Ephemeral

Ephemeral
Chapter 2: Freedom



Hari ini SMK Negeri 13 akan mengadakan Mid Semester, untuk menguji pengetahuan Para siswanya. Apakah dalam kurun waktu setengah semester ini, mereka telah mampu menyerap semua materi yang diberikan atau tidak.


"Eh, lo udah belajar belum?" Tanya Marnis kepada Citra yang baru saja duduk di bangkunya.


"Belajar apaan?" Balasnya sambil memainkan handphonenya.


"Metik-lah. Hari ini tuh kita Mid Matematika." Ujar Marnis.


"Seriusan lo? Hari ini ulangan? Metik? Demi? Gila gue belum belajar sama sekali." Kaget Citra sambil menatap Marnis.


"Eh buset nih anak, dari jaman SMP gak ada berubahnya.” Balas marnis.


Setelahnya Citra langsung mengambil buku paket Matematikanya dan belajar seadanya. Dalam benaknya terbesit "Nanti kalo gue gak ngerti, kan ada kecut yang bisa dicontekin". Kalau kalian belum tahu mengapa Citra menyebut Marnis dengan 'Kecut', itu karena menurutnya nama 'Marnis' itu sendiri tidak cocok dengan kelakuan gadis tersebut, jadi Citra memutuskan untuk memanggilnya Kecut.


45 menit telah berlalu, namun keheningan masih saja menyelimuti ruang kelas XI-TKJ 2. Bangku dan meja yang biasanya berantakan sekarang terlihat rapi, jaraknya pun saling berjauhan tidak berdempetan seperti biasanya.


Meski beberapa meja terlihat seperti jalan sendiri, centi demi centi seperti saling mendekat satu sama lain. Pemiliknya tak lain dan tak bukan adalah Teddy dan Tomi. Seperti ingin memberitahu kepada Pak Karim, bahwa beliau tidak mampu memisahkan mereka.


"Hussttt, Ted lo udah nomor 4 belum?" Tanya Tomi sambil mencondongkan badannya kearah Teddy.


"Ck, Astaga nomor 4 aja?" Belum mendapatkan jawaban Tedy malah bertanya balik kepada Tomi.


"Yoi coy, sudah belum lo? Liat dong gue.” Ujar Tomi sambil menaik turunkan alisnya.


"Jangan Tanya Tom. Jangankan nomor 4, nomor 2 aja gue belum." Balas Teddy sambil tertawa kecil. Merasa telah dikhianati oleh Teddy, akhirnya Tomi berpaling. Menggeser meja dan bangkunya perlahan-lahan tanpa membuat suara apapun. Sasarannya kali ini adalah Citra.


"Husstt, Cit." Tomi kembali melancarkan aksi suit-suitnya.


"Apaan? Lo pasti mau nyontek ya?" Citra menangkap maksud dan tujuan temannya itu.


"Lo itu pengertian banget yah Cit, gak salah gue suka sama lo.” Balas Tomi sambil tersenyum penuh pesona. Ah, jangan lupakan alis matanya yang ia angkat.


"Gombalan lo gak mempan sama gue, hati gue udah beku soalnya." Jawab Citra sambil memegangi hatinya.


"Haaa," Tomi menghela nafas.


"Bodoamat Cit. Buruan nomor 4 apaan jawabannya." Ucap Tomi berterus terang, yang dibalas dengan seulas senyuman oleh Citra.


Gadis itu mengambil kertas ulangannya dan menaruhnya di samping mejanya, memegangi kertas tersebut dengan pandangan lurus kedepan. Sangat santai, seolah-olah ia tidak melakukan kesalahan apapun.


5 menit lagi bunyi bel tanda pelajaran berakhir akan dibunyikan. 2 jam pelajaran Matematikan hari ini, dihabiskan dengan mengerjakan soal ulangan Mid Semester.


Jika biasanya soal ulangan dapat di kerjakan dalam waktu 15 menit oleh 2T (Tedy dan Tomi), kali ini berbeda ceritanya. Bahkan diakhir pelajaranpun, belum ada seorang murid pun yang mau mengumpulkan kertas ulangannya. Padahal, sebagian besar dari mereka telah selesai mengerjakan soal tersebut dari 30 menit yang lalu.


Ada yang mendapatkan jawaban dari hasil hitung kancing, ada yang baca surat Al-Fatihah sambil menujuk jawaban yang nanti akan terpilih setelah ia selesai membacanya (sistemnya sama seperti hitung kancing, hanya lebih religius), ada yang benar-benar mencari jawaban dengan rumus (meski hanya 3 orang saja; Sasa, Marnis dan Mifta), ada yang tiba-tiba mendapat hidayah, dan sisanya hasil bertanya kesana-kemari.


Satu-satunya jalan agar mereka semua terbebas dari keheningan yang mencekam ini hanyalah suara bel. Namun, bel-pun seolah bersekutu dengan Pak Karim agar tidak berdering, begitupula dengan waktu yang seolah berjalan sangat lambat.


"Aaaah" Ujar semua murid XI-TKJ 2 serempak saat bel berbunyi, yang mendapatkan respon tidak menyenangkan oleh Pak Karim. Dengan pandangan penuh amarah yang beliau lemparkan kepada murid XI-TKJ 2.


Kembali, keheningan menghiasi kelas tersebut.


Keheninganpun terjadi selama 12 menit. Pak Karim yang masih menatap muridnya dengan tajam. Yang sedang ditatap-pun hanya mampu menunduk tanpa mampu berkata. Di dalam hati mereka mengutuki diri sendiri, karena telah mencari masalah dengan Bapaknya. Karena jika Pak Karim marah, berarti jam pelajaranya otomatis akan bertambah dengan sendirinya, dan itu artinya cacing diperut mereka akan demo besar-besaran karena kelaparan.


"Kumpulkan tugasnya" Ujar Bapaknya setelah memasukkan laptopnya kedalam tas.


Dengan rapi, mereka mengumpulkannya tanpa suara.


Setelah pelajaran Matematika adalah pelajaran IPA Fisika. Namun, sepertinya Bu Pintamalam tidak akan masuk untuk mengajar hari ini. Mengingat saat pelajaran beliau beberapa waktu lalu para member Choli Band membuat masalah dengan guru tersebut.


Flashback


"Woi Ted, gue laper berat nih, kantin yok!" Ajak Tomi kepada bestfriend-nya itu.


"Yok gue kangen Ayam Penyet buatan Ibu Latah.” Tedy menerima ajakan sesat temannya itu.


Merekapun pergi kekantin, sekitar beberapa menit kemudian mereka kembali kekelas. Namun Bu Pintamalam yang seharusnya mengajar belum juga masuk.


"Woiiii, pengumuman.” Teriak Tomi saat ia sampai di tempat duduknya.


"Barang siapa yang memiliki dan merasa kehilangan balsem harap hubungin gue." lanjutnya. Namun tidak ada satupun orang yang merasa menjadi pemiliknya.


"Gue hitung yah, kalo sampe tiga gak ada yang ngaku jadi hak milik gue!" Ancam Tomi, tapi tetap tidak digubris oleh anak-anak yang lain.


"Satu, dua, ti..ti..ti..gaaa. Oke jadi milik gue." Lalu ia mulai berjalan kearah Teddy, Umar dan Ilham yang sedang selonjoran di bawah papan tulis.


"Oi Ted, gue dapat balsem nih.” Adu Tomi


"Wiih, boleh juga lo Tom. Barang bagus tuh." Respon Umar.


"Lebih bagus lagi kalo lo olesin ke bangku anak – anaknya biar mereka menjadi hot." Umar menyarankan.


"Boleh, boleh, bagus juga ide lo Mar." Puji Ilham.


Akhirnya merekapun menjalankan aksi bejat mereka yang akhirnya menelan beberapa korban seperti; Tokici, Marnis, Dio, Margie, Syiffa dan seterusnya. Setelah sukses mengerjai hampir satu kelas, akhirnya mereka mencoba peruntungan yang apabila mereka sukses maka akan menjadi jackpot.


"Eh, gue ada ide brilliant nih." Ujar Umar.


"Apaan Mar? Keluarin otak jenius yang lo sembunyiin selama ini." Teddy menyemangati.


"Lo pada berani gak olesin tuh balsem ke kursi guru." Saran Umar.


"Yang bener aja lo, kalo ketauan ****** kita coy" Tolak Ilham.


"Ah cemen banget sih lo Semok." Umar memanggil Ilham dengan sebutan semok, karena memang badan pria itu semok.


"Oke gue berani." Ucap Tomi.


"Tapi lo yang ngolesin. Nanti kalo ketahuan kita di hukumnya bareng – bareng." Lanjut Tomi, yang mendapat persetujuan dari Umar, Teddy dan Ilham.