
"Duh, tasku jadi berat banget lagi gara-gara buku ini!" keluh Ia a asambil membawa tas hitam di pundaknya.
"hei mobilmu kemana?" aku yang berpapa san dengan Ia asaat menuju ke ruang kelasnya.
"Mobil? Kenapa emang nya aku? Kau mau ku antar pergi kemana?"
"Aku gak mau ke mana-mana kok."
"Loh, terus kamu tadi kenapa nanyain tentang mobil ju?"
"Soalnya dari tadi aku liat kau ngos-ngosan jalan dari sana ke sini, jadi aku kira seonbae jalan kaki dari rumah ke sekolah."
"Kalau aku jalan kaki sampe ke sekolah nya pasti udah besok pagi lagi aku!" Ia ater senyum tipis.
"Terus kenapa kau ngos-ngosan begitu seonbae?"
Ia a celingukan memperhati kan keadaan di sekitarnya.
"Sini ikut aku aku!" minta Ia.
"Aish, bocah itu!"
"Kalian berdua lagi ngapain di sini?!" tanya Will yang tiba-tiba muncul disana sambil menyipitkan mata nya.
"Eh Will?" aku menoleh.
Ia aberjalan cepat mendekati Will.
"Dasar kau ini!" ujar Ia a sambil menjitak kepala Will.
"Akh! Sakit tau!!!" protes Will.
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kalung liontin merah itu ada pada mu?! Hah?"
"Lah kan kau sendiri yang gak pernah bertanya padaku tentang lion itu! Gimana sih?!" sanggah Will.
"Iya juga sih..." Ia amenggaruk-garuk kepala nya.
"Sekarang kalian sih lagi ngapain disini?" kembali tanya Will.
"Kalian gak denger bel berbunyi?! Masuk ke kelas sekarang!" cetus Guru olahraga yang datang sambil menunjuk ke arah kelas.
"Iya pak maaf..." aku dan Will lalu berlari masuk kelas.
"aku nanti kita ngobrol lagi, aku belum selesai!" Ia aberteriak.
"Gak apa-apa deh pak saya dijemur di lapangan aja, soalnya saya lupa belum ngerjain tugas matematika pak."
"Udah pinggang kemarin encok sekarang pundak ku yang encok gara-gara buku ini!" gumamnya.
Kata-kata itulah yang terlintas dalam pikiran Ia asaat melihat dan membaca buku itu.
"Aman gak ada orang kan?!" tebak Ia sambil menutup pintu kelasnya.
Jam istirahat merupakan waktu yang paling aman bagi Ia saat membaca buku itu karena rata-rata semua anak akan keluar dari kelas entah itu ke kantin atau pun ke perpustakaan.
"Kemarin sampai halaman berapa ya? Kalo gak salah halaman ke-526 deh kayaknya!" imbuh Ia yang sedang ingin lanjut membaca buku itu lagi.
Sebenarnya Ia sangat malas sekali untuk membaca buku itu tetapi ia tetap harus melakukannya karena tidak ada lagi yang bisa Ia lakukan.
"haduh aku udah gak sanggup lagi buat baca buku ini!" Ia hanya mengebet-ebet kertas yang ada dalam buku itu lembar demi lembar halaman demi halaman.
Spoiler next bab: 🌹
"Bu...?! Ibu...!" teriak Ia memanggil pustakawan di sekolahnya.
"Ssstt! Jangan teriak-teriak, kamu tau kan ini perpustakaan?!" balas pustakawan itu yang baru keluar dari ruangannya.
"Maaf bu, soalnya saya lagi buru-buru mau tanya tentang buku ini."
"Coba sini ibu lihat!" ia mengambil buku itu dari tangan Ia.
"Apa ibu menyimpan halaman ke-700 yang robek dari buku ini?"
"Ibu bahkan tidak tahu kalau halamannya sobek."