
...SELAMAT MEMBACA...
Clair bangun di pagi hari di ranjang besar ditemani dua pria tanpa sehelai benangpun di sisinya.
"Keluarlah."
Clair memberi perintah pada dua pria yang merupakan seorang kesatria di istananya. Tanpa banyak bicara lagi, dua pria tersebut keluar sementara Clair tampak bosan dan membutuhkan wajah baru untuk mengisi kehangatan ranjangnya. Kalau saja Rowan tidak menjaga jarak, mungkin ia tidak perlu melakukan hal ini.
"Selamat pagi, Permaisuri."
Suara indah yang terdengar sedikit merdu membuat Clair mengalihkan pandang, mendapati seorang pelayan pria muda berambut keperakan. Clair terkesima cukup lama, pria itu tampak seperti lukisan, dan Clair yakin sebelumnya tidak ada pelayan itu.
"Kamu baru disini?" tanya Clair penuh selidik.
Pria itu tersenyum ramah, menunjukkan sisi lugunya sebagai pria muda. "Ya, Permaisuri. Saya baru bekerja hari ini dan kepala pelayan meminta saya untuk menyambut Anda di pagi hari."
"Siapa namamu?"
"Felix."
Senyum Clair merekah, itu sangat serasi dengan penampilannya. Clair kemudian menepuk sisi kasur yang kosong sambil memandang Felix penuh gairah.
"Jika kamu mau menjadi priaku, tidak perlu bekerja sebagai pelayan. Bagaimana?"
Felix mengerjap namun tetap mengikuti perintah Clair, membiarkan wanita tersebut membelai wajahnya. Felix Orfias, master menara sihir tersebut mendapat informasi bahwa Clair Holdis suka memelihara lelaki di belakang Raja, mereka harus memiliki wajah rupawan dan tubuh atletis jika hendak menjadi pria simpanan wanita itu. Felix yakin bahwa tubuhnya tidak begitu kekar dan gagah, namun wajahnya cukup menjamin bahwa Clair akan meliriknya maka dari itu, ia menyelinap dan mendaftar sebagai pelayan.
Wanita agresif dan berkuasa seperti Clair pasti membutuhkan pria lugu yang bisa dijinakkan sesuai keinginannya. Felix akan menjadi pria seperti itu dibalik segala sifat culasnya karena dengan begitu ia bisa memenuhi keinginan Zared, ah, tidak, mungkin keinginannya sendiri.
"Jika saya tidak bekerja sebagai pelayan, apa yang harusnya saya lakukan sebagai pria Anda?" Felix bertanya.
Clair tertawa pelan lalu meminta Felix mengambil jubahnya, untuk menutupi tubuh telanjangnya. Clair benar-benar terhibur oleh kehadiran Felix, pria lugu itu bahkan tidak menatapnya kurang ajar dalam posisi tak mengenakan apapun.
"Kamu hanya perlu menemaniku setiap malam, disini." Clair menunjuk ranjangnya.
"Apa saya akan memijat Anda?"
Clair hanya tersenyum. "Entahlah, mungkin lebih dari itu."
Setelahnya Clair bangkit dari ranjang, menggoncang bel kecil di atas nakas sampai kepala pelayan datang menghadapnya.
"Mulai sekarang dia adalah priaku. Urus penampilannya, itu sangat tidak layak dengan wajah tampannya."
"Baik, Ratu."
Felix kemudian dibawa pergi untuk berganti pakaian lebih bagus dan senyumnya mengembang karena rencana untuk menjadi simpanan Permaisuri Vetezia sangatlah mudah.
Di waktu bersamaan, tepatnya di Istana Sol.
Sepanjang perjalanan mengitari Istana Sol, Ziria menyadari bahwa tatapan para penghuni sedikit melunak namun Ziria tidak terlalu mempedulikan hal itu kecuali pada tiga orang yang tiba-tiba ditugaskan untuk menjaganya, salah satu dari mereka adalah Donna.
Donna mengenakan seragam kesatria begitupun dua lainnya. Pria berambut cokelat terang dengan senyum kelewat ramah bernama Mark lalu pria berwajah datar dengan lingkar hitam jelas di bawah mata bernama Paolo.
"Nyonya, nyonya! Ledakan sihir waktu itu sungguh luar biasa!"
Donna mendengus sambil memutar bola mata malas melihat tingkah Mark yang mempraktekan bagaimana Ziria saat menyerang Kingtrix, keempat orang itu berada di rumah kaca yang membungkus taman bunga dilengkapi satu meja dan empat kursi untuk menikmati waktu santai, seperti menikmati jamuan teh ringan di siang hari seperti sekarang.
Sikap Mark itu justru membuat Ziria sedikit senang, suasana jadi lebih cair karena dua penjaga lainnya lebih banyak diam, Mark sudah seperti musim semi di tengah berakhirnya musim dingin.
Raut wajah gembira Mark luntur seketika, berganti kengerian yang disusul oleh dua rekannya.
"Ada apa, Mark? Padahal kamu sangat antusias tadi." Ziria tersenyum jahil melihat Mark kelabakan dan berusaha mencari topik lain.
Mark berdehem melirik dua rekan yang sudah memalingkan wajah darinya, menolak bantuan dari lirikan matanya.
"U-untung saja inti Mana Nyonya bermasalah!" Mark tersenyum kaku dengab kedua tangan terkepal ke udara sementara Ziria langsung tertawa pelan, membuat tiga orang tadi tertegun.
Padahal sejak datang, Ziria tidak pernah tertawa tetapi tawa itu tak bertahan lama karena Rowan tiba-tiba datang bersama Drake.
"Marquess Balaren datang kemari bersama istrinya, dia ingin melihatmu." Rowan meraih tangan kanan istrinya, mendaratkan kecupan di punggung tangan.
"Marquess Balaren? Tiba-tiba?"
Rowan kemudian memberi perintah pada empat orang di belakangnya untuk pergi. Sudah empat hari berlalu sejak insiden di danau dan saat itu pula Rowan sibuk di istana utama, membeberkan beberapa fakta kemenangan melawan kingtrix. Tidak melihat Ziria selama itu membuat Rowan sangat nelangsa jadi setelah ke empat orangnya pergi, pria itu langsung mendaratkan ciuman pada bibir ranum istrinya.
"Hah ... sial, kalau saja Marquess tidak datang, aku bisa menghabiskan waktu lebih lama denganmu. Bagaimana dengan kakimu? Apa perlu kugendong?" Rowan mengulurkan tangan.
Sentuhan tiba-tiba dari Rowan entah mengapa menjadi hal yang biasa bagi Ziria walau begitu tetap saja sedikit mengejutkan namun Ziria tidak bisa marah dan mempermasalahkannya.
"Ini sudah lebih baik, aku bisa berjalan sendiri." Ziria lantas berdiri tanpa menyambut uluran tangan Rowan.
Hendak menemui Marquess Balaren tanpa jalan beriringan membuat Rowan mendengus, istrinya itu selalu keras kepala.
Kini keduanya berakhir di halaman besar, ada gazebo putih berkubah dilengkapi meja bundar dan empar kursi putih di tengahnya dan dua kursi telah diisi oleh Marquess dan Marchoness Balaren.
Marchioness Balaren sudah lansia namun keanggunannya di masa muda masih melekat jelas, benar-benar elegan ditambah senyum ramahnya saat menyambut Raja dan selir begitu lembut.
"Maaf karena saya sudah bersikap lancang sebelumnya, Selir."
"Aku sudah tidak mempermasalahkannya, Marquess."
Jonath, Marquess Balaren mengulum senyum lalu melirik istrinya yang terus memperhatikan Ziria.
"Sebenarnya saya kemari untuk mengucapkan rasa terima kasih. Berkat Anda, banyak nyawa yang terselamatkan."
Ah, apa ini tentang Kingtrix? Yah, wajar saja berterima kasih justru seharusnya aku mendapat sebuah penghargaan, tapi lihatlah, Penguasanya bahkan begitu acuh!
Ziria melirik sinis Rowan yang sibuk menikmati secangkir teh, tidak memperhatikan perbicangannya dengan Jonath.
"Tatapanmu sungguh menakutkan, Selirku." Rowan menoleh pada Ziria sembari mengulum senyum mengejek.
"Ukh!" Ziria langsung memalingkan wajah dan Marchioness yang sejak tadi memperhatikan langsung terkekeh.
"Anda berdua sungguh harmonis," puji Marchioness.
Rowan tertegun, matanya sedikit melebar sebelum mengerjap dua kali sedangkan Ziria menahan decakan lidah.
"Anda salah sangk—"
"Ya, Anda sangat benar, Marchioness. Semoga Keharmonisan diantara kami membuahkah penerus yang hebat." Rowan menyela Ziria cepat sembari menunjukkan senyum puas.
...BERSAMBUNG ......