
...SELAMAT MEMBACA...
Baron Jils datang menemui Rowan setelah mendengar kabar bahwa putranya datang ke istana Sol sebelum hilang malam kemarin, tapi Rowan bahkan tidak mengatakan apapun saat Baron Jils terus memohon agar Rowan menjelaskan sesuatu tentang keberadaan dan kesalahan putranya.
"Tolong keluar, Baron Jils. Yang Mulia masih banyak urusan setelah ini."
Paolo menuntun Baron Jils keluar namun saat perjalanan keluar dari istana sol, pria paruh baya itu berpapasan dengan Ziria yang berjalan seorang diri hendak menemui Rowan di ruang kerja.
"Kamu! Kamu pasti tahu dimana putraku, kan?!"
Ziria tersentak saat pria paruh baya tiba-tiba membentaknya, tapi lebih mengejutkan lagi saat Rowan sudah berdiri di belakang pria itu.
Dia siapa? Itulah yang Rowan tangkap di wajah Ziria saat menatap dirinya yang berada di balik punggung Baron Jils tanpa sepengetahuan pria paruh baya itu.
"Aku tahu kamu menggoda putraku saat Yang Mulia tidak ada! Dasar jal—"
"Apa yang mau kamu lakukan pada selirku, Baron Jils?"
Rowan menangkap tangan gemuk penuh bulu Baron Jils yang hendak menyerang Ziria.
Baron Jils panik dan segera menarik tangan, menundukkan kepala sangat dalam. "M-maafkan, saya, Yang Mulia."
Rowan mendengus lalu mengelap tangan menggunakan sapu tangan dan menjatuhkannya di lantai setelah digunakan kemudian ia mendekat ke sisi Ziria, memandang Baron Jils penuh kecaman.
"Jangan menuduh selirku seenakmu. Tentang keberadaan putramu yang hilang sejak malam kemarin ...," Mata Rowan bergerak ke atas dengan jengah lalu kepalanya merunduk, menatap Ziria yang menengadah menunggu lanjutan kalimatnya yang tergantung.
Rowan lantas mengukir senyum sambil menekan kuat pipi kanan Ziria menggunakan bibirnya lalu melirik Baron Jils dengan seringai kecil. "Kami sungguh tidak tahu karena malam itu kami menghabiskan waktu bersama dan menghangatkan tubuh satu sama lain di ranjang."
Wajah Baron Jils berubah merah padam lalu tanpa banyak perkataan lagi pria paruh baya tersebut undur diri, jalan tergesa-gesa meninggalkan Istana Sol sementara Ziria langsung mencubit dada kanan Rowan.
"Ah, itu menyakitkan!" keluh Rowan.
Ziria mendecih sambil bersedekap dada setelah mendorong Rowan untuk menjauh darinya.
"Lebih dari itu, berikan aku uang." Ziria mengulurkan telapak tangan kanan, wajahnya menghadap samping dihias wajah sedikit memerah karena malu.
Rowan langsung menutup mulut dengan sebelah tangan. "Menggemaskan."
"Ekhem! Memang apa yang ingin kamu beli?" tanya Rowan sambil berdehem, menyadarkan diri sendiri.
"Itu ... jika kamu mengizinkanku. Aku mau pergi jalan-jalan bersama Donna di perkotaan."
Rowan langsung menoleh ke salah satu pilar besar di lorong dan disana empat kesatrianya tengah mengintip.
"Kenapa kamu juga ada di sini, Sialan!" Mark mendesis saat harus berdempetan dengan Samuel.
Samuel menggaruk pipi agak canggung. "I-itu, aku mau minta maaf pada Nyo- Nyo- Nyo—"
"Apa sesulit itu mengatakan Nyonya?" Donna mengembuskan napas. Padahal tadi dia hanya sendiri, menemani Ziria dari jauh saat meminta izin untuk keluar pada Rowan, tapi siapa sangka tiga pemuda mendadak muncul dan ikut bersembunyi di tempat yang sama dengannya.
"Aku akan memberimu, tapi jalan bersamaku." Rowan langsung mengamit tangan Ziria, membawa selirnya pergi dengan cepat sampai setengah berlari.
Ada apa denganku? Ziria tertegun sambil menatap tangan yang digenggam Rowan.
...***...
Donna mencubit pipi sendiri melihat Ziria telah kembali sambil diikuti dua kesatria yang menteng banyaknya kantung belanjaan, tak lupa Rowan ada di sisi Ziria sambil menahan senyum seperti puas meneraktir sang selir.
"Apa kamu senang? Kita bisa belanja lagi besok," kata Rowan.
Ziria melirik dua kesatria di belakangnya yang menggeleng kuat padanya, seolah itu bukan hal baik. Yah, itu memang benar. Kalau saja hari ini ia pergi ke perkotaan bersama Donna, hal seperti tadi tidak akan terjadi. Rowan yang selalu berlebihan menyangkut dirinya mencoba membeli setiap produk toko yang diliriknya . Kalau tidak bilang ingin membeli sesuatu dalam toko setelah ia lirik, mungkin pusat perbelanjaan sudah menjadi miliknya hari ini juga karena Rowan berniat membeli toko itu.
Lantas mata hijau Ziria menatap Rowan yang masih setia menunggu jawabannya. "Ya, ini sangat-sangat menyenangkan sampai aku tidak ingin pergi berbelanja bersamamu lagi."
Setelahnya Ziria berjalan lebih cepat tapi Rowan mencekal lengan wanita itu.
"Apa lagi?" Ziria menatap sengit.
"Hari ini Marquess Balaren baru menyelesaikan urusannya. Aku berencana ke tempatnya untuk menunjukkan sesuatu padamu."
Ziria sangat lelah, sungguh ia ingin tidur siang sekarang, tapi melihat binar harapan di mata Rowan membuatnya dilema. Tidak, Ziria berpikir untuk menghancurkan saja harapan di mata pria gila itu tapi entah mengapa ia tidak bisa melakukannya.
Seraya mengembuskan napas lelah, Ziria mengangguk dan membiarkan Rowan kembali membawanya pergi dari Istana Sol menuju rumah Marquess Balaren.
Saat sampai disana, keduanya disambut oleh Marchioness. Kediaman Marquess terletak di wilayah perbatasan jadi kediamannya terlalu dekat dengan alam bahkan Ziria bisa melihat fatamorgana pegunungan dari halaman belakang yang super luas.
Kini dua pasangan tersebut berada di halaman belakang. Marchioness telah menyiapkan meja dan empat kursi di halaman tersebut tanpa penghalang di atasnya karena siang telah beranjak ke sore hari jadi langit yang dipoles jingga lembut memberi kesan kehangatan dan romantisme.
"Sepertinya Anda cukup kesal hari ini pada Yang Mulia." Marchioness berujar setelah menyesap darjeeling di cangkir porselennya.
Ziria lantas melempar pandang pada Rowan yang sibuk membicarakan senjata api keluaran baru bersama Marquess Balaren jauh di depannya.
Marchioness yang memiliki pembawaan lemah lembut dan penuh kehangatan mengingatkan Ziria pada ibunya, keduanya memiliki tatapan dan gaya bicara yang persis. Tanpa menutupinya lagi, Ziria langsung bercerita tentang bagaimana tingkah Rowan saat berbelanja dan Marchioness pun tertawa.
"Yang Mulia pasti sangat menyukaimu. Aku sudah memperhatikan Yang Mulia sejak beliau berusia sepuluh tahun. Saat itu dia dikucilkan oleh semua orang karena berasal dari hubungan gelap Raja bersama seorang pramunikmat. Beliau menutup diri dan bertindak seperti orang yang tak pernah ada di istana, tapi sejak berusia 15 tahun ia mulai menunjukkan potensinya sebagai calon penerus. Kurasa sejak kamu datang kemari, aku bisa melihat banyak ekspresi dari wajah dingin Yang Mulia yang sebelumnya terselimut energi membunuh."
Mendengar cerita Marchioness, sekelebat ingatan tentang anak lelaki berambut gimbal dan kotor terlintas di memorinya lalu ditatapnya Rowan lebih lekat dan bersamaan senjata api berlaras panjang tersebut di tembakkan ke seekor burung di langit, Ziria pun langsung sadar bahwa anak saat itu adalah orang yang sama, suaminya sendiri.
Rowan tersenyum puas melihat bidikannya mengenai sasaran. Burung itu jatuh tak jauh darinya kemudian ia menoleh pada Ziria sambil tersenyum lebar, merentangkan tangan. Akan tetapi, Rowan menurunkan tangannya saat Ziria berdiri dan menatapnya dengan aneh, itu bukan tatapan bercampur benci dan kemarahan. Namun, Rowan tidak peduli dan langsung mendekap Ziria sangat erat.
"Kamu sampai tercengang melihat betapa kerennya aku menggunakan senjata api?" Rowan menggoda.
"Rowan, apa alasanmu menyukaiku sampai seperti ini karena pertemuan kita 12 tahun lalu?" tanya Ziria, nyaris berbisik.
...BERSAMBUNG ......
...Terima kasih sudah meninggalkan vote+komentar di cerita ini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya👋...
...Btw, semoga kalian gak bosen sama adegan romantis Rowan ama Ziria sampe 15 chapter ini....