
...SELAMAT MEMBACA...
Rowan mendesah panjang melihat laporan dari Jonath terkait penyeludupan senjata api disusul munculnya pergerakan separatisme di Vetezia. Padahal baru hari ini bisa kembali ke Istana Sol dan menghabiskan waktu dengan sang selir tapi permasalahan yang tidak ada habisnya membuat Rowan harus berangkat bersama Jonath untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Sekarang sudah pukul delapan malam, cepat sekali berlalu padahal siang tadi rasanya berjalan lambat di halaman sambil berbincang bersama Marquess dan Marchioness Balaren.
"Apa Ziria sudah makan malam?" Rowan bertanya pada Donna yang baru saja tiba, wajahnya sungguh suram.
"Nyonya mengunci kamar sejak sore tadi dan katanya dia tidak mau makan apapun."
Rowan tahu pasti apa penyebab kemarahan itu, jelas karena sepanjang perbincangan tak henti ia menggoda wanita tersebut.
"Bawakan saja makan malam untuk kami dan taruh di depan pintu kamarnya."
"Nyonya tidak mau membuka pintunya, Yang Mulia."
Rowan menaruh pena bulu bertinta dalam wadah kecil kemudian menyambar jubah tidur hitamnya. "Lakukan saja apa yang kuperintahkan."
Setelah berkata demikian Rowan benar-benar meninggalkan ruang kerja sedangkan itu Ziria membuka pintu balkon, duduk di pagarnya sambil menghirup oksigen di malam hari yang terasa menyejukkan dada. Rambut blondenya yang tergerai dibiarkan berkibar oleh angin, membiarkan beberapa mata penjaga yang berpatroli memperhatikan selir secara diam-diam, selir raja mereka begitu indah.
Mengenakan gaun tidur yang mengekspos lengan hingga punggung putihnya membuat Ziria seperti bulan yang bertengger di balkon kamar Paviliun Et Luna.
"Ah, ini sangat nyaman." Ziria tersenyum sambil memejamkan mata, namun tiba-tiba aroma kayu hitam memenuhi indera penciumannya.
Rowan mengulum senyum walau dalam sekejap senyum di wajah istrinya raib setelah menyadari kehadirannya yang mendadak. Saat kelopak mata berbulu lentik itu terbuka, sepasang mata bak permata Zamrud berkilau membuat Rowan menahan napas sesaat. Walau sering melihatnya, kali ini entah kenapa mata istrinya terlihat lebih indah.
"Kenapa kamu bisa disini?!"
Ziria menoleh ke arah pintu yang jelas masih terkunci lalu saat menoleh ke bawah, itu terlalu curam jadi dari mana pria itu bisa muncul di hadapannya sambil berdiri di pagar balkon tanpa goyah sama sekali bahkan sekarang menyampirkan jubah tidur di balik punggungnya.
"Kupikir ada yang mencoba bunuh diri lagi." Rowan tersenyum kemudian menarik Ziria untuk masuk ke dalam namun sebelum itu, delikan tajam penuh hawa membunuh terarah pada para penjaga yang telah mencuri pandang pada selirnya.
Kami hampir saja mati!
Mereka langsung terbirit-birit seperti tikus yang hendak diterkam sementara itu Rowan memaksa Ziria duduk di sofa lalu melangkah ke arah pintu, membuka kunci sambil membawa troli berisi makan malam yang telah Donna siapkan di luar pintu.
"Mari makan malam bersama."
"Hah?"
"Kamu belum makan, kan."
Rowan duduk di dekat Ziria dan meletakkan beberapa jenis makanan dalam satu piring lalu diserahkan pada Ziria.
"Kamu butuh energi untuk malam ini." Rowan mengulum senyum dengan wajah yang diselimuti gairah.
...***...
Sial! Sial! Sial!
Esok harinya, kicauan burung terdengar merdu di pagi cerah yang cocok untuk melakukan banyak aktivitas seperti berjalan-jalan di taman, tapi Ziria justru berakhir di ranjang dengan pinggang yang terasa akan runtuh. Aroma dan jejak-jejak percintaan terlihat jelas di ranjang besar itu, tapi si pelaku sudah pergi sebelum fajar datang.
"Aku tidak bisa menemanimu selama beberapa hari ke depan, jadi mari habiskan malam ini tanpa menyia-nyiakan waktu sedetikpun."
Itukah perkataan Rowan sebelum menyerangnya sepanjang malam, itu sangat sakit dan nikmat di waktu bersamaan namun sangat berdenyut dan tentu energinya sangat terkuras sampai-sampai hanya mampu terbaring lelah dengan tubuh yang dipenuhi tanda merah keunguan bahkan ada bekas gigitan di area dada, leher juga pahanya.
"Bagus. Kalau bisa jangan kembali lagi! Aku tidak perlu ditemani hewan buas sepertimu!"
Gerutuan Ziria itu membuat Donna yang baru masuk tercengang. Di bawah selimut besar yang menutup hingga sebatas dada Nyonya-nya membuat Donna tersipu malu dan mengerling nakal.
"Ya ampun, Nyonya! Kenapa kamar ini seperti medan perang? Apakah seseorang menyerang Anda?!" Donna menunjukkan keterkejutan tapi Ziria tahu betul bahwa wanita itu mengejek.
"Bukan seseorang, tapi seekor. Sebaiknya suruh dayang membersihkan kekacauan ini dan bantu aku untuk membersihkan diri."
Ziria mengangkat kedua tangan, meminta Donna membantunya berdiri. Mata hitam Donna menangkap beberapa jejak di tubuh Ziria lalu kembali berujar.
"Ya ampun, hewan apa yang sampai meninggalkan banyak gigitan di tubuh Anda. Ckckc, hewan itu pasti sangat buas."
"Ah, padahal kamu tahu pelakunya tapi tetap mempercayai perkataanku. Haruskah kuceritakan ini padanya?" Ziria tersenyum manis.
Donna langsung merapatkan mulut, menggeleng cepat dan Ziria pun tampak puas.
Setelah kamar dan dirinya kembali dalam kondisi jauh lebih baik, Ziria segera menerima undangan yang sebelumnya hendak Donna berikan.
Itu adalah undangan pesta teh sederhana yang diselenggrakan di Kediaman Permaisuri dan tentu akan ada wajah baru yang datang sebagai tamu selain dirinya.
"Sebaiknya Anda tidak perlu menanggapinya. Bukan pilihan baik pergi kesana tanpa Yang Mulia," nasihat Donna.
"Tapi lebih buruk jika selir menolak undangan seorang permaisuri." Ziria membalas lalu menaruh undangan di atas meja.
"Anda mau datang?"
"Mau bagaimana lagi. Jika ditolak mungkin ke depannya banyak masalah berdatangan padaku jadi lebih baik melakukan pencegahan."
Setelah itu surat balasan di kirim ke kediaman Permaisuri. Senyum culas Clair terulas lebar lalu dipandangnya empat wanita bangsawan dari keluarga bergelar yang tengah menikmati jamuan teh kecil dalam ruang santainya.
"Wanita itu menerimanya. Siang besok akan menjadi hari yang sangat terik untuknya." Clair tertawa panjang.
...***...
Siang harinya, mengenakan gaun canary dihias beberapa aksesoris classy, rambut disanggul agak tinggi, lalu membawa payung putih saat menghadiri pesta teh siang di kediaman Permaisuri membuat seluruh penghuni disana terdiam penuh kekaguman pada sosok Ziria.
Bahkan keempat wanita bangsawan yang telah menunggunya di halaman bersama Claire yang berpenampilan glamour sampai membuat celah antar bibir. Ziria menahan senyum angkuh terlebih saat alis antagonis Clair menukik curam, sungguh pemandangan yang menyenangkan baginya.
"Suatu kehormatan bisa menghadiri pesta teh yang Permaisuri gelar." Ziria tersenyum sambil sedikit merendah.
Claire tersenyum manis dan mempersilakan Ziria untuk mengisi sisa kursi yang kosong. Di meja itu tersaji kue-kue mungil yang tersusun dalam wadah bertingkat namun teh yang digunakan berkualitas buruk, tidak beraroma dan warnanya sangat gelap, itu bahkan bukan teh hitam.
"Saya tidak tahu, tapi apa Permaisuri dan Nyonya sekalian memang suka menikmat teh jenis ini?" Ziria tersenyum sambil menyelipkan nada mengejek.
Tentu saja tidak. Bangsawan tinggi seperti ini pasti hanya menikmati teh seperti earl grey, darjeeling, chamomile, teh hijau dan ceyon. Mereka sengaja menyajikan teh kualitas buruk untuk mengejeknya. Tapi itu tidak mudah, Ziria cukup tidak meminumnya dan menyerang balik.
"Lancang sekali kamu!"
Salah seorang wanita bergincu tebal meninggikan suara namun Ziria hanya menatap tanpa senyum yang terbit.
"Ah, apa anda baru saja berteriak pada Selir Kesayangan Yang Mulia?" Ziria menutup mulut dengan ujung jari, memberi tatapan tak percaya pada wanita itu.
"Ukh!" Wanita itu langsung diam dan gemetar takut.
"Ah, maaf, Selir. Sepertinya dayangku tidak becus."
Plak!
Clair berdiri lalu menampar pelayan yang menyiapkan teh atas perintahnya. Pelayan itu sampai tersungkur dan meringis dan Ziria hanya menatap datar pelayan itu dan Clair secara bergantian, sungguh kejam.
"Ah, kalau saya boleh tahu, teh apa yang anda sukai?" Clair mengelap tangan yang digunakan menampar dengan sapu tangan lalu menoleh pada Ziria dengan senyum tipis.
"Earl Grey."
"Pilihan yang sangat bagus. Saya juga sangat suka itu."
Clair menahan amarah kemudian memerintah pelayan membawa teh baru dan jamuan teh kembali berlanjut dan tentu kali ini Ziria merasa dirinya tak diberi ruang untuk masuk dalam perbincangan. Dirinya seolah terasing karena Clair tampak asik berbincang bersama empat wanita itu dan mengabaikannya.
"Saya dengar Anda dirantai saat pergi ke pusat penelitian sihir, sepertinya Yang Mulia sangat kasar pada anda."
"Saya juga dengar tentang itu, apa gelang di kaki anda itu semacam borgol sihir?"
"Ya ampun, bagaimana bisa anda berkata penuh percaya diri kalau anda selir kesayangan Yang Mulia padahal anda diperlakukan seperti budak. Ah, maaf, saya hanya mengatakan kebenaran."
Clair mengulas senyum sambil mengangkat cangkir, menyesap earl grey dengan tenang lalu mengamati raut wajah Ziria.
Ziria tertawa kecil lalu sedikit menyingkap kerah tinggi gaunnya, menunjukkan beberapa gigitan samar milik Rowan.
Tangan kanan Ziria menangkup wajah lalu berujar agak sedih. "Ya, Anda benar sekali. Yang Mulia sangat kasar sampai-sampai meninggalkan banyak jejak menyakitkan seperti ini di tubuh saya. Bukankah kata kejam lebih cocok untuknya? Dia itu seperti hewan buas di musim kawin, saya sungguh kewalahan setiap malam."
Hah!
Keempat bangsawan itu bersemu membayangkan bagaimana malam panas yang dihabiskan Ziria bersama sosok penguasa Vetezia tersebut, tapi raut wajah mereka berubah ketakutan saat beralih menatap Claire yang wajahnya sudah merah padam.
"Ah, maaf, sepertinya saya harus kembali Permaisuri. Yang Mulia melarang saya untuk keluar terlalu lama."
Ziria bangkit berdiri lalu membungkuk rendah, undur diri penuh kesopanan lalu memberi isyarat mata pada Donna yang sejak tadi menemani dari kejauhan untuk segera kembali. Membiarkan Clair terbakar oleh api yang dibuatnya sendiri.
...BERSAMBUNG ......