
"Kalian berdua, kalian bisa masuk sekarang." ucap Suara dari dalam Ruang UKS
Clek.
"Jadi Bu, gimana keadaan teman saya?" tanya Haris To The Point. gak pake basa basi
"Teman kamu.—"
"Ya Tuhan Aya.! sejak kapan lo sadar?!" Justin samperin Aya yang udah duduk senderan, terus dia cek kaki sama tangan Aya bergantian dan itu sebanyak tiga kali
"Cepat bilang sama gue apa yang lo rasain sekarang, sebenarnya siapa yang bikin lo sampai kayak gini, kasih tahu ke gue biar gue hajar itu orangnya, ayo cepat bilang, udah gatal nih tangan pengen pukul orang" Aya tersenyum tipis mendengar penuturan panjang Justin
Baginya itu adalah Hiburan, melihat Justin marah itu lucu, lebih lucu dari liat anak kucing yang baru lahir "Gak apa apa, gue udah baik baik aja, kalian gak perlu khawatir" jawab Aya
Justin berdecak "iya sekarang, nanti? udah lah, lo gak usah tutupin itu orang dari gue sama Haris, sekarang gue tanya, siapa yang bikin lo sampe kayak gini? jangan bilang si nenek lampir sama dayang dayangnya?" Aya diam dan Justin anggap itu jawaban dari iya
Haris beralih menatap Bu Dokter yang kebingungan dengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Justin
"Maaf Bu, kalau gak keberatan, bisa keluar sebentar?" Segitu Haris mintanya udah sopan tapi si Ibunya malah melotot
"Bentar doang Bu gak bakal lama, janji. kita juga gak bakal apa apain Aya, dia kan temen kita. udah kaya keluarga malah" Sebelum keluar Bu Dokter memukul pelan kepala Haris menggunakan penggaris
"Bisa banget kamu tuh bicaranya, ya sudah jangan lama lama, sebentar lagi Bel masuk. awas kalau kamu sama Justin bolos. saya tandain kalian berdua" Haris natap kepergian Bu Dokter yang bernama Bu Jennie itu dengan tatapan kesal
Gak kepala Sekolah, gak Guru Matematika, bahkan Bu Dokter UKS kenapa sih harus galak plus suka banget melotot? biar apa coba begitu
Kembali ke Justin dan Aya
"Bukan mereka, udah. intinya aku gak apa apa Justin, aku baik baik aja, aku.—"
"BAIK BAIK AJA APANYA, KAKI LUKA, PELIPIS BERDARAH, SUDUT BIBIR BERDARAH, UJUNG MATA BIRU, ITU BAIK BAIK AJA?! LO KIRA GUE BEGO GAK PUNYA MATA AMPE GAK BISA LIHAT GIMANA JELASNYA LUKA LO!" teriak Justin
Aya jelas terlonjak kaget begitu juga dengan Haris, Haris tarik Justin dengan kasar, sementara Pintu UKS di ketuk ketuk dari luar, untung Haris pinter udah ambil kuncinya dan kunci Pintu Ruangannya biar Bu Jennie gak bisa ganggu
"lo apa apaan sih teriak kayak gitu?!" Justin lepasin pegangan Haris pada tangannya dengan kasar
"lo dengar kan tadi dia bilang apa, ya kali sebagai teman yang baik hati dan tidak sombong gue gak kesel" Haris mendesah berat
"ya iya gue tau tapi gak gitu juga pintar." Justin memutar mata malas terus balik badan natap Aya
"Sekarang apa?" tanya Justin
Aya mengernyit bingung
"iya, sekarang lo maunya apa? lo mau pulang atau mau tetap di Sekolah, kalau mau pulang biar gue yang antar kalau masih mau disini, biar Haris yang temenin lo sampe pulang"
"Berengsek kenapa jadi gue?" ucap Haris gak terima
"Kenapa, sibuk lo?" Haris berdehem sebentar, gerogi dia di liatin begitu
"engga sih tapi kan.—" Justin angkat tangannya tepat di depan wajah Haris
"Shut, Gak usah banyak alasan ya lo kek buaya darat, gue tahu lo gak sibuk, gak ada urusan, gak ada juga yang mau punya urusan sama lo jadi.—jangan sok sibuk, Janu Haris Elvano."
"Kenapa lo natap gue begitu, mau gue colok tuh matanya terus gue kasih ke Singa hutan, iya?"
Bahagia seorang Aya gak ribet, gak mahal, cukup liat Justin sama Haris adu mulut aja udah senang banget rasanya, suasana hatinya jadi sedikit membaik
"Udah, udah, Justin kamu gak boleh gitu sama Haris, Haris pasti mau liat adek adek kelas yang waktu itu daftar Cheerleaders, kan sekarang jadwalnya mereka latihan" jelas Aya
"iyakah, kok gue gak tahu?" tanya Justin
"Kalau lo nanya gue, gue nanya siapa anjir" balas Haris
"Makanya jangan asik ngegalau ampe lupa sekitar, kek orang bego kan lo." lanjut Harus
"lo kalau mau gue pukul bilang, berantem lo mendingan ama gue sini" Justin sama Haris kalau udah bersatu emang gak tertolong lagi
"Kalian berdua berhenti sekarang, itu gak dengar apa suara Pintu di ketuk, bukain sana, belum tahu ya Bu Jennie kalau marah itu seramnya kayak apa" ucap Aya menakut nakuti
"ya elah, marah juga kek gimana sih, paling.— aduh.! aduh.! aduh.! aaaa...s-sakit, siapa lo.—eh, ada Bu Jennie, apa kabar Bu, cantik banget"
"Diam kamu.!" Ketiganya kaget, Haris sedikit melihat ke arah Justin yang tersenyum miring
Emang ini bocah suka banget cari gara gara, awas aja nanti, gak bakal dia lepasin sekalipun Justin nangis minta berhenti
"Kalian berdua, masuk ke kelas kalian sekarang atau saya laporkan ke Pak Kepala Sekolah kalau kalian berdua bolos di jam belajar.!!"
"iya Bu iya, ini mau masuk tapi lepas dulu kuping saya, ampe putus Ibu juga nanti yang pingsan"
"Berani jawab ya kamu!"
Emang Cewek itu gak pernah mau salah dan berlaku lagi sama Cewek modelan Bu Jennie
"Kenapa Justin?" tanya Jennie karena liat Justin angkat tangannya
"Itu Bu, hm,,saya mau antar Aya balik, anaknya masih gak enak badan katanya" Haris sama Aya kaget dong dengar Justin bilang begitu
apalagi Aya, dia jelas gak ngomong mau pulang tapi kenapa Justin bicara begitu
"Benar Aya?" tanya Bu Jennie, Aya melirik ke arah Justin dan lihat tuh Cowok kedipkan mata
"B-Benar Bu, saya gak enak badan, kepala juga rasanya pusing"
"Ya tuhan, apa perlu kita ke Rumah sakit?"
Aya menggeleng ribut "Makasih banyak tapi gak perlu Bu, saya cuma gak enak badan biasa"
"hm, gitu. ya udah tapi tunggu sebentar, saya kasih kamu obat dulu buat di minum di Rumah"
Gak lama Bu Jennie kembali terus kasih obatnya ke Aya "Sampai ke Rumah di minum setelah makan, Justin. antarkan Aya dengan selamat sampai ke Rumah, bawa kendaraannya jangan kencang kencang, patuhi rambu lalu lintas, awas kalau sampai saya dengar kamu di tilang polisi"
"Ya ampun Bu Jennie doanya. —eh iya Bu, tenang aja. Aya pasti saya antarkan sampai Rumah, Ibu gak perlu khawatir, jangankan Rumah. Pelaminan juga saya siap kok Bu"
"Jijik Justin berhenti apa gue tendang lo."