
Aya masih setia menunggu sosok Justin yang tidak kunjung datang, menunggu di depan kelasnya yang sudah kosong, Sekolah juga tidak seramai sebelumnya dan jadi sedikit menyeramkan karena hanya ada ia seorang diri
Matanya melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah 20 menit sejak kepergian Justin, Aya mendesah berat, entah kenapa dia merasa sangat lelah padahal gak ada pelajaran olahraga hari ini
Biar gak bosan, Aya ambil earphone di dalam tasnya, terus dengerin lagu kesukaan dia sambil scroll media sosial, lihat apa aja yang lagi ramai di perbincangkan akhir akhir ini
puk.
"Aya."
"arrrghhh!!" Keduanya sama sama terkejut, Cowok itu berusaha menenangkan Aya yang kaget campur takut, maklum. dia sendirian makanya takut, mana suasananya juga sepi tiba tiba orang datang tanpa dia tahu
"Tenang, ini gue Juna, beneran Juna bukan setan, jadi lo gak usah takut, okay.. " ujar Juna
"Sorry, aku reflek teriak karena kaget"
"Santai aja, btw lo kok belum pulang, Sekolah hampir sepi, gak takut sendirian disini?"
"aku nunggu Justin"
"Justin, Justin bukannya udah balik ya?" Aya menggelengkan kepala
"Belum kak, dia lagi ke toilet makanya aku tungguin, kita mau pulang bareng hari ini"
Dengar Aya bicara begitu, Juna speechless campur takut, dua rius tadi dia beneran liat Justin udah pulang, maksudnya ke Parkiran karena sebelumnya dia udah keluar lebih dulu pas bel pulang bunyi, udah siap mau pulang malah dan ketemu Justin, saling sapa juga kok mereka tapi tiba tiba panggilan alam, mau gak mau Juna tuntaskan dari pada repot di jalan
Juna garuk tengkuknya yang tidak gatal, dia tatap Aya dengan perasaan gak enak, mau bilang apa engga, bingung dia juga tapi kalau gak bilang kasihan anak orang nungguin yang gak pasti, mana Sekolahan udah keliatan sepi, kalau Aya di culik orang dia juga repot nanti
"Ay, ini serius gue gak bohong, gue liat Justin beneran udah balik, gue ketemu dia malahan di Parkiran, kita saling sapa juga, gue keluar pas banget bel bunyi, Ay. saran gue mendingan lo balik sekarang biar gue yang anter" jelas Juna
"Tapi.—" Belum Aya selesai bicara, Juna udah tarik tangannya duluan, mereka jalan bareng ke Parkiran dan sepanjang jalan Aya kepikiran soal Justin yang ke toilet dan gak balik lagi
"Gue yakin itu Justin.." gumam Aya
Tahu apa yang di pikirin Aya, Juna senyum tipis sembari melirik sekilas, gak tahu apa artinya untungnya Aya gak lihat karena dia sibuk lihat ke bawah dengan pikiran yang sibuk
Sampai di Parkiran, Juna kasih helm ke Aya, setelahnya Juna melajukan motor meninggalkan SMA Cendana, sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, baik Juna atau Aya gak ada buka suara, terus aja kayak gitu sampai mereka tiba tepat di depan Rumahnya Aya
"Makasih Kak, hm..mau mampir?" ujar Aya
"Pengen tapi nanti gue di hajar Justin" Aya tertawa kecil
"Santai kak, Justin gak seposesif itu kok orangnya apalagi kakak ini temannya" Juna menggelengkan kepala
"Gue tahu kok Ay tapi makasih, gue langsung balik aja karena ada urusan juga, kalau gitu gue cabut ya, bye.." Aya melambaikan tangan sampai motor Juna sudah tidak lagi terlihat
...***...
"Selamat malam! yuhuuuu! ada orang kan!!" teriak Farel saat memasuki Rumah Danny
Gak lama setelahnya yang punya Rumah datang dengan raut wajah kesal "Sumpah ya kalau bukan temen udah gue masukin kaus kaki mulut lo, apa kata tetangga gue coba." ujar Danny
Tapi Farel bodo amat, dia gak merasa bersalah sama sekali, malah langsung dudukin diri di sofa, yang tertua lihat kelakuan yang muda udah geleng kepala aja, emang dasar anak jaman sekarang, gitu pikir mereka, gaya banget bicaranya padahal mereka belum setua itu
clek.
Semua mata melihat ke arah Pintu
"Tumben banget lo Jun baru datang, biasanya juga on time. habis godain Cewek ya lo" ujar David
Juna ambil bantal sofa yang di peluk Jaden terus lempar ke mukanya David "Godain Cewek kepala mu, gue habis antar Aya pulang"
"Kenapa jadi lo yang antar, Justin?" tanya Haris
"Gue gak bisa jelasin, sorry. privacy, its okay?"
"Paham kok Jun, santai aja. eh iya duduk dulu, pasti capek kan lo, gue bikinin minum dulu" ucap Danny terus pergi ke dapur, di susul Marvin yang punya niat mau bantuin
"eh, Devan kemana? kok belum datang, itu anaknya kebiasaan banget asli, absen mulu" celetuk Kevin
"Kalau lo tanya gue terus gue tanya siapa. gue aja gak tahu, lagi ada urusan kali, tolong deh ya lo bukan kenal dia setahun dua tahun" ucap Haris
"Gue nanya biasa aja ya, kenapa lo jawabnya sewot banget, ajak berantem apa gimana?"
"Bagus, ribut aja terus kalian, aku suka keributan, ayo Bang Kevin, hajar aja si Haris, anaknya emang suka minta di hajar kalau bicara" kata Farel mengompori, emang ini anak kalau liat kedamaian langsung sakit, gak tenang banget hidupnya
Jadi di perkumpulan kali ini, yang gak ada Devan, Justin sama Aya, jangan tanya kenapa karena dia pacarnya Justin suka di ajak ngumpul
Tenang aja, temenan sama mereka sehat kok, ini kumpul juga cuma bincang bincang biasa, seru seruan aja buat menghilangkan rasa capek
Di lain tempat lebih tepatnya Sekolah, ada dua orang yang saling pukul, emang gak waras mereka ini, Sekolah ampe udah gelap gak ada yang mau ngalah, Pak Mino juga kemana sebagai Satpam yang paling di hormati
"Gue udah bilang sama lo, Aya punya gue. harus berapa kali GUE INGETIN SAMA LO DEVAN!!"
BUGH.
Devan jatuh tersungkur dengan sudut bibir pecah karena pukulan kuat dari Justin
Jadi sebenarnya Justin itu emang udah ke Parkiran dan ketemu sama Juna, dia seharusnya bareng sama Aya tapi lupa, habis saling sapa Justin baru ingat kalau dia lupa jemput Aya jadinya dia pergi ke kelasnya tanpa berpamitan sama Juna yang sibuk cari kunci motor, makanya Juna kiranya Justin udah pulang aslinya engga
Beralih ke Justin, abis jemput Aya di kelas, tiba tiba di serang panggilan alam, mau gak mau dia suruh Aya nungguin sampai dia balik di depan kelasnya, ampe di nasehatin kalau ada orang jahat teriak aja