Edelweis Love Doyoung TREASURE

Edelweis Love Doyoung TREASURE
•9



grep.


"Maaf, gue gak bermaksud bentak lo" Merasa tidak enak Justin memeluk Aya erat erat sembari mengusap puncak kepalanya


"i-its okey, kamu gak perlu merasa bersalah sampai sebegitunya Justin" Aya diam setelahnya, membiarkan keheningan merasuki


clek.


"eh, non Aya udah sadar, gimana keadaanya, udah baikan non?" tanya Pak Mino


"udah mendingan Pak, cuma pusing sedikit"


"Syukurlah, oh ya ini Roti dan airnya, langsung di makan habis itu minum obat non, biar cepat sembuh, ini nak Justin sampai izin gak ikut jam pelajaran pertama demi nemenin non Aya" Justin menatap jengkel ke arah Pak Mino


Jujur sih Jujur tapi ini to much.


Pak Mino yang di tatap Justin malah pasang wajah tanpa dosa, mana sambil senyum pula, untung cakep gak kayak joker


"Ya sudah, bapak pamit dulu, mau lanjut jaga, non Aya cepat sembuh ya" Aya balas dengan senyum tipis


"Buka mulutnya" Aya menatap Justin dengan tatapan bingung


"Makan, gue suapin"


"eh, gak usah Justin, aku bisa makan.—"


"shutt, gue gak terima penolakan, makan habis itu minum obat, kalau masih pusing istirahat aja di sini sampai pulang, gak usah pikirin izin. biar itu jadi urusan gue, sekarang makan" Aya gak tahu lagi gimana caranya nolak Justin


"udah kenyang" ucap Aya menolak suapan terakhir dari Justin


"Ya udah, lanjut minum obat ya habis itu istirahat, sebentar gue ambil dulu obatnya"


"Justin.."


"hm, kenapa? ada yang sakit?"


"engga, aku mau tanya, boleh?"


"Boleh, masa gak boleh, mau tanya apa emangnya, penting banget ya sampe lo kelihatan gugup begitu?"


"eh, m-masa, aku biasa aja kok"


"Bercanda, mau tanya apa, hm?"


"Kamu, kenapa baik banget sama aku?"


"emang kalau baik sama orang harus ada alasannya?"


"Semua yang terjadi di dunia ini pasti ada alasannya Justin, gak ada yang namanya kebetulan"


"Gak semuanya harus punya alasan Ay, kalau Cinta sama lo harus pakai alasan susah di gue kalau alasan itu hilang, tanpa alasan itu yang murni, kenapa, karena ketika alasan lo dalam menyukai sesuatu hilang maka rasanya hambar dan berakhir meninggalkan, cari yang baru. kalau gue maunya satu dan satu itu cuma lo"


Makin canggung aja udah kalau Justin omongannya udah lari ampe kesana, gak mengerti Aya juga, makin hari makin aneh


Justin pasti cuma bercanda, gak mungkin beneran bicara kayak gini, apalagi dia temenan sama Cowok modelan Kyle yang terkenal sebagai Buayanya SMA Cendana


"aku rasa kamu udah kelewatan, ini gak lucu sama sekali buat jadi candaan" tutur Aya


"aku gak pernah seserius ini Ay kalau kamu kamu tahu, aku cuma.—"


"STOP.! — kamu tahu kan kalau.—"


— lo gak lupa kan apa yang dia lakuin sama lo dan lo masih bisa bilang kalau dia Pacar lo, jangan bego bego banget jadi Cewek. lo itu gak di anggap sama dia, dia lirik lo aja gak sudi, gue gak ngerti kenapa Cowok seberengsek Devan dapat Cewek sebaik lo, gue kalau mau jahat bisa aja lo gue rebut dari dia sekarang juga kalau gue mau, kalau gue gila, cara apapun bakal gue lakuin buat dapetin lo, lo gak lupa kan kita ada dimana dan hanya ada kita berdua di sini"


"K-Kamu mau ngapain?!"


"Menurut lo?"


...****...


"Demi anjir, muak banget gue lihat Bang Devan sama tuh nenek lampir." protes Farel, dia yang tadinya mau makan gak jadi karena lihat itu dua manusia jalan barengan masuk ke kantin


"nah kan, nah kan, kesini mereka. ck, gak jadi makan lah gue Bang, gak.—" Farel langsung makan dengan lahap karena di liatin sama Danny, semua yang ada di meja ketawa liatnya


Si bontot lagian berani banget bicara begitu depan Danny, udah tahu Danny tuh orangnya gak suka sama orang yang suka buang makanan dan makanan yang di pesan Farel itu lumayan, ada sosis bakar, nasi goreng special telor ceplok, ice lemon tea, sate ayam, kentang goreng, kalau Farel pergi yang makan makanan segitu banyak siapa, gak bakal ada karena semuanya punya pesanan masing masing walau gak sebanyak Farel pesannya


"eh, sorry nih Van, lo tahu kan ini tempat liatnya berapa, cuma ada satu tempat kosong dan itu di sebelah Bang Marvin, tempat lo biasa duduk." ujar Haris karena Devan suruh Risa ikut gabung, jelas Haris gak mau, cuma ada satu satunya Cewek di sini, mending kalau itu Aya lah ini nenek lampir, ogah banget


"Devan, terus aku duduk dimana?" Risa mulai dengan rengekannya yang menjengkelkan


"Di lantai masih luas kalau lo lupa" sahut Arthur, semuanya langsung menahan tawa


Risa menghentakan kaki kesal, dia merasa di permalukan sama perkataan Arthur barusan


"Kalau gitu lo aja yang di lantai" ujar Risa


"Siapa lo?" tanya Arthur


"Ceweknya Devan, jadi lo yang harus minggir dan kasih tempat lo buat gue, lo pindah sana" ucap Risa seenaknya


"Belum tidur kok udah mimpi, kita semua juga tahu kali kalau Ceweknya Devan itu AYA. AYA NARA MAHENDRA, udah jadi calon istrinya Devan malah, lo jadi Cewek punya harga diri sedikit, emangnya di seantero Cendana gak ada Cowok lain lagi sampe Cowok orang lo ambil"


"Devan!! marahin dong temen kamu! masa.—"


BRAKK!!


"GAK USAH BERISIK! PERGI DARI SINI SENDIRI APA GUE SERET LO KAYAK BINATANG!!" bentak Arthur


Dia paling gak suka sama Cewek modelan Risa, banyak omong dan gak punya malu


Semuanya tersentak kaget mendengarnya, Jaden yang duduk di sebelah Arthur segera berdiri, jaga jaga takut Arthur lepas kendali, kantin yang tadinya ramai mendadak sepi, hening seperti di kuburan, semua mata tertuju pada Arthur yang menatap Risa dengan tatapan yang menyeramkan


"Devan, bawa Cewek ini pergi." ujar Jaden


"GAK MAU! KENAPA HARUS GUE!! DIA AJA YANG PERGI!!"


Risa emang kayaknya udah bosan hidup, beraninya dia, Danny dan yang lainnya aja gak pernah berani ya karena ini, sekalinya marah bakal lama tenangnya, marahnya juga gak main main tapi ini nenek lampir malah seenak jidat


Arthur itu kalau marah gak peduli lawannya Cewek atau Cowok, bakal di lanjut sampai main tangan kalau perlu, dia pendiam tapi gak seperti kelihatannya, berani macam macam sama dia jangan harap muka bakal mulus


"ARTHUR!!" teriak Danny


"Devan, bawa Cewek ini pergi!!" teriak Juna


"Tapi.—"


BRAKK!!


Pelaku penggebrakan meja adalah David, jengkelnya udah sampai ubun ubun


"lo yang bawa atau gue yang seret nih Cewek dari sini, heh. jangan mentang mentang lo anak Donatur lo bisa seenaknya, lo itu bukan siapa siapa disini kalau bukan karena title anak donatur. "