pingsan tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk memanggil Samuel. 


"Aku sudah mendengar semuanya dari Donna. Jadi, beri aku alasan yang tepat mengapa kamu tidak melakukan perintahku dengan baik." 


Samuel langsung bersimpuh, mengepalkan tangan di atas kedua paha.


"Saya hanya akan melindungi Anda, Yang Mulia! Melindungi wanita dari kerajaan pengkhian—" 


"Dia kubawa sebagai istriku, apa kamu tidak paham juga?!" Rowan membentak sambil memukul kuat lengan kursi kerja


"Saya tidak bisa menerimanya, Yang Mulia! Hanya anda satu-satunya orang yang saya hormati. Menempatkan wanita itu di sisi Anda hanya akan mencoreng kehormatan juga kekuatan Anda!" 


"Jika kamu menghormatiku, seharusnya kamu tidak meragukan keputusanku, Sir Samuel." 


Samuel tersentak kemudian Rowan berdiri sambil menarik kerah orang kepercayaannya tersebut dengan sorot mata kekecewaan.


Kini, Rowan kembali ke kamar dimana wanita yang ia khawatirkan selama dua pekan terakhir berada. 


"Maafkan, aku." 


Rowan mengambil posisi tidur menyamping lalu mendaratkan satu ciuman di bahu istrinya yang terekspos. 


Ini lebih menakutkan bagi Rowan. Saat pertama kali melihat kondisi Ziria di danau, kemarahan dan ketakutannya meluap-luap. Sangking sulitnya menahan amarah, ia memilih menghajar Kasion lebih dulu kemudian menyelamatkan Ziria yang nyaris tenggelam untuk kedua kalinya di danau.


"Aku akan membalas mereka, jadi mari kita menyaksikannya bersama." Bibir Rowan beralih mendarat di sepasang kelopak mata Ziria lalu naik ke dahi.


Keesokan harinya, kicauan burung terdengar tanpa henti dan saat membuka mata, ingatan mengerikan semalam langsung menyerbu Ziria hingga ia tersentak mendadak. Akan tetapi yang tertangkap pertama kali oleh matanya adalah dada bidang berkulit tan yang sedikit mengilap saat disorot cahaya di pagi cerah.


"Rowan? Sungguh? Kamu sudah kembali? Ini sungguh kamu?" 


Ziria tidak peduli lagi dan langsung duduk di atas perut Rowan, mencubit sepasang pipi pria itu. Ia sangat takut jika ini bukan mimpi juga ternyata dirinya masih terjebak bersama Kasion. 


Ukh


Rowan melenguh pelan saat kedua pipinya sedikit berdenyut dan ketika membuka mata, ia sudah menangkap selirnya duduk di atas perut dan terus bertanya apakah itu sungguh dirinya.


"Tidak apa-apa, ini sungguh aku." 


Rowan langsung membawa Ziria dalam dekapannya, mengusap puncak kepala wanita itu hingga ke ujung rambut.


"Jadi pria yang datang saat itu sungguh kamu?" Ziria bertanya.


Rowan angguk kepala sambil memejamkan mata. "Ya." 


Senyum Rowan mengembang mendengar hembus napas kelegaan istrinya. 


Padahal aku berharap dia tidak kembali lagi, tapi saat itu aku sangat mengharapkan kedatangannya. Sial! Aku jadi mau menangis! 


Ziria sudah tidak bisa menahan air mata jadi ia menangis dalam diam, tapi Rowan sadar bahwa Ziria menangis, napas wanita itu tidak teratur bersama dada bergemuruh juga dada bidangnya merasakan jatuhnya bulir-bulir air mata.


Rowan mengembuskan napas lalu merubah posisi dengan Ziria di bawahnya.


"Apa dia menyentuhmu?" tanya Rowan.


Rambut hitam di padu mata biru, juga tubuh kekar berkulit tan. Entah kenapa Ziria baru sadar bahwa Rowan sangat tampan, pria itu terlihat lebih menawan.


"Kenapa? Apa kamu sudah jijik padaku sekarang?" Ziria tersenyum sinis sambil menatap Rowan di atasnya lalu kembali berkata, "Kalau gitu biarkan aku kembali ke Syremis." 


Rowan berdecak lalu semakin merunduk, menyatukan pangkal hidung satu sama lain. "Tidak. Aku hanya akan membersihkannya dengan sentuhanku. Jadi katakan, dimana dia menyentuhmu." 


Jantung Ziria berdegup lebih kencang bersamaan wajah yang mendadak bersemu, tapi buru-buru ia memalingkan wajah.


"Dia hanya menyentuh rambutku, ah, dipertemuan pertama dia juga menangkup kedua tanganku," ungkap Ziria, gurat di wajah berganti penuh kemarahan.


Rowan langsung meraih salah satu tangan Ziria, menaruhnya di depan bibir lalu berujar, "Dia menyentuhmu dua kali? Dasar bede*ah." 


"Bagaimana denganmu? Kamu bahkan bertindak lebih dari itu." Ziria melirik sinis.


"Ada apa denganku? Aku, kan, suamimu." 


Ziria kalah telak lalu benar-benar menghindari tatapan Rowan yang sekarang tengah terkekeh karena tingkah mati kutunya.


"Selamat pagi, Ziria." Rowan tersenyum sambil mengecup singkat telapak tangan selirnya.


...BERSAMBUNG ......