
Ada banyak cerita yang mengisahkan tentang indahnya masa – masa SMA, lengkap dengan ciri khasnya masing – masing.Mulai dari karakter yang lugu, pintar, tukang gosip, tukang bully, anak gaul, bandel, lucu sampai yang di sekolah kerjaannya hanya tidur pun tersusun rapi dalam balutan kisah khas anak SMA. Ahhh, indahnya masa SMA.
Keindahan dan kebahagiaan yang tidak pernah didapat oleh seorang Gadis yang tengah duduk diatas kursi panjang sambil menatap kearah lapangan. Berpegangan pada dinding yang berada di depannya. Takut kalau – kalau ada angin yang menerpa, Ia akan terjatuh.
Mengikuti arah tatapannya, hanya terdapat sekumpulan Pria yang memakai baju yang sama dengannya sedang bermain Sepak bola.
Disekitarnya, Terdengar suara bisik – bisik para gadis yang tengah membicarakan topik yang sama; Adnan.
"Eh, coba liat deh Adnan ganteng banget yah"
"Udah ganteng, jago main bola lagi. Boyfriend-able banget yah si Adnan"
"Duh, sampe keringetan gitu si Abang ganteng. Sini – sini Gue elapin."
Begitu kira – kira hal yang sedang di obrolkan oleh para kaum hawa SMK Negeri 13, dan objek itu juga yang tengah menjadi bahan observasi gadis bernama Citra Anninditya tersebut.
Gadis yang kini duduk dikelas 11 jurusan Teknik Komunikasi dan Jaringan tersebut sebenarnya sudah lama mendengar tentang Adnan. Namun ia belum memiliki keinginan untuk mengenal lebih. Apalagi mengagumi, seperti yang dilakukan kebanyakan gadis di sekolahnya.
Tapi sepertinya situasi telah berubah sekarang. Karena, entah kenapa ia merasa senang dapat melihat pria tersebut. Meskipun hanya dari jauh dan tanpa ada kata yang terucap. Hal itu sudah cukup membuat harinya lebih berwarna.
Bel pertanda bahwa istirahat telah berakhir telah dibunyikan 1 jam yang lalu. Seharusnya sekarang adalah pelajaran Sejarah. Tapi, karena Pak Yoppie sedang mengikuti pelatihan, jadi sebagai gantinya Beliau memberikan tugas untuk dikerjakan.
"Woi kerjain tugasnya Pak Yoppie. Dikumpul loh!" Willy berteriak dari tempat duduknya. Entah kepada siapa, karena tidak ada yang mendengarkannya. Kelaspun isinya tinggal setengah.
Syiffa dkk berada di depan kelas sambil bergossip ria. Teddy, Ilham, Tomi dan Umar yang sedang konser. Nama band mereka adalah 'CHOLI BAND' yang tertulis dengan sedikit graffiti di papan tulis
Umar yang berperan sebagai Vokalis terlihat menghayati menyanyikan lagu Sandiwara Cinta yang sedang diputar oleh Alfi yang berperan sebagai bagian Audio. Tomi yang berperan sebagai Gitaris dengan sapu kesayangannya yang berwarna merah, juga alisnya yang sengaja di angkatnya. Teddy yang berperan sebagai Drumer. Ilham yang berperan sebagai Bassis dengan kemoceng berwarna merah, kuning, hijau dan biru andalannya.
Suasananya begitu ramai dan tidak terkendali. Tapi di tengah – tengah keributan, terdapat seorang manusia yang tengah terlelap tanpa terganggu sedikitpun.
Disana, di pojok kanan belakang di dekat jendela.
"Buset si Tokici. Ribut gini masih aja tidur. Kagum gue" Ujar Rigo yang sedang duduk di pojok belakang kiri bersama Richard, Dio, Lukma dan Marnis yang sedang mengamati Laptop milik Marnis tanpa berkedip dan sambil menelan ludah mereka.
"Eh Cut. Lo ada versi lain gak?" Tanya Dio kepada Marnis alias Kecut.
"Adalah! Koleksi gue mah lengkap. Lo maunya yang versi lembut atau kasar?" Balas Marnis
Dan setelah berdiskusi panjang, akhirnya mereka memutuskan menonton Film Secretary yang kemarin baru saja di download Marnis.
Marnis memang terkenal sebagai Bandar bokep di kelas. Bahkan pernah ada anak cowok kelas lain yang datang hanya untuk meminta film tersebut kepadanya.
Sementara Citra, Sasa dan Mifta sedang berdiri berjajar di balkon dekat kelas menikmati sepoian angin yang berhembus. Pengecualian untuk Sasa karena sebenarnya sedaritadi dia terus saja mencuri – curi pandang ke kelas XI Multimedia 2 yang tempatnya berseberangan dengan kelasnya.
"Kedip Sa, kedip. Kelilipan baru tau rasa" Ujar Citra yang sedari sudah hafal betul dengan kebiasaan temannya tersebut.
"Nyantai aja Sa, Andrewnya gak kabur kok.”Sambung Mifta yang kompak dengan Citra untuk menggoda Sasa.
"Loh apasih? Gue tuh lagi ngeliatin temboknya XI MM 2" Elaknya
"Dih, ngapain lo ngeliatin tembok?" Balas Mifta.
"Soalnya gue iri sama tuh tembok"
"Iya, gue iri sama tuh tembok. Soalnya gue sering liat Andrew nyender di tembok itu. Bahagia banget pasti tuh tembok sering di senderin orang ganteng"
"Serah lo Sa. Sebebas hidup lo ajalah. Gak perduli gue!" Ucap Mifta sembari mengalihkan pandangan kebelakangnya.
Di belakang mereka bertiga, terdapat Dea yang sedang nge-dance, diikuti oleh 3 orang yang berada di belakangnya yaitu ; Siti, Nira dan Margie. Mereka sedang belajar gerakan 'Work' yang dilakukan oleh Rihanna dalam Music Video-nya.
Disini Dea berperan sebagai tutor dan yang lainnya sebagai murid. Kebetulan Dea mengikuti ekstrakulikuler Modern Dance. Jadi ini sudah seperti makanan sehari – harinya.
Yang lucu adalah mereka nge-dance di tempat terbuka dan tanpa mereka sadari, anak – anak cowok kelas XI Pemasaran 1 sedaritadi mengamati mereka tanpa berkedip.
"Eh, Lo – lo pada, daritadi di liatin sama anak cowok PMS noh" Citra memberi tahukan hal tersebut kepada teman – temannya, sambil melirik kearah subjek pembicaraan mereka. Diikuti oleh teman – temannya yang menoleh kearah yang sama.
"Ihhh, Guys kita di liatin sama Sofiyan tau" Adu Dea.
"Ih Sofiyan Dkk ini kok liat – liat sih!" Ucap Siti sambil memelototkan matanya kepada Sofiyan Dkk.
Setelah beradu mulut cukup panas dengan anak cowok XI PMS 1. Akhirnya kemenanganpun jatuh di tangan anak cewek XI TKJ 2. Meski dengan sedikit ricuh, tetapi kondisinya masih aman terkendali.
"Eh kantin yuk, laper nih gue" Ajak Mifta
"Ayok, ayok! Tenggorokan gue juga udah kering kerontang" Citra menyetujui ajakan Mifta
"De, lo ikut gak? Kita pada mau ke kantin nih" Tanya Sasa kepada Dea yang sudah berhenti nge-dance dan sekarang malah sibuk dengan handphone BB-nya.
"Eh ikut – ikut!" Respon Dea masih terfokus kepada handphone-nya.
Mereka pun akhirnya berjalan menuju kantin yang berada di belakang sekolah sambil berdiskusi mengenai menu makanan apa yang akan mereka beli nanti.
Sasa menyarankan untuk membeli Gorengan di tempat Embah dan Mifta menyarankan membeli Ayam Penyet di tempat ibu latah. Sementara Citra menyarankan agar membeli Good Day Cappuchino di tempat Embah, Sementara Dea masih saja fokus dengan handphone-nya.
"Kesandung baru tau rasa lo De!" Tegur Citra kepada Dea yang berjalan sambil terfokus ke layar handphone-nya.
"Iya nah Cit bentar, balas BBM-nya Haykal dulu" Balas Dea yang ternyata sedang chatting dengan Pacarnya.
Karena penasaran, Citra akhirnya mengintip chatting-an sepasang kekasih tersebut. Ia pun melihat chatting-an Dea dan Haykal, inti dari percakapan dua sejoli itu adalah Dea memberitahu Haykal bahwa ia akan pergi ke kantin bersama Citra, Sasa dan Mifta. Dan dengan embernya, Citra mengadukannya kepada kepada Sasa.
"Gitu nah Sa kalau punya pacar, mau kemana – mana aja harus ijin dulu" Ucap Citra
"Ih untung pacar gue pengertian. Kita sih gak perlu ijin kalau mau kemana – mana, yah cukup rasa saling percaya ajasih" Balas Sasa
"Idih. Emang lo punya pacar?" Tanya Dea
"Punyalah!" Jawab Sasa dengan ekspresi muka yang sedikit menyolot
"Siapa emang?" Kali ini ekpresi Dea tidak kalah menyolot, dia juga sudah berhenti memainkan handphone-nya. Mungkin karena perdebatan dengan Sasa terlalu menarik perhatiannya, ketimbang handphone-nya.
"Itu si Andrew Harris. Anaknya Om Subroto" Ucap Sasa penuh dengan percaya diri, tidak sadar bahwa si pemilik nama yang ia sebut berada tepat di belakangnya.
Dengan cepat, Mifta yang berada di samping Sasa memberi kode lewat gerakan mata yang melotot dan melirik ke arah belakang. Sasa pun melirik belakang, tepat di belakang Citra dan Dea terdapat seorang laki – laki yang tadi dengan bangganya ia akui sebagai kekasihnya, bersama dengan Muhammad Naufal Pite atau yang biasa disapa Pale, yaitu teman sekelas dan seperjuangan Andrew.