Ephemeral

Ephemeral
Chapter 2: Freedom (2)



    Karena semua murid XI – TKJ 2 adalah orang – orang yang peka terhadap masalah kode – mengode, maka dapat di pastikan bahwa kali ini Bu Pintamalam memang tidak akan masuk. Boleh dibuktikan dengan suasana kelas yang hening karena para penghuninya tengah menikmati aktivitas mereka masing – masing. Kalau ditanya mengapa mereka sangat yakin bahwa Ibunya tidak akan masuk, maka mereka akan menjawab "Karena perasaan tidak akan membohongi si pemilik rasa".


Seperti biasanya, jika tidak ada guru maka terbentuklah ekstrakulikuler dadakan bagi murid XI – TKJ 2. Ada yang belajar dance, belajar bermain bola, belajar menggambar, belajar menonton, belajar menghayal, dan belajar bernyanyi. Ah, jangan lupakan juga belajar menggosip, yang merupakan kelas unggulan para cewek – cewek.


Ditengah lapangan terlihat beberapa wajah familiar bagi kelas XI – TKJ 2 yang ternyata adalah Ilham, Umar, Tedy, Tomi, Willy dan Richard. Mereka terlihat tengah bermain sepak bola bersama dengan Adnan, Andrew, Reza, Irfan, Pale dan Luke. Singkatnya dilapangan sekarang tengah terjadi pertarungan sengit antara kelas XI – TKJ 2 dan kelas XI – MM 2. Tentu saja banyak murid yang tidak ingin melewatkan pertandingan ini. Bagi kaum hawa, hal ini adalah salah satu dari keajaiban dunia, karena mereka bisa melihat pangeran – pangeran tampan bertanding satu sama lain, menghayalkan bahwa merekalan yang sedang di perjuangkan. Sedangkan bagi kaum adam, hal ini menjadi tontonan yang menarik karena beberapa nama yang bertanding, termasuk dalam daftar resmi team sepakbola sekolah.


    Sementara yang lain sibuk menonton pertandingan terpanas sepanjang sejarah, Citra dan Marnis malah terlihat santai berada di kantin belakang. Meskipun mereka sedikit terganggu dengan suara sorakan – sorakan, mereka tak memiliki niat sedikitpun untuk melihat dan mencari tahu  apa yang sebenarnya terjadi.


"Cit, lo bawa uang berapa?" Tanya Marnis, sembari menghabiskan Bakso yang sedang ia santap, bersama dengan es teh manis disampingnya.


"20 ribu, kenapa emang?" Balas Citra sambil menatap malas kearah Marnis. Ia tahu betul apa maksud dan tujuan temannya, apalagi jika tidak meminjam uang, dengan alasan uangnya ketinggalan dikelas dan ia terlalu malas untuk mengambilnya.


"Minjem dong, uang gue ketinggalan di kelas." Benar bukan feeling-nya? Itu karena perasaan tidak akan membohongi si pemilik rasa, sesuai dengan Motto XI – TKJ 2.


Setelah acara pinjam – meminjam dan makan – memakan dikantin, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi ke koperasi depan sekolah. Keputusan ini dibuat oleh Citra karena ia ingin membeli Susu indomilk rasa original, dengan alasan jika ia sering meminum susu maka kulitnya juga akan seputih susu.


    Dalam perjalanan menuju koperasi depan sekolah, terjadilah pertemuan yang mungkin telah direncanakan oleh si pemilik takdir atau memang hanya kebetulan semata. Citra yang notabennya adalah seorang wanita tentu saja tidak bisa menolak saat melihat kaca, hal itu sudah seperti ritual wajib para wanita, bahwa ketika mereka melihat kaca maka mereka akan berhenti sebentar dan mengcek penampilan mereka.


Tapi siapa yang sangka? Disaat ia sedang asik memperbaiki penampilannya, dari arah samping kanannya dua orang pria lewat. Entah mengapa saat mereka lewat waktu berputar menjadi sangat lama, hingga salah seorang dari pria tersebut dengan entah sengaja atau tidak, ia menatap kearah cermin. Seolah waktu terhenti sejenak, hanya untuk membiarkan dua insan tersebut bertatap muka. Dua insan tersebut adalah Citra dan Adnan.


Mata mereka saling bertemu. Saling memandang satu sama lain, seperti pandangan kerinduan. Tidak ada suara apapun yang tercipta diantara mereka, namun ini bukan berarti mereka berdiam diri. Nyatanya, mata mereka saling bercerita satu sama lain, saling membagi kisah yang mungkin tidak akan terdengar oleh telinga.


Sayangnya, itu hanya beberapa detik saja. Beberapa detik yang terasa seperti berjam – jam, aneh bukan?


    Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan para siswa SMK N 13, karena setelah Istirahat pertama mereka semua akan dipersilahkan untuk pulang, sebab para guru akan mengadakan rapat. Meskipun begitu ada sebagian dari mereka yang menolak untuk pulang dan lebih memilih berlama – lama disekolahan, adapula yang langsung lari ke luar sekolah saat berita pulang cepat disebarkan. Semuanya memiliki cara tersendiri untuk menikmati waktu mereka masing – masing.


Sementara itu, dikelas XI – TKJ 2 terlihat Marnis yang tengah memasukkan laptopnya kedalam tas, bersiap untuk pulang. Sedang disampingnya, Citra terlihat sedang memainkan handphone-nya. Sudah tidak ada lagi barang yang berhamburan di atas mejanya, karena telah ia masukkan kedalam tas. Sisanya hanya menunggu Marnis saja.


"Cit, temenin gue ke kelas XI – MM 2 dulu yah." Pinta Marnis.


"Mau ngapain?" Tanya Citra sambil melemparkan tatapan curiga, kepada wanita yang ada di sebelahnya.


"Jangan bilang, lo mau bisnis bokep yah?" Tuduhnya.


"Elah pikiran lo kenapa jelek mulu sih sama gue?" Tanyanya dengan nada tidak terima.


"Gue tuh mau minta Drama Korea, sama si Amalia anak XI – MM 2.” Jelas Marnis.


"Alhamdullilah akhirnya lo tobat Cut" Cengir Citra sambil memeluk temannya tersebut sangat erat.


Setelahnya, mereka berdua menuju kelas XI – MM 2, yang berada di seberang kelas mereka. Tetapi karena masih penasaran dengan perubahan Marnis yang begitu drastis, yaitu ; dari penggemar bokep menjadi penggemar Drakor (Drama Korea), akhirnya Citra-pun mengeluarkan suaranya.


"Cut, emang lo mau minta Drama Korea yang mana?" Citra bertanya penasaran.


"Itu yang The Legend of the Blue Sea. Gue biasanya nonton di tv kalo malam-malam, tapi karena gue penasaran jadi gue minta yang udah full aja sama Amalia.” Jawab Marnis santai.


"Oh, Dramanya Lee Min Ho itu yah?" Citra memastikan. Sebenarnya ia juga tidak begitu mengetahui banyak tentang hal – hal berbau Korea. Hanya sekedar tahu saja.


"Lo ngapain tiba – tiba mau nonton Drakor?" Citra mulai mempertanyakan modus temannya itu.


"Ih, gue mah pecinta semua jenis film Cit. Lu aja yang selalu suudzon sama gue." Jelasnya yang langsung  di sambut dengan decak kagum oleh Citra.


“Ya maap, kerjaan lo kan nontonin bokep mulu kalo dikelas. Jadi kan gue bawaannya suudzon hehehe.” Citra menyampaikan pembelaannya.


     Sesampainya mereka di kelas XI – MM 2, mereka disambut oleh para murid laki – laki dari kelas tersebut yang sedang duduk di bangku depan kelas. Namun, karena jumlah mereka lebih banyak daripada jumlah bangku yang tersedia, akhirnya mereka memutuskan untuk mem-block jalan di depan kelas dan membuatnya menjadi tempat perisirahatan yang nyaman. Pose mereka hampir sama semua, selonjoran, kancing baju yang terbuka, dan berkipas menggunakan buku pelajaran.


Karena ini bukanlah pemandangan yang baru untuk mereka, jadi Citra dan  Marnis menerimanya dengan lapang dada. Sebab, pemandangan seperti  ini juga kerap kali mereka saksikan di  kelas mereka.  Sesaat setelah Tomi dkk selesai bermain bola dan bermain yang lain-lainnya.


"Woi" Sentak Marnis kepada gerombolan cowok-cowok tidak beradab itu. sontak seluruh mata menatap kepada mereka berdua.


Citra langsung memasang muka datarnya, seolah tidak  terjadi apapun.


Padahal hatinya sudah  menjerit kesenangan. Debarannya mengalahkan dentuman music di club-club  malam, bahkan tomorrowland saja kalah. Penyebab utamanya adalah kedua bola mata itu, yang tidak lain  dan tidak bukan dimiliki oleh Adnan.


Ya. Adnan ada di gerombolan para kaum tidak tau malu tersebut. Dan Citra tidak tau, harus bahagia atau harus merasa jijik. Hahaa.


"Apaan dah lo Bandar bokep?" Reza. Cowok berdarah banjar tersebut menjawab sentakan Marnis dengan tangan yang masih mengipas.


"Wihhh. Marnis gue minta film dong, yah gak banyak sih. 12 aje untuk menjadi penemanku  malam ini heheee." Celetuk Pale dengan cengirannya.


"Gue sih oke-oke aja yah pal, tapi bayarannya lo tau sendiri lah yah.” Marnis mulai membicarakan bisnis laknatnya.


"Iye, paham gue mah. Tenang aja besok gue traktirin lo di kantin.” Bisis berjalan lancar.


"Oke. Deal." Marnis menyetujui.


"Panggilin Amalia dong. Gue ada bisnis nih.” Pinta marnis


Rezapun berteriak memanggil gadis itu. tak  lama, keluarlah seorang gadis cantik dengan wajah kearab-arabannya.


Cantik. Itu first impression yang Citra dapatkan.


"Masuk nis. Di bangku gue aja copy-nya.” Ajak Amal kepada Marnis.


Keadaan kelas sudah sepi. Hanya ada Amalia dan 3 orang siswi perempuan lainnya yang sedang menikmati wi-fi sekolah.


Amalia duduk di deretan pojok depan di depan meja guru.


Marnis mengobrol dengan Amalia sembari menunggu file yang dimintanya selesai di-copy.


Mereka berdua bercerita tentang kelakuan absurd teman-teman kelas mereka. Tawa pun tak luput menghiasi cerita mereka. Namun, entah mengapa cerita mereka tidak begitu menarik untuk citra. Entah karena ia sudah hapal  betul bagaimana kelakuan teman-temannya atau karena bagi hatinya ada objek lain yang lebih menarik; Adnan.