Ephemeral

Ephemeral
Chapter 2: Freedom (3)



I just want to know you, know you better, know you better now


I just want to know you, know you better, know you better now


I just want to know you, know you better, know you better now


I just want to know you, know you, know you...


Jam menunjukkan pukul 04.21 A.m. dan lagu itu masih terputar terus-menerus. Orang gila mana yang  terus saja memutar lagu yang sama sejak 8 jam yang lalu?


Seolah tidak mengenal kata bosan, suara khas Taylor swift dan Ed sheeran terlantun indah dalam lagu Everything has changed.


Dan sepertinya orang yang memutar lagu ini memang sudah gila. Bagaimana tidak, dari  jam 8 malam tadi gadis ini sudah senyum-senyum sendiri dan terus melantunkan lagu ini.


Alasan gadis ini melakukannya sederhana; Adnan menyapanya dan mengajaknya mengobrol.


Mari saya ceritakan sedikit bagaimana hal tersebut bisa terjadi meski itu berarti harus memutar ulang waktu pada beberapa jam sebelumnya.


Disekolah, 17:13 WITA


Setelah selesai meng-copy  Descendant of the sun, Marnis berkonsultasi degan Amalia tentang Drama Korea apa saja yang banyak memiliki adegan 18+ atau paling minimal yang memiliki banyak kiss scene-nya. Akibatnya Citra harus menunggu sejam lebih. Citra mulai berpikir bahwa persahabatannya dengan Marnis ini seperti Kutu pada Manusia, tentu Marnis adalah kutunya.


Ingatkan gadis itu bahwa mulai besok ia akan memutuskan tali persahabatannya dengan Marnis.


Jam sudah menunjukkan pukul 17:30, balkon kelas XI-MM 2 yang tadinya dipenuhi siswa kelas tersebut sekarang sudah kosong. Di  dalam kelas pun hanya ada mereka bertiga; Amalia, Marnis dan Citra.


"Cut temenin gue ke toilet, kebelet nih.” Interupsi Citra pada sahabatnya itu. Ah, mantan sahabatnya.


"Sendiri aja gausah manja." Balas Marnis acuh dan kembali melanjutkan obrolannya dengan Amalia.


Citra mendengus sebal. Jika tidak mengingat bahwa badan Marnis lebih besar dari dirinya ia pasti sudah mengajak Marnis untuk berduel. Tapi Citra cukup sadar diri. Bukannya kemenangan yang akan ia raih jika mengajak Marnis berduel yang ada beberapa tulangnya akan patah.


Dengan hati setengah ikhlas gadis itu melangkahkan kakinya keluar dari kelas XI-MM 2. Hari sudah mulai gelap dan lampu-lampu sekolah sudah dinyalakan.


Toilet wanita sendiri berada di lantai bawah bersebelahan dengan Toilet pria. Yang artinya Citra harus turun ke lantai bawah sendirian.


Perlahan kakinya menyusuri lantai sekolahan sendirian. Sampai di dekat taman sekolah ia melihat seseorang duduk diam disana.


Tentu Citra sudah berpikir yang aneh-aneh. Dengan hati dag-dig-dug gadis itu berusaha tenang saat melewati taman sekolah.


Namun apa mau dikata, rasa keingintahuan gadis belia itu lebih besar dari kadar ketakutannya. Saat ia melewati taman sekolah gadis itu justru menoleh ke sosok yang sedang duduk tersebut. Betapa terkejutnya ia dikala sosok tersebut tersenyum kepadanya.


Badannya menegang, telapak tangannya basah karena gugup dan debaran jantungnya makin menggila.


"Hai." sapa sosok tersebut masih dengan senyum yang melekat di bibirnya.


Citra berani bersumpah bahwa ia merasa seperti sedang berhayal sekarang. Atau mungkin sosok di depannya ini tidak nyata? Atau mungkin sosok ini merupakan jelmaan dari setan penunggu sekolah ini?


Meski ia memiliki berjuta pertanyaan yang ia ajukan namun tubuhnya sudah merespon sapaan sosok tersebut. Citra tersenyum kepadanya.


"Kok belum pulang?" tanya sosok tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Adnan.


"Masih nungguin teman." balas Citra santai. Sepertinya kandung kemih gadis itu mati rasa.


"Adnan." ujar pria itu dengan senyuman di wajahnya dan sembari mengulurkan tangannya.


"Citra." balasnya dengan senyuman.


"Gue duluan yah. Mau ke toilet.” ternyata kandung kemihnya belum mati rasa.


"Mau gue temenin?" Tawar Adnan tulus.


"Gausah udah biasa sendiri kok hehe."


"Fyi, toilet cowok kalo lewat jam 5an biasanya ada yang suka ngetok-ngetok. Jadi kalo lo denger suara yang aneh-aneh yah banyak-banyak baca ayat kursi aja." Adnan sialan.


"Yaudah temenin buruan gue udah kebelet." Adnan hanya membalasnya dengan senyuman. Pria itu bangkit dan menenteng sebelah tali tas punggungnya. Citra berjalan duluan dan pria itu mengekorinya dari belakang.


"Gih masuk gue tunggu disini.” Ucap Adnan yang dibalas dengan anggukan oleh Citra.


Dari dalam toilet ia bisa mendengar suara gedoran dari toilet sebelah meskipun samar. Hal itu membuatnya buru-buru menyelesaikan urusannya dan membuka pintu toilet dengan wajah pucat.


"***** gue denger ada yang gedor di sebelah.” Adu Citra dengan nafas tak beraturan.


"Gue juga." balas Adnan santai.


Setelah urusan toilet selesai, Citra memutuskan untuk duduk di taman sekolah bersama dengan Adnan. Lumayan, modus sama gebetan. Yah meskipun dalam diam.


"Lo kok bisa temenan sama si Marnis? Dia kan bobrok?" Adnan memulai percakapan.


"Gue juga bobrok kok." jawab Citra santai.


"Lo juara kelas." balas Adnan.


"Lo juga juara kelas." tentu Citra tak mau kalah.


"Lah? Ngapa jadi gue?" Tanya Adnan dengan alis bertaut.


"Temen-temen lo juga bobrok semua, terus kenpa lo yang juara kelas ini mau temenan sama mereka?" She hits the jackpot.


Adnan tak menjawab pertanyaan gadis itu, pria itu malah tertawa renyah dan sialnya itu membuat nafas Citra sedikit tercekal.


Bagaimana mungkin Adnan yang dingin dan cuek bisa terlihat begitu hangat sekarang?


Apakah pria ini bipolar?


"Pasti temen lo lagi minta blue film in Asian version sama si Amalia." tanya Adnan masih dengan senyumnya.


"No porn, no life. Thats her principe." Citra tersenyum saat mengatakanya. Membully Marnis adalah salah satu hal yang selalu bisa mengukir senyum di wajahnya.


"Then how 'bout you? You like it too?" Kini atensi pria itu terpatri oleh iris hitam milik gadis di sebelahnya.


"I prefer action not just a theory." Katakanlah gadis ini gila. Tapi Citra tetaplah Citra. Ia tak ingin berpura-pura menjadi orang lain. Bahkan jika hal itu bisa menghancurkan imangenya di depan pria yang disukainya.


"Same." pandangan mereka terkunci. Iris hitam Citra dan Mata Hazel Adnan.


"Daripada film-film yang kayak gitu, gue lebih suka nonton anime One Piece." Citra mengalihkan pandangannya ke lain arah. Ia bisa mati muda jika terus-terusan menatap manik hazel pria itu.


"Kata orang, kalo suka banyak sesuatu yang sama itu biasanya jodoh and we already have two similiarities." Adnan masih setia menatap gadis disampingnya.


"Mulus banget lo ngalusnya." Cibir Citra si pembohong ulung.


"Kenapa lo suka one piece?" Pria itu baru saja mengacuhkan Pernyataan gadis didepannya dengan sebuah pertanyaan.


"Menurut gue, one piece itu sedikit banyak menggambarkan realita yang terjadi di dunia nyata. Banyak orang di dunia yang gak sadar bahwa sebenarnya mereka itu terkukung dan gak pernah bener-bener bebas.” jawab Citra.


"Kalo lo?" Kini giliran gadis itu bertanya.


"I think you dont need a reason to love something." Citra mendengus. Adnan ternyata menyebalkan.


Melihat Citra yang memasang wajah kesal membuat Adnan tersenyum. Gadis itu lucu.


"Tapi gue beneran ga punya alasan yang spesifik kenapa gue suka sama one piece but it teachs me a lots about life." Ujar Adnan.


"Boleh kita temenan Cit?" Tanya pria itu, masih kekeh memandangi gadis disampingnya.


Citra mengalihkan pandangannya dan lagi, netra mereka bertemu.


Citra tersenyum, "boleh"


    Setelah kejadian tersebut seyuman selalu terpatri di wajahnya.


Entah kenapa Citra merasa begitu bahagia. Kalau begini, ia tidak jadi memutuskan tali persahabatannya dengan Marnis. Sebaliknya, gadis itu malah berencana mentraktir sahabatnya itu makan di kantin besok.


“Waktu terus berjalan tanpa kita sadari. Akan ada yang datang juga yang pergi. Tetapi rasa itu tak kunjung lari, malah melekat di dalam hati.


Apakah ini hanya sebuah kebutulan atau memang jalan takdir?


Jika hanya sebuah kebetulan, mengapa saya merasa seperti saya telah lama sekali mengenal anda?


Padahal bertegur sapapun kita tak pernah. Tapi entah mengapa kita selalu betemu dalam ketidaksengajaan, yang tampaknya ada campur tangan Tuhan didalamya.”


C.7.2


**


**