Esnared By A Mad King

Esnared By A Mad King
BAGIAN 17



...SELAMAT MEMBACA...


Semua orang di istana berbondong-bondong setelah mendengar kabar bahwa Rowan akan mengeksekusi Baron Jils beserta Kasion. Selain kasus pelecehan yang dilakukan Kasion, Rowan menyingkap segala kejahatan yang disembunyikan keluarga tersebut. Mulai dari lelang ilegal perbudakan manusia, penggelapan dana, sampai hubungan yang terjalin antara Kasion dan Clair.


Clair tidak mampu mengangkat kepalanya lebih tinggi ketika Kasion yang berada di podium pengeksekusian terus menyerukan namanya, memohon perlindungan. Wanita itu amat malu sampai-sampai ayahnya sendiri mengepalkaan tangan menahan rasa malu yang membuat kepalanya dipaksa untuk menunduk.


"Hanya karena selir itu, beraninya kamu mempermalukanku sampai seperti ini!"


Clair meremas kuat gaun mewahnya, menggigit bibir bawah untuk meredam segala emosi negatif yang tidak mampu ia lampiaskan pada pria yang terus menyunggingkan senyum puas di sampingnya, Rowan.


Sementara itu di sisi lain, Ziria tidak meninggalkan paviliun sejengkal pun. Wanita itu enggan ikut menonton dan memilih berdiam diri di perpustakaan seorang diri dengan Samuel dan Mark berjaga di luar. Samuel yang merasa bersalah mengajukan diri untuk menjadi ksatria pengawal Ziria namun hanya Mark yang tidak terima dengan kehadiran Samuel sehingga sejak keduanya berada di jam pengawalan yang sama, Ziria tidak bisa menutup telinga mendengar segala ocehan adu mulut keduanya yang tentu hanya berisi makian dan kata-kata kotor, seperti anak-anak.


"Kamu tampak terbiasa di sini."


Napas Ziria tercekat sesaat, mendapati pria berambut perak muncul entah dari mana dan berada di balik punggung sofa tempatnya membaca buku.


"Felix?"


Felix angguk kepala, mengambil posisi duduk di samping Ziria. "Seharusnya aku pulang lebih cepat, ya." Felix tersenyum tipis.


Ziria lantas menjatuhkan buku, memeluk pria itu dengan erat dan sedikit bersedih. "Kupikir kamu gagal dalam penaklukkan monster karena tidak kunjung kembali."


Felix tertawa pendek dan pelan kemudian merogoh saku jubah, sebuah batu Mana biru jernih langsung disodorkan pada Ziria.


"Magdia menunggumu. Pulihkanlah inti Manamu. Itu adalah batu Mana yang kudapatkan setelah mengalahkan seekor naga."


Ziria melepaskan pelukan, menatap lekat batu Mana tersebut. Tidak seperti biasa, ia tampak terdiam dan tidak bersemangat. "Kamu sungguh mengalahkan naga?"


"Iya. Tapi naga itu belum dewasa jadi mudah membunuhnya."


Felix menatap Ziria lekat, rasa senangnya sedikit raib. "Kamu harus kembali, Ziria."


"Iya, tentu aku akan kembali." Ziria mengenggam erat batu itu namun Felix sadar bahwa mata hijau wanita itu bergetar gelisah, seolah ragu atas apa yang baru saja dikatakan.


"Aku datang kemari untuk menjemputmu namun jika kamu masih dalam kondisi tak mampu menggunakan sihir, sulit bagi kita keluar bersama dari Vetezia."


Ziria angguk kepala kemudian Felix mendaratkan bibirnya di kening Ziria karena sepertinya seseorang menuju ke ruang perpustakaan. "Aku akan membuat pria itu melonggarkan keamanannya padamu. Saat itu aku harap kamu tidak ragu untuk kembali ke Syremis karena sepertinya kamu mulai terpengaruh dengan pria itu."


Setelah berkata demikian, Felix berkelebat sementara Ziria tertegun dan berusaha menepis apa yang master menara sihir itu katakan.


Apa katanya? Aku ragu?


Ziria membatin, sibuk dengan pikirannya sendiri sampai akhirnya Rowan muncul daru balik pintu lalu memeluknya. Untung saja ia sudah menyimpan batu Mana itu di balik gaunnya.


"Seharusnya kamu melihat bagaimana pria itu menemui ajalnya," ujar Rowan.


Ziria diam, matanya bergerak mengamati Rowan lebih dalam. Ragu? Sekali lagi Ziria mempertanyakan keyakinannya, mengingat semua perlakuan kasar Rowan yang penuh perhatian.


Felix benar. Sepertinya dia sudah terpengaruh oleh keberadaan Rowan karena sebelumnya tidak seorang pun yang menunjukkan rasa cinta sebesar Rowan terhadapnya. Orang-orang di Syremis mengangguminya, keluarganya pun enggan melepaskannya karena ia terikat erat dengan Magdia. Maka dari itu, Ziria mengakuinya.


Dia ragu untuk kembali ke Syremis karena pria gila yang terlalu obsesi di hadapannya, Rowan Terrence.


"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" Rowan mengerutkan dahi sembari menangkup rahang Ziria.


"Terima kasih sudah menghukumnya." Ziria langsung menunduk.


Sementara itu Rowan tercenung seperkian detik lalu senyumnya mengembang sembari merebahkan tubuh di sofa panjang tersebut, menaruh kepala di atas pangkuan Ziria.


Tidak berhenti di situ, Rowan menatap selirnya penuh cinta sambil memilin rambut blonde yang terurai depan dada.


"Ada apa denganmu?" Kali ini Ziria yang dibuat bingung, jantungnya berdetak lebih cepat lalu ia merasa perutnya keram seolah digelitik oleh perasaan yang aneh.


Rowan memejamkan mata setelah mendesah pelan. "Aku sangat senang karena kamu disini."


...***...


Bagaimana caranya agar Rowan menaruh kebencian pada wanita itu?


Kepala Clair berdenyut setiap kali memikirkan cara dan kemungkinan Rowan membenci Ziria namun ia tidak menemukan apapun.


"Hal apa yang sangat dibenci oleh Yang Mulia?"


Pertanyaan Felix yang tiba-tiba membuat fokus Clair terpecah, seolah tempurung yang sejak tadi membungkus kerisauannya lebur.


"Rowan itu sangat benci jika selirnya diganggu tapi yang paling dibencinya adalah sebuah pengkhianatan. Jika selir yang amat dia cintai mengkhianatinya, kupikir itu bisa membuat keretakan di antara mereka."


Sudut bibir Felix terangkat. "Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan, Permaisuri?"


Meneliti pahatan wajah rupawan sang selir simpanan, bibir bergincu tebar Clair menunjukkan seringai tipis. "Rayulah wanita itu."


"Tapi dia akan menyentuh saya, apa Anda rela?"


Clair tertawa pendek. "Tidak akan lama. Jika keduanya sudah salah paham, kamu bisa kembali padaku."


Sudut bibir Felix berkedut jijik. Kembali apanya? Jika penjagaan Rowan mengendur, saat itu juga ia akan lari dan membawa Ziria kembali bersama ke menara sihir Syremis.


Kemudian, esok harinya. Felix mengunjungi paviliun et luna secara diam-diam, menemui Ziria yang tanpa penjagaan tengah menikmati waktu pagi hari di taman belakang.


"Ziria."


"Eh? Felix? Kenapa kamu terang-terangan menunjukkan diri disini?" Ziria panik setengah mati.


"Tenang saja. Ah, apakah kamu sudah menggunakan batu Mana itu?"


Ziria menarik Felix ke tempat yang sulit dijangkau oleh seseorang. "Iya sudah, tapi kurasa butuh waktu menggunakannya. Sebelumnya aku pernah memulihkan inti Manaku namun karena tak memberi jeda alhasil kerusakannya makin parah."


"Begitu. Jadi kapan kamu bisa menggunakan itu dan menghancurkan segel tak kasat mata di kakimu?" Mata Felix turun pada pergelangan kaki Ziria.


"Tentu saat kita akan kabur. Melepasnya sekarang akan membuat Rowan tahu bahwa aku hendak melarikan diri dan tentu dia akan tahu bahwa inti Manaku dalam proses pemulihan."


Ziria terus menjelaskan sambil menatap pergelangan kakinya.


"Dimana pria itu?" tanya Felix.


"Dia tidak ada disini, sejak kemarin batang hidungnya tidak terlihat. Kurasa dia sibuk menaklukkan monster dan akan kembali dalam dua hari." Ziria menjawab sambil mengembuskan napas, seakan-akan sedih karena Rowan tidak ada.


Pandangan Felix menipis, ekspresinya berubah tak bersahabat menyadari bahwa perlahan Ziria menaruh perasaan pada Rowan. Sebelum wanita itu menyadarinya, Felix berpikir untuk membawa Ziria kembali sesegera mungkin ke Syremis.


"Ini kesempatan. Kita bisa kabur sekarang."


"Tidak bisa. Insiden buruk yang menimpaku akhir-akhir ini membuatnya menaruh penyihir tingkat tinggi di istana. Jika Rowan kembali, maka penyihir itu akan dibebas tugaskan."


Ziria tidak beralasan. Itu sungguh benar adanya. Selain penyihir tingkat tinggi, Rowan juga menempatkan ke empat kesatria kepercayaan di sekelilingnya.


"Aku akan datang lagi menemuimu."


"Tunggu. Kenapa kamu bisa leluasa kesana kemari?"


Felix mengulum senyum. "Aku menyamar sebagai pelayan biasa, jadi mudah bagiku berkeliaran ditambah tidak ada yang tahu identitas asliku."


Ziria angguk-angguk kepala. Yah, dia tidak perlu terlalu cemas lagi pula Felix bukan orang yang bertindak ceroboh selain itu jika ada Felix di sekitarnya, Ziria merasa sedikit lebih aman.


"Aku akan menunggumu." Ziria tersenyum lebar sementara Felix tergugu beberapa detik sebelum akhirnya memalingkan wajah penuh rasa bersalah dan berkelebat.


...***...


Felix kembali menghadap Clair dan berkata bahwa selir Rowan menerima rayuannya bahkan mengizinkan dirinya untuk berkunjung saat malam hari.


Clair tergelak. Pada akhirnya, Ziria sama saja sepertinya hanya saja wanita dari Syremis itu lebih tidak tahu malu.


Lantas Clair mengambil sebuah kertas dan pena, menulis sebuah surat lalu memerintahkan ajudannya untuk menyampaikan itu pada Rowan yang sedang bertugas di luar.


"Yah, mari kita lihat bagaimana dia bertahan ketika satu-satunya orang yang melindunginya mulai menjauh." Clair tersenyum culas.


Butuh waktu sehari sampai surat Clair sampai di tangan Rowan. Pria itu meremas surat Clair setelah membaca isinya.


"Kuharap kamu segera kembali. Perlakuan istimewa yang kamu berikan pada selir itu membuatnya bertindak semena-mena. Bagaimana bisa dia menggoda selirku untuk mengunjunginya setiap malam. Sepertinya ketimbang diriku, kamu harus lebih mewaspadai wanita dari kerajaan pengkhianat karena dia adalah lawanmu."


Rowan mendecakkan lidah. Sekarang Clair tidak lagi menyembunyikan fakta suka membawa banyak lelaki ke tempat tidur setiap malam, tapi permainan macam apalagi yang berusaha wanita itu mainkan? Rowan berpikir bahwa Clair berusaha membuat kesalahpahaman antara dia dan Ziria.


Itulah yang Rowan pikirkan sebelum akhirnya kembali ke istana pada malam hari dan mendapati wanita yang amat dicintainya berada di dalam kamar bersama pria berambut keperakan dan keduanya saling mendekap satu sama lain.


...BERSAMBUNG ......