
Sesampainya di kantin, Sasa lebih memilih duduk di bangku yang telah tersedia daripada memesan makanan. Tangannya masih gemetar. Hatinya juga terus saja berdetak tidak menentu. Perutnya juga sudah berbunyi, tapi nafsu makannya seketika saja hilang karena kejadian tadi.
Tidak perduli dengan keadaan Sasa yang terlihat mengenaskan, ketiga temannya tadi sudah pergi menuju tujuannya masing – masing ; Mifta di tempat Ibu latah sedang membeli Ayam Penyet, Citra di tempat Embah sedang membeli Good Day Cappuchino dan Dea Di tempat Ibu Cantik sedang membeli roti.
"Udah ah Sa, jangan dipikirin terus si Andrew. Katanya saling percaya satu sama lain" Ejek Citra sembari duduk di depan Sasa.
"Sialan lo Cit!" Balas Sasa dengan muka yang ditekuk.
"Malu gue. Gila, mau di taro dimana muka gue?" Lanjut Sasa.
"Yah, elo juga sih gak liat sitkon, orangnya ada di belakang malah lo omongin" Ucap Citra sembari meminum Cappuchion-nya.
"Ah! Pokoknya ini semua gara – gara Dea, pake mancing – mancing segala!" Jawabnya.
"Elah Sa, gak usah di pikirin juga. Nyantai aja" Ucap Dea mengambil tempat duduk di samping Sasa, sembari memakan Roti yang telah ia beli.
"Gak usah di pikirin lo bilang?"
"Mana bisalah De. Harga diri ini De.” Ucap Sasa sembari menidurkan kepalanya di meja kantin.
"Yaelah, lo udah kayak orang sekarat aja Sa.”Balas Dea.
"Lagian yah, emangnya si Andrew bakalan ngapain lo emang kalo dia tau lo suka sama dia? Bakalan marahin lo? Terus ngelarang lo buat suka sama dia gitu?" Tanya Citra yang sudah gemas melihat tingkah laku temannya tersebut.
"Tuh dengerin omongannya Citra Teguh" Teriak Mifta yang baru saja datang sambil membawa piring Ayam Penyet. Mendudukan dirinya di samping Citra. Karena belum jam Istirahat, maka kantin pun masih sepi.
"Eh tapi kalian pada tau gak sih, kalau Andrew itu udah punya cewek?" Ucap Mifta sambil memakan Ayam Penyet-nya.
"Iya- iya bener tuh. Gue denger – denger dia pacaran sama Kakak kelas, anak Akuntansi 1. Tapi gue lupa namanya" Balas Dea.
"Namanya Nurfa. Nurfa Pricillia Andini." Detail Sasa.
"Hafal banget si Mbak nama PACAR-nya Mas Andrew.” Sindir Mifta sambil tertawa.
"Oh, Kak Nufra yang anak Choir itu?" Tanya Citra.
"Ho-oh,” Balas Sasa.
"Lo kenal Cit?" Sambungnya.
"Dia kakak kelas gue waktu SMP.” Jawab Citra.
"Seriusan?" Tanya Dea yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Citra.
"Terus – terus, dia gimana pas di SMP?" Ucap Sasa penasaran.
"Yah biasa ajasih. Tapi dari SMP dia selalu gabung Choir. Suaranya juga bagus kok, kayak Fatin Sidqia. Setau gue, dulu dia pernah pacaran sama 'The Most Wanted Guy in School', terus juga dia orangnya baik kok. Kalau gak salah mereka pacarannya hampir 2 tahun. Tapi putus, gak tau gara - gara apa.” Jelas Citra.
"Gue malah baru tau kalau sekarang dia pacaran sama si Andrew.” Sambung Citra.
"Kemana aja lo neng, gak tau update gossip terbaru?" Sindir Dea.
"Ih, apa perduli gue sama Andrew? Mau dia ngapain sih itu urusannya dia.” Balas Citra.
Beberapa menit kemudian, bel Istirahat pun berbunyi. Para siswa dan sisiwi berhambur ke luar kelas. Kebanyakan dari mereka memilih menyerbu kantin karena lapar. Sementara Citra, Sasa, Mifta dan Dea masih saja bergossip ria.
Suasana kantin sekarang menjadi sangat ramai dan bising. Suasana yang sudah ricuh ini malah menjadi lebih gaduh saat sekelompok pria memasuki area kantin. Suara bisik – bisik para gadis terdegar dimana – mana. Banyak sekali mata memandang ke arah mereka, tapi tampaknya mereka tidak terganggu sedikitpun.
"Mati gue!" Ujar Sasa, saat mengetahui ternyata sekelompok pria tersebut adalah Gang cowok kelas XI MM2, dan tentunya disana terdapat Andrew.
"Ih gila yah, Adnan ganteng banget!" Puji Dea.
"Yah kalau masalah ganteng mah udah gak diraguin lagi. Tapi, cueknya ituloh kadang buat sakit hati.” Balas Mifta. Seperti kebanyakan gadis di sekolah, Dea dan Mifta juga mengagumi Adnan.
"Eh, katanya si Adnan itu juara kelas yah? Baru katanya dia anak orang beduit gitu.” Sambung Sasa yang entah dapat informasi dari siapa.
"Katanya siapa sih Ta? Andrew?" Goda Citra.
Mereka terus saja membicarakan tentang Adnan, dengan diselipi Andrew tentunya. Tidak ada yang aneh dengan mereka. Semuanya bersikap normal seperti semestinya, kecuali Dita yang sedikit dag-dig-dug. Akan tetapi, dalam diam gadis itu juga memperhatikan Adnan. Berbeda dengan kebanyakan orang yang akan menceritakan secara terbuka, apabila mereka sedang jatuh cinta, gadis ini memilih bungkam.
Ia adalah Citra. Citra Anninditya.
Yang sedaritadi tertawa bahagia meskipun jatungnya berdetak sangat kencang. Yang sedaritadi berusaha menahan diri agar tidak menimbulkan gerak – gerik yang mencurigakan, sehingga tidak akan ada yang menyadari rasa yang ia sembunyikan.
Karena dalam diam, ia bisa mencintai sepuasnya tanpa takut kehilangan. Meskipun hanya sebatas angan yang tidak mampu diraih.
Setelah merasa puas menggosip, akhirnya mereka berempat kembali ke kelas. Sesampainya di kelas, suasananya masih aman terkendali. Sepertinya 'CHOLI BAND' baru saja menyelesaikan konser mereka.
Terlihat Umar dan Ilham yang sedang berkipas menggunakan buku tulis mereka, dengan dua kancing kerah atas yang sengaja mereka buka. Berbeda dengan Teddy yang sedang meminta uang sumbangan ke kelas – kelas lain sebagai bayaran atas konser mereka. Padahal mereka hanya melakukan konser di dalam kelas. Lain lagi dengan Tomi yang sekarang sedang berada di depan cermin kelas, sambil menaik turunkan alisnya juga membenarkan jambulnya. Ia memang dikenal narsis. Ia mengetahui bahwa ia mampu memikat banyak wanita dengan wajah tampannya.
Selebihnya masih tetap sama. Tokici masih tidur. Syiffa Dkk masih menggosip. Mereka semua menjalankan aktivitas sesuai dengan kemauan mereka
"Cit, lo mau nonton bokep gak?" Tawar Marnis.
"Dih, tumben lo nawarin anak alim kek gue.” Balas Citra.
"Kalo yang alim aja kayak elo, yang bejat kayak mana Cit?" Tanyanya.
"Nih kek gini nih.” Jawab Citra sambil menunjuk ke arah Marnis.
"Sialan lo!”
Proses belajar – mengajar sedang berlangsung di SMK Negeri 13. Begitupula di kelas XI TKJ 2, yang sekarang sedang belajar Matematika. Guru yang mengajar adalah Pak Karim. Suasana kelas XI TKJ 2 yang biasanya seperti pasar loak-pun menjadi sangat tenang. Membuktikan bahwa Pak Karim memiliki aura yang luar biasa, sehingga mampu menakhlukan penghuni XI TKJ 2.
Hari ini materinya adalah Matriks. Seperti biasanya, Bapaknya akan menampilkan materi dalam bentuk PowerPoint, yang di tanyangkan menggunakan Proyektor yang ada di setiap kelas. Beliau juga sedikit menjelaskan materi tersebut namun tidak banyak, karena SMK Negeri 13 menggunakan kurikulum 2013, yang menuntut agar Murid harus lebih aktif ketimbang Guru.
Setelah 4 jam bertahan mempelajari bentuk – bentuk Matriks. Akhirnya penghuni XI TKJ 2 bisa bersorak ria, sebab bel pertanda sekolah telah dibubarkan untuk hari ini telah berbunyi.
Sudah 23 menit yang lalu semenjak bel pulangan berbunyi. Namun sekolah terlihat masih ramai. Padahal hari sudah menujukkan pukul 16.23 WITA. Semua pandangan tertuju pada satu pusat yaitu ; Lapangan. Mereka yang berada di lantai 1 terlihat merapat ke pagar, ada juga yang hanya duduk di depan kelas dan mereka yang berada di lantai 2 merapat ke balkon sambil melihat kebawah,
"Pada ngapain sih kok pada belum pulang?" Tanya Marnis yang baru saja keluar dari kelas besama Citra.
"Entah.” Jawab Citra tidak perduli.
"Liat dulu yok Cit, penasaran gue. Siapa tau ada yang ketahuan mesum.” Tebak Marnis.
"Otak lo yah isinya bokep mulu dasar!" Balas Citra.
"Udah, ayok ah Cit liat dulu, gue penasaran.” Ajak Marnis sambil menarik tangan Citra. Dan akhirnya mereka berhenti di depan balkon kelas, sembari melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Yaelah, Adnan doang gue kira apaan!” Seru marnis datar.
"Pulang yok Cit. Gue kira ada apaan, taunya Adnan Dkk lagi main bola doang.” Ajak Marnis.
Citra ingin menolak ajakan temannya tersebut. Ia masih ingin disini. Memandangi Adnan dari jauh. Tapi jika ia melakukannya, maka Marnis akan mengetahui perasaan Citra yang sebenarnya.
"Ayok. Lagian kayak gak ada kerjaan aja mantengin cowok – cowok main bola.” Jawabnya berbohong.
"Eh, bentar deh Cit. Gue pengen beli Roti di tempat Ibu cantik dulu. Lo mau ikut gak?" Tanya Marnis.
"Enggak deh. Gue Mager nih.” Balas Citra.
"Yaudah, tunggu bentar yah. Kalo lo mau pantengin cogan – cogan Sekolah noh silahkan.” Ucapnya asal ceplos.
"Mending gue mainan HP dah.” Jawab Citra.
Setelah kepergian Marnis dalam rangka membeli Roti, Citra menatap ke arah lapangan. Pandangannya menatap lurus ke satu orang; Adnan. Sekolah juga sudah mulai sepi karena sekarang jam sudah menujukkan pukul 16.57 WITA, jadi ia bisa dengan bebas memperhatikan Pria tersebut tanpa perlu takut akan ada orang yang mengetahuinya.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat Adnan tertawa. Rasanya, pusat dunia sekarang berada pada Adnan. Ia seperti ditarik untuk mendekat ke arah Pria tersebut.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya Marnis datang. Sepertinya ia tidak hanya membeli Roti seperti yang ia ucapkan tadi.
"Katanya tadi cuma beli Roti.” Sindir Citra.
Malam telah menujukan pukul 12.47 WITA tetapi kedua mata Citra masih terbuka lebar. Seolah enggan untuk memasuki alam mimpi, dimana angan akan menjadi reality.
Seperti malam – malam yang biasanya. Gadis itu lagi – lagi tidak dapat terlelap di malam hari, meskipun tubuhnya sudah sangat lelah. Mungkin karena efek kafein dari kopi yang ia minum. Atau karena pikirannya masih melayang, disaat – saat Ia melihat tawa pria yang selama ini ia kagumi dari jauh. Ia masih terbayang betapa manisnya pria tersebut saat tertawa. Sebuah ekspresial wajah yang jarang sekali pria itu perlihatkan.
Gadis itu kembali mengulang waktu, saat pertama kali ia bertemu Adnan. Masih terekam jelas di memorinya saat ia terlambat di hari Senin, waktu yang seharusnya ia gunakan untuk mengikuti upacara bendera, malah ia habiskan untuk mendengarkan wejangan dari Bu Lili atau lebih akrab disapa Bunda.
"Kalian itu yah say, sudah tau hari senin tuh upacara, mbok datangnya lebih cepat dikit toh say. Ini jam 7 baru pada datang.” Omel guru BK yanv akrab dipanggil bunda yang hanya di balas dengan keheningan oleh para murid yang terlambat. Beberapa di antara mereka bersikap acuh, beberapa lagi di barisan belakang malah ikut mengomel.
"Padahal gue cuman telat 1 menit doang juga, lebay baget pake acara di tahan – tahan.” Kesal beberapa murid.
Setelah memberi wejangan cukup banyak kepada para siswa/siswi yang terlambat, akhirnya murid – murid yang terlambat pun di bubarkan.
Dalam perjalanannya ke kelas X TKJ 2 yang berada di lantai 2, gadis bernama Citra tersebut hanya memasang tampang datar. Pada saat ia menaiki anak tangga menuju kelasnya, samar – samar ia mendengar suara beberapa orang pria dari arah atas.
Karena menurutnya hal tersebut tidak penting, gadis itu menyusuri tangga dengan nyaman tanpa memperdulikan suara – suara tesebut. Tepat saat ia berada di 3 anak tangga terakhir, sekelompok pria pun terlihat menuruni tangga yang sama dengan yang ia naiki. Ia mencoba bersikap tidak perduli, namun saat ia mencoba untuk melihat gerombolan pria tersebut. Dengan tidak sengaja, ia menangkap keberadaan seorang pria yang sedang mengobrol akrab dengan seorang pria yang lebih tinggi beberapa centimeter darinya.
Tanpa di duga – duga, pria tersebut sepertinya menyadari bahwa sepasang sorot mata tengah memperhatikannya. Pria tersebut berbalik dan tatapan mereka bertemu, hanya untuk sepersekian detik. Sebelum pria itu membuang muka acuh, lalu berlalu pergi.
Sepersekian detik yang mampu membuat gadis tersebut merasakan perasaan aneh, yang menjalar melalui setiap helaan nafas yang ia hirup. Yang membuatnya ingin mengenal pria tersebut dengan lebih baik. Yang membuatnya merasakan apa itu mencintai, tanpa harus memiliki. Rasa yang menyakitkan namun mengundang untuk pengulangan.
Semenjak saat itu Citra terus mencari tau tentang pria tersebut, yang tidak lain bernama Adnan Putra Nugraha. Ia terus saja memperhatikan Adnan dari jauh. Berharap pria tersebut akan berbalik dan kedua mata mereka akan bertemu.
Namun hal tersebut seperti mustahil untuk terjadi, mengingat pria yang ia sukai tersebut telah menyandang status 'The Most Wanted Guy in School'sejak hari pertama pendaftaran masuk sekolah. Sedangkan ia hanyalah siswi biasa, yang tidak memiliki kecantikan seperti Artisl Korea. Ia juga tidak memiliki tubuh seindah yang dimiliki oleh Model Victoria's Secret. Apalagi harta yang berlimpah. Pada dasarnya ia hanya tidak bisa meraih pria tersebut. Sosok yang begitu bertentangan dengannya yang tidak sempurna, yaitu ; sempurna.
" Seindah salju pertama di musim dingin, membekukan namun memikat hati."
C.13.01