Edelweis Love Doyoung TREASURE

Edelweis Love Doyoung TREASURE
•7



Devan bangun pagi pagi sekali hari ini, gak seperti biasanya, walaupun masih mengantuk sembari melihat Jam yang berada di nakas menunjukan pukul 5 pagi


Dengan langkah gontai Devan melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk membersihkan diri, gak perlu waktu lama Devan sudah keluar dengan Seragam lengkap melekat di Tubuhnya


Segera dia ambil tas yang sudah di siapkannya semalam lalu keluar dari kamar, berjalan dengan santai menuruni tiap anak tangga, beberapa maid yang lewat menyapanya tapi seperti biasa dia abaikan


Sesampainya di dapur, Devan langsung mendudukkan diri dan menyantap sarapan yang sudah di siapkan untuknya, dia makan dengan tenang, hanya terdengar dentingan sendok dan piring yang beradu, sampai suara langkah kaki menuruni tangga mengalihkan perhatian Devan


Rupanya kedua orang tua Devan, mereka sengaja gak kasih kabar sudah sampai di Indonesia sebagai kejutan untuk Devan


"Kapan kalian sampai?" tanya Devan


"Tadi malam, kami sengaja gak kasih kabar biar jadi kejutan, oh ya. gimana kabar kamu dan Aya? kalian baik baik aja, kan?" ujar Ayah Devan


Mendengar nama Aya di sebut, Devan menelan ludah gugup, bisa gawat kalau sampai Ayah dan Ibunya tahu apa yang dia lakukan sama Aya


Melihat perubahan raut wajah anaknya, Aryo dan Aria selaku orang tua merasa bingung


"ada apa, Devan?" tanya Aria


Devan menggelengkan kepala "Gak ada, hm. kalau gitu Devan berangkat dulu, udah telat"


"Kamu bercanda, satpam aja baru bangun ini, kamu pikir jam berapa sekarang? udah, gak usah buru buru ke Sekolah, lebih baik kamu jemput Aya dan bawa dia kemari, Ibu kangen banget sama calon menantu Ibu" sahut Aria


Devan hanya menganggukan kepala, pura pura tenang meski jantungnya berdegup kencang


"Devan pergi dulu" Kedua orang tuanya menganggukan kepala


"Hati hati bawa mobilnya, jangan ngebut atau mobil kamu Ayah sita" ujar Aryo


"iya Ayah, Devan pamit"


Devan menutup pintu mobilnya dengan kasar, sial. dengan kesal dia memukul setir mobil yang tidak bersalah, kenapa orang tuanya harus pulang sekarang?! bukan gak senang tapi orang tuanya datang di saat yang gak tepat


Tring~


Ponselnya bergetar, menandakan ada telepon masuk, tertera nama Risa dengan jelas di layar tapi gak di angkat sama Devan, dia cuma liatin sampai panggilannya terputus dengan sendirinya, gak berapa lama ponselnya bergetar, tanda ada pesan masuk


RISA


kok belum datang? katanya mau jemput,


kamu gak lupa sama janji kamu kan mau temenin aku cari sarapan?


Mengabaikan pesan dari Risa, Devan segera menginjak gas mobil dan melaju meninggalkan kediamannya, jarak Rumahnya dan Aya gak begitu jauh apalagi dia bawa mobilnya lumayan kencang, gak sampe 20 menit juga udah sampe


"Ayo, gue bantu, pelan pelan.." ujar Justin sembari mengulurkan tangannya untuk di genggam Aya guna membantunya berjalan


Melihat pemandangan panas seperti itu siapa yang gak kegerahan, jelas Devan emosi, pintu mobil di banting dengan kasar lalu menghampiri keduanya, Aya yang hendak meraih uluran tangan Justin gagal karena Devan tiba tiba datang dan menariknya menjauh


"Siapa yang kasih izin buat lo datang ke sini, dia punya gue, jadi jauh jauh dan jangan macam macam atau.—" Perkataan Devan terhenti saat Justin melangkah maju mendekatinya


"apa, lo kira gue takut, engga sama sekali." sahut Justin


"Jangan pancing gue buat hajar lo disini, pergi." Justin tertawa


"Devan, Devan. lo ini lucu ya, lo sendiri yang bikin Cewek lo masuk sakit, selama dia di Rumah sakit gak pernah lo jenguk, lo urusin tapi tiba tiba lo datang dan cegah orang yang peduli sama dia, lo sehat atau udah gak waras, Van?" Devan dorong Justin sekuat tenaga


"Diam dan gak usah ikut campur, berapa yang harus gue bayar buat Jasa lo yang udah urus dia, sebut. gue kasih sekarang juga"


"Sorry, gue urus dia tulus, simpan uang lo. gak butuh sama sekali gue, Ay. sampai ketemu di Sekolah, telepon gue kalau udah sampe" ujar Justin lalu pergi meninggalkan keduanya


Devan melepaskan genggamannya pada tangan Aya dengan kasar, membuat Aya meringis pelan


"lemah lo.! gitu aja sakit, buruan gak pake lama, lo gak sepenting itu buat bikin orang nunggu.!"


Aya menghembuskan nafas kasar, kakinya masih sakit untuk di bawa jalan cepat tapi Devan malah meninggalkannya, seharusnya lelaki itu sadar, dirinya seperti ini juga karena dia


Setelah Aya masuk, Devan melajukan mobilnya meninggalkan tempat tinggal Aya, sesampainya mereka di Rumahnya, Devan gak bantu Aya turun dari mobil, dia keluar gitu aja, alhasil Aya harus susah payah sendiri masuk ke dalam dengan jalannya yang pelan karena menahan sakit yang terasa di kakinya


"loh Devan, kok kamu sendiri, Aya mana?" Terdengar jelas suara Ibunya Devan dari arah dapur yang masuk ke telinga Aya


Aya senang bukan main, sampai di dapur, melihat sosok Aya, Aria menghampiri dan langsung memeluknya


"Sayang, gimana kabar kamu, hm?" Aya membalas pelukan Aria tidak kalah erat


"Baik Tante, Tante gimana kabarnya?"


"Tante sama om baik tapi.." Aria melepas pelukan, matanya menelisik penampilan Aya dari ujung kaki sampai kepala


"Muka kamu agak pucat dan kenapa sama kaki kamu, kamu habis jatuh?" tanya Aria, Aya tersenyum tipis menanggapi


Aria beralih menatap Devan


"Devan, kenapa sama Aya, Ibu kan udah bilang sama kamu jagain Aya, kenapa dia.—"


BRAK.!!


"Mana aku tahu, bukan urusan aku juga, mau dia mati sekali pun aku gak peduli" tutur Devan


PLAK.


"Mulai berani kamu sama jawab omongan orang tua.! anak kurang ajar, di ajarin siapa kamu?!" Aryo mengangkat tangannya ke udara, bersiap menampar Devan lagi tapi Aya mencegahnya


"Gak usah sok peduli lo.!!" sahut Devan


"DEVAN.!!! MAU KEMANA KAMU, KEMBALI!!"