
Syukurlah dia memang tidak terjatuh. Tetapi yang menjadi masalah untuk detik ini adalah, wajahnya persis ada di hadapanku sekarang dan hanya berjarak kurang dari satu jengkal. Aku terkesiap melihat pupil matanya yang melebar ketika menatapku. Warna dari mata nya itu seolah-olah membawaku melayang terbang tinggi menembus awan.
Kelas Astronomy pada pagi hari ini sebentar lagi akan dimulai. Seperti biasa mata pelajaran kesukaan ku ini lebih banyak menghabis kan waktu di Observatorium dari pada di ruangan kelas. Wil l juga mengambil kelas Astronomy untuk tahun ini sebagai subject minatnya.
Kegiatan diawali dengan tugas yang cukup menantang yaitu, mengamati sebuah bintang yang bernama Betelgeuse. Bintang ini merupakan salah satu bintang paling terang dan juga sekaligus paling terkenal di galaksi tempat kita tinggal, Milky Way.
Mr. Hudson menyuruh kami semua untuk berpasangan karena jumlah teleskop yang kurang memadai. aku dan Wil l pun menjadi salah satu dari banyak nya pasangan kelompok di sana. Itu semua berkat kemurahan hati dari Mr. Hudson, dan bukan semata-mata karena kemauanku. Kami berdua mendapatkan teleskop super canggih jenis FX10, terletak tepat di tengah-tengah Observatorium.
"Segera atur posisi untuk mulai mengamati bintangnya sebagai tugas hari ini. Buat laporannya, dan kumpulkan sekarang juga!" ujar Mr. Hudson yang memberi kan tugas ini untuk selama dua jam ke depan.
"Apa??? dikumpulkan sekarang juga?!" Aku panik dan langsung mengambil kertas laporan. "Wil l kau cepat atur posisi teleskopnya, aku akan membuat tabel laporannya dulu!"
Wil l terdiam dan hanya menatapku, "Umm ini---bagaimana caranya? aku tidak mengerti."
"Ah iya, aku lupa. Kamu kan baru saja bergabung di kelas Astronomy tahun ini."
Spoiler next bab: 🌹
Mataku mengintip ke lubang lensa teleskop itu untuk memastikan kalau posisinya sudah benar-benar pas. Wil l pun melakukan hal yang sama sepertiku.
"Ouch!" imbuhku dan Wil l secara bersamaan. Tak disengaja kepala kami berdua bertabrakan saat mengintip ke dalam lensa teleskop tadi. Aku tersenyum menoleh dan begitupun juga dirinya.
Kali ini hatiku terasa seperti telah terkoyak-koyak oleh senyumannya yang begitu menawan. Aku baru benar-benar percaya dengan ucapan Kevin tempo lalu yang mengatakan, 'menurut ku Wil l merupakan salah satu tipe cowok ideal incaran para cewek-cewek.'
Jangan salah paham. Aku hanya membantumu, karena waktu itu kau sudah berusaha meredam emosiku pada James dan Henry!" ujar nya tanpa menatapku.
Apa aku tidak salah dengar? Dia bilang mengikuti seorang gadis? Kebetulan sekali, waktu di mall kemarin aku juga merasakan ada seorang yang mengikuti ku.
Senja telah tiba. Sebelum pulang ke rumah, aku memutuskan untuk mampir sebentar ke gedung sejarah untuk menjernihkan pikiran. Menurutku gedung sejarah di sekolahku ini merupakan tempat yang paling banyak menyimpan kenangan, baik itu kenangan manis ataupun pahit sekalipun.
Meski patung-patung itu terkadang membuatku bergidik karena seolah-olah terlihat seperti sedang menatapku, tapi itu tidak terlalu menjadi masalah bagiku.
Sambil lihat-lihat melihat berbagai macam lukisan kuno, aku mendengar suara dari dua orang yang sedang berbincang-bincang membicarakan suatu hal aneh. Karena penasaran, aku mencari dari mana sumber suara itu berasal.