
...SELAMAT MEMBACA...
Desa Orban hanya tersisa puing-puing reruntuhan, tidak ada kehidupan disana namun jejak penyerangan monster terlihat jelas. Warga yang selamat telah dievakuasi, lokasinya lumayan jauh dari sini namun tidak menutup kemungkinan bahwa kehidupan di tempat evakuasi terendus oleh monster.
Tim perburuan telah sampai di desa tersebut, mereka hanya istirahat lima menit setelah berhenti tadi karena Ziria mengatakan hal cukup mengerikan.
“Katanya dia merasakan energi monster mengerikan menuju kemari. Tapi tidak ada apapun setelahnya. Sepertinya dia sengaja melakukan itu pada kita.”
"Bisakah kalian diam? Jika Yang Mulia mendengarnya, ini tidak akan berakhir baik."
Beberapa kesatria yang menggerutu langsung mengatupkan bibir rapat saat Drake mengintrupsi lalu meminta mereka mendirikan kamp untuk bermalam sampai Ziria merasakan kembali kehadiran monster namun tetap saja Rowan membagi timnya untuk memeriksa lingkungan sekitar.
Rowan tampak sibuk dengan rombongannya saat memberi perintah, begitupun tim peneliti dan tim sihir jadi Ziria hanya berdiri termenung sambil diawasi Donna yang mengenakan seragam kesatria wanita.
Ziria melirik Donna sekilas sembari duduk di salah satu bongkahan besar reruntuhan, memperhatikan semua orang yang bekerja.
"Kamu lebih cocok mengenakan itu ketimbang seragam pelayan."
Donna berdiri tegap sambil menaruh tangan di balik punggung, berdiri di sisi Ziria. “Tentu saja. Jika kamu tidak ada mungkin aku tidak perlu menggunakan seragam pelayan!”
Jawaban ketus Donna justru memicu senyum Ziria. Katanya wanita di sampingnya itu mendapat hukuman karena lengah terhadapnya yang berhasil menggunakan batu Mana dan sejujurnya Ziria jadi merasa bersalah.
“Maaf membuat keadaanmu jadi sulit."
Donna terbelalak sambil menatap Ziria penuh arti, rasanya jadi aneh mendengar permintaan maaf dari wanita yang tidak dia sukai walau begitu Donna tidak tahu mengapa ada rasa senang menyergap.
Jika dipikirkan lagi, Donna merasa kasihan pada Ziria. Tinggal seorang diri dan dikelilingi kebencian semua orang pasti menyulitkan ditambah harus membentuk hubungan pernikahan yang tidak diinginkan. Tapi jika lebih diperhatikan, sepertinya kondisi ini bukanlah hal paling berat yang pernah Ziria alami jadi semakin hari berada dekat wanita itu, Donna semakin penasaran.
Hari kian petang, perlahan matahari telah terbenam dan beberapa tenda telah selesai dibangun. Para kesatria mulai menyalakan nyala api obor lalu melakukan patroli sementara tim peneliti menyusun barang ke dalam tenda disusul tim Liav yang memasang sihir pelindung di sekitar kamp agar terhindar dari serangan mendadak dari luar.
“Hah?”
Ziria dituntun untuk mengisi tenda paling besar diantara lainnya dan setelah masuk malah mendapati Rowan telah menunggunya. Pria itu mengenakan atasan putih dan celana hitam, terlihat sesak untuk tubuh berototnya.
“Kenapa terkejut? Lebih aneh jika kamu tidur terpisah denganku. Sekarang kemari.”
Rowan duduk di kursi kayu sambil menepuk paha, memberi kode pada Ziria untuk duduk di sana namun wanita tersebut mendengus sambil memalingkan wajah.
“Ziria.”
Suara Rowan berubah berat dan dalam sehingga sekujur tubuh Ziria bergidik. Jika sudah begitu, tidak ada pilihan lain baginya selain menurut dan duduk di atas pangkuan pria itu.
“Kurasa tadi wajahmu agak pucat setelah merasakan kehadiran monster.” Tangan Rowan yang kasar menangkup wajah Ziria.
“Berhenti membuatku mual dengan segala tindakanmu.” Ziria menyingkirkan kedua tangan Rowan.
Rowan mendesah pelan lalu meraih kunci dari sakunya, membuka rantai yang mengekang kedua tangan Ziria. Bekas dari borgol mengecap kemerahan di pergelangan tangan mulus sang selir.
“Apa ini menyakitkan?” Rowan mengusap lembut bekas itu sedangkan Ziria diam sejenak memperhatikan raut kekhawatiran yang menurutnya tidak pantas Rowan tunjukkan padahal itu bukanlah apa-apa dibanding perlakuan kemarin-kemarin.
“Sebenarnya kenapa kamu begitu menginginkanku?” Ziria bertanya.
Usapan Rowan terhenti bersama mata yang memandang Ziria lekat. “Entahlah, kenapa, ya?”
Ziria langsung mengerutkan dahi keras, sangat tidak puas dengan jawaban Rowan. Ingin sekali ia tarik bibir tebal pria berstatus suaminya itu supaya berhenti tersenyum menyebalkan seperti saat ini.
Tapi, ada satu anak perempuan dari luar Vetezia yang tersesat hingga berdiri di kediaman terbengkalai yang diperuntukkan aib sepertinya. Anak perempuan itu berusia 10 tahun dan tanpa rasa tidak nyaman mendekatinya yang berpenampilan sangat kumuh. Rambut Rowan panjang hingga sepinggang karena tidak pernah dipotong atau dicuci, sangat bau, lengket dan kusut pakaian pun compang-camping dan tebal oleh kotoran, sangat menyedihkan.
Rowan ingat betul bahwa anak itu membantunya keramas dan mencuci pakaiannya bahkan setelah itu memberi sekantung kue kering yang katanya dia ambil diam-diam dari jamuan makan.
“Kamu harus terus tumbuh dan jadi kuat, buktikan nilaimu pada mereka. Dengan begitu alih-alih membuangmu, mereka akan mengangkatmu lebih tinggi di atas kepala mereka dengan begitu kamu bisa berdiri sendiri tanpa perlu mengkhawatirkan siapapun bisa mengusikmu dari atas sana!”
Pfftt ...
Mengingat perkataan bocah polos itu sungguh membuat hari-hari suram Rowan sedikit berwarna, sayangnya, mereka tidak pernah bertemu lagi setelah Rowan menunjukkan jalan kembali. Sempat terpikir olehnya, kalau saat itu dia tidak menunjukkan jalan kembali mungkin anak perempuan itu sudah sejak lama dalam genggamannya. Namun, siapa sangka saat sudah dewasa mereka kembali dipertemukan. Sayang sekali Rowan belum bisa mengikis jarak dan sepertinya dia dilupakan oleh wanita itu.
“Apa yang lucu?” Ziria menaikkan sebelah alis.
“Penyebab aku sangat menginginkanmu.” Rowan kemudian membawa Ziria ke ranjang kayu, membiarkan selirnya berbaring karena seharian belum juga beristirahat.
Sikap Rowan memang sangat baik di saat seperti ini, tapi itu tidak sama sekali mengusir niatan kabur Ziria. Sampai saat ini ia masih memikirkan bagaimana caranya merebut batu Mana yang tersemat di tongkat para tim sihir, setidaknya satu saja dan dengan begitu inti Mananya akan benar-benar pulih.
“Yang Mulia! Kami menemukan dua Strix mengarah kemari!”
Drake berseru dari luar dan saat itu Rowan sigap memasang kembali rantai di kaki dan tangan Ziria membuat wanita tersebut terkejut dan marah besar.
“Apa yang kamu pikirkan cuman kemungkinan aku kabur?! Tidak bisakah kamu membaca situasi?!”
Rowan menatap dingin Ziria yang berteriak. “Aku membaca situasi. Jika kamu kabur maka perburuan Strix tidak akan berhasil.”
Rahang Ziria mengeras, kewaspadaan Rowan sungguh berada di tingkat abnormal.
Waktu istirahat langsung tiada dan semua orang keluar dari tenda, menatap ke langit dimana 2 strix besar datang.
Ziria berada di depan Rowan dan beberapa kesatria sementara di sisi kiri dan kanannya ada Liav dan empat pengguna sihir.
“Inti mana Strix sebelah kanan ada di kepala lalu yang kiri di tengah perut.” Ziria mengarahkan telunjuk pada dua Strix.
“Serang saat mereka sudah berada dalam jangkauanmu.” Ziria melirik dua pengguna sihir penyerang yang bersiap menembakkan sihir.
Namun saat Strix sudah dekat, tembakan keduanya meleset karena Strix pandai berkelit. Ziria panik dan menoleh ke belakang, tapi semua orang tampak tenang saat dua orang gagal menyerang namun semua terjawab dalam sekejap saat Rowan berkelebat, melompat sambil mengangkat pedang tinggi-tinggi lalu membelah Strix sebelah kanan dari kepala hingga kaki sedangkan yang kiri langsung ditebas secara vertikal tepat menghancurkan inti mana pada tengah perut.
Gila! Pantas saja Syremis bisa dibantai sampai seperti itu.
Ziria tercengang dan mendekat ke arah jasad Strix, sayang sekali tidak ada batu Mana. Batu Mana terbaik hanya ada di monster tingkat bahaya hingga langka, tapi walau Strix masuk dalam monster tingkat bahaya mereka tidak memilikinya kecuali ... bos Strix yang saat ini meraung dan memekakkan telinga hingga hutan di sekitar mereka bergemuruh.
“Ukh!”
Ziria muntah darah. Energi kegelapan terasa pekat dan memenuhi desa Orban, jika saja ia bisa menggunakan sihir pasti ini tidak akan memberi cidera apapun pada tubuhnya. Untung saja Liav menyadari hal itu dan langsung melindungi tubuh Ziria dengan sihir.
“Gila! Itu Strix?!”
Semua orang berseru saat Strix berukuran dua kali lipat muncul di hadapan mereka. Bulu Strix biasanya cokelat tapi kali ini hitam keunguan begitupun bola mata besarnya.
“Itu Kingtrix. Strix yang berevolusi menjadi Raja setelah memakan rekannya sendiri.” Ziria mengulas senyum, ada sebersit ide gila yang terlintas dalam benaknya setelah mendapat sihir perlindungan dari Liav.
...BERSAMBUNG ......