Edelweis Love Doyoung TREASURE

Edelweis Love Doyoung TREASURE
•8



"Tante.." Panggil Aya, kedua orang tua Devan beralih menatapnya, Aya tersenyum tipis, dia gak boleh menunjukan kesedihannya


"Aya pamit mau nyusul Devan, permisi.." Keduanya menatap kepergian Aya dengan tatapan sendu, Aria memegang tangan Aryo, mengerti apa yang sedang di pikirkan istrinya, Aryo balas menggenggam balik


"aku yakin ini keputusan terbaik, semuanya akan baik baik saja, percaya sama aku"


"Tapi mas.—"


"aku tahu ini egois tapi Devan..."


.


"aaarrgghh!!" teriak Devan


Bertepatan dengan itu Aya masuk ke dalam mobil, Devan yang masih di kuasai emosi, amarahnya semakin menjadi jadi


"KELUAR! SIAPA YANG SURUH LO MASUK KE MOBIL GUE!!" Tubuh Aya tersentak mendengar teriakan Devan yang menggema di telinganya


"KENAPA DIAM?! LO TULI ATAU GAK PUNYA KUPING!! GUE BILANG KELUAR BERENGSEK!!" Aya memeluk erat tubuh Devan


"Biarin sebentar kayak gini, aku kangen peluk kamu, rasanya udah.—" Pelukan Aya terlepas karena Devan mendorongnya dengan sekuat tenaga agar menjauh


"Gak usah bicara yang aneh aneh, selagi gue masih baik, keluar dari mobil gue." Aya menatap Devan dengan mata yang berkaca kaca


Deg.


sial, gue kenapa? - batin Devan


Cairan bening mulai membasahi pipinya, Aya menyeka air matanya dengan kasar lalu keluar dari mobil Devan, Devan cuma menatapnya dengan tatapan bengis setelahnya melajukan mobil meninggalkan kediamannya dan juga Aya


gak akan ada yang


berubah Van, aku janji - batin Aya


Sampai di Sekolah, seperti biasa. Devan menjadi pusat perhatian karena ketampanan yang di milikinya, sepanjang jalan gak ada mata yang mengalihkan pandangan darinya, dari ujung kaki sampai kepala, semua yang ada pada Devan itu menarik dan terlalu sayang untuk di lewatkan


Devan menghentikan langkah, begitu juga dengan Justin, keduanya berpapasan. saling menatap dengan tatapan tajam, gak ada yang mau mengalah sampai suara Kevin terdengar dan sedikit mencairkan suasana


"wih, ada apa nih, panas banget kayaknya gue lihat, woy Devan biasa aja dong liatnya" ujar Kevin


Kevin gak sendiri, dia sama Farel, Juna, Arthur dan Kyle, Devan gak menggubris, dia lewatin mereka gitu aja dan pastinya gak mungkin semulus itu, dia tabrakin dulu pundaknya ke pundak Justin sebagai tanda Permusuhan


Keduanya saling menatap selama beberapa menit baru Devan benar benar pergi, Justin tersenyum miring, Devan itu sangat lucu pikirnya, dia yang mulai dia juga yang marah marah gak jelas kayak Perempuan


"Jangan bilang ini karena Cewek" sahut Juna


"Menurut lo?" tanya Justin


"Gue cuma asal nebak" ujar Juna


"eh, by the way, itu Devan berangkat sendiri, si Aya mana, kok gak keliatan?" tanya Farel


"anak setan emang, minta di hajar" gumam Justin


"eh! eh! mau kemana lo Justin! bel masuk sebentar lagi! gak usah begaya bolos lo! si anjir di panggil pura pura tuli!" teriak Kevin


"udah biarin, lo gak usah ikut campur" tutur Arthur sembari menarik tangan Kevin


"Bukan gitu Ar, itu anak kalau di hukum bisa berabe nyampe ke emak bapaknya, gila aja gue gak mau ya di tanya tanya!" protes Kevin


"Derita lo." Kevin menatap Arthur dengan pandangan gak percaya


Kyle merangkul pundak Kevin "Gaya lo sedih, dah nanti gue traktir lo mie ayam"


"Pak, saya izin keluar ya, ada barang yang ketinggalan, barang penting. boleh ya pak?" ucap Justin sama Pak Mino satpam Sekolah Cendana


"Maaf ya nak Justin, sebentar lagi bel, gak ada izin izin, kalau kamu di hukum karena ini itu kesalahan mu, kenapa gak teliti, sekarang balik ke kelas dan jangan protes atau saya laporin ke Kepala Sekolah, mau?" jelas Pak Mino


"ck, ayolah Pak, nanti saya.—" Pak Mino angkat tangannya ke udara pertanda Justin untuk berhenti bicara


"Di larang menyongok, sudah masuk sana kamu ke kelas. saya hitung sampai tiga, kalau masih di sini jangan salahin saya kalau orang tua mu tiba tiba datang ke Sekolah, satu. dua. ti.—"


brukk..


Keduanya melihat ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya Justin melihat Aya tergeletak gak sadarkan diri


"AYA!! PAK BUKA PAK PINTUNYA!!" Pak Mino buka pintunya buru buru gak pake lama, takut anak orang kenapa kenapa


"D-Darah, nak Justin cepat bawa ke Ruang Kesehatan Sekolah!" Pak Mino jadi ikutan panik karena Darahnya lumayan banyak


brakk!!


"Bu Dokter ini tolongin ada yang pingsan!" teriak Pak Mino, mereka berdua masuk gak pakai ketuk pintu tapi langsung terobos, untuk keadaannya darurat, coba kalau engga, high heels Bu Rose udah melayang ke kepala mereka berdua


Justin membaringkan Aya dengan hati hati ke Ranjang, setelahnya Bu Rose datang memeriksa


"Dia kelelahan dan sepertinya belum sarapan jadi berpengaruh ke fisiknya, Justin. boleh Ibu minta tolong sama kamu, tolong belikan Roti dan Air di kantin, bisa?" tutur Rose


Gak banyak bicara Justin mengiyakan dan hendak pergi tapi di cegah sama Pak Mino


"nak Justin di sini aja jagain non Aya, Roti sama Airnya biar bapak yang beli, sudah gak usah bantah, sekalian bapak izinin, Bu Rose saya permisi" pamit Pak Mino


"Justin, Ibu harus pergi karena ada urusan sebentar, boleh Ibu titip Aya sama kamu?"


"Boleh Bu, saya bakal jagain Aya" Rose tersenyum tipis sembari menganggukan kepala


"Ibu akan izinkan pada Guru yang mengajar di kelas kamu, Terima kasih. oh ya, nanti kalau sudah bangun langsung di suruh makan dan jangan lupa minum obat, sudah Ibu siapkan"


"Terima kasih Bu"


"hm, ya sudah kalau begitu, Ibu pamit pergi, semoga Aya lekas sembuh" Sepeninggal Bu Rose, Justin menatap Aya yang belum membuka mata, wajahnya pucat pasi dengan keringat yang membanjiri, selembar tisu Justin ambil dari meja Rose untuk menyeka keringat di dahi Aya


Justin terdiam menatap wajah Aya, terlihat ada pergerakan pada kelopak matanya, menandakan kalau dia akan sadar sebentar lagi


Matanya terbuka perlahan lahan, gak lama ringisan kecil terdengar dari mulutnya


"Kenapa, apa yang sakit?" tanya Justin


"Gak apa apa, cuma sedikit pusing" jawab Aya


"Kenapa lo gak sarapan?" tanya Justin


"hah?" Justin mendesah berat


"lo gak sarapan dan kelelahan, lo jalan kaki ke Sekolah apa gimana, kok bisa kelelahan, lo berangkat bareng Devan kan?" Aya terdiam, dia gak jawab pertanyaan Justin, jangankan jawab, tatap mata Justin sekarang aja dia gak berani


"Gue tanya sekali lagi Ay, lo berangkat ke Sekolah sama Devan kan?"


BRAKK.!!


"JAWAB AY!!"