
Gak banyak yang Justin lakuin di Rumah Aya, mereka cuma ngobrol ngobrol biasa, merasa waktunya udah lumayan lama, Justin izin pamit biar Aya bisa istirahat, gak enak juga sama tetangga kanan kiri Aya, entar malah di omongin yang engga engga, tahu sendiri kan seramnya mulut tetangga itu kayak apa
"Hati Hati dan makasih." Justin senyum tipis sambil menganggukan kepala
Aya mengantarkannya sampai ke luar Rumah, keduanya saling melambaikan tangan tanda perpisahan, berapa detik setelah Justin berbalik badan untuk pergi, satu pukulan mendarat di wajah tampannya dan pelakunya adalah Devan
"Justin.!" pekik Aya
Reflek dia lari samperin Justin tapi belum sampai tangannya di tahan sama Devan, di cengkeram dengan kuat sampai merah
"BERANI LO SAMPERIN COWOK LAIN DI DEPAN GUE BERENGSEK.!!" teriak Devan
"ahk. — s-sakit, Devan lepasin. kamu nyakitin aku, tangan aku sakit Devan" Bukannya di lepas Devan semakin mempererat genggamannya
"apa gue keliatan peduli, hm?" tanya Devan
Mata Aya berkaca kaca menahan perih, tangannya memerah dan terasa sakit karena ulah Devan, gak terima Aya di perlakukan seperti itu, Justin bangkit menghampiri keduanya lebih tepatnya Devan
BUGH.
Cengkeramannya terlepas saat Justin melayangkan pukulan padanya
"urusan lo sama gue, BANGUN LO!"
"engga, engga, Justin Stop.!" Justin menatap Aya dengan tatapan tajam
"Mundur Ay, ini urusan gue sama dia." Aya menggelengkan kepala
"please, jangan kayak gini"
Justin mengernyitkan dahi bingung, iya dia bingung. bisa bisanya Cowok seberengsek Devan dapat Cewek sebaik Aya, gak adil.
"Masuk ke dalam Ay.." Justin menatap tangannya yang di genggam sama Aya, lihat itu jelas Devan makin panas, makin di siram bensin gak mungkin gak makin besar apinya
Devan bangkit, di tarik kasar tangan Aya menyeretnya masuk ke dalam Rumah
"Kenapa pintunya di kunci?" tanya Aya tapi gak di gubris sama Devan
Dia melangkah maju mendekati Aya yang menatapnya dengan penuh ketakutan
"K-Kamu mau ngapain?" tanya Aya, Devan menyunggingkan senyum miring menatap lurus pada Aya
"Jangan macam macam atau aku.—" Devan mendorong Aya ke tembok dengan sekuat tenaga, dia menarik dagu Aya untuk memandangnya
"Shut, diam dan nikmati hukumannya." Devan menjambak rambut Aya dan menariknya mendekat
Devan memejamkan mata, Aya gak bisa berbuat apapun, dia gak di kasih celah untuk pergi
Devan membungkamnya, dia menerobos dengan gesit hingga Aya sulit untuk bernafas, Aya berusaha untuk berteriak, Hal itu membuat Devan semakin marah, dia mendekap Aya semakin erat dan mencumbunya dengan semakin bersemangat
Mata Aya berkaca kaca, dia gak nyangka Devan bakal melakukan sejauh ini sama dia, bukan sok jual mahal tapi dari awal Pacaran Devan gak pernah kayak gini mau semarah apapun dia, paling cuma mengatakan hal hal yang menyakitkan tapi yang di lakukan Devan sekarang, ini melukai Harga dirinya
Devan memaksanya.
Aya terbatuk batuk sambil menarik nafas dengan rakus, sementara Devan mengelus sudut bibirnya sambil menatap Aya dengan tajam
"Berani beraninya lo.!!" Devan mengulurkan untuk tangan menarik Aya, membuatnya terkejut hingga memejamkan mata, tangan Devan berlabuh di tembok yang berada di belakang Aya, dia menjerat Aya
"Devan, please stop. s-sakit Van.." Sebuah kebahagiaan buat Devan melihat Aya memohon kayak gini sama dia, ada perasaan senang dan puas di hatinya entah kenapa
"Gue gak peduli." Air mata yang sedari tadi Aya tahan akhirnya jatuh membasahi pipi
"Shut, gak usah nangis" ujar Devan sambil menyeka air mata itu dengan ibu jarinya
"gak.! berhenti Van.!! please,,berhenti.." Satu hal yang paling gak di sukai Devan
Dia benci penolakan.
"Berani lo nolak gue?"
"please, jangan lakuin lagi Van, s-sakit.."
"Gue, gak peduli." Devan kembali memaksa Aya melakukannya seperti sebelumnya dan Aya jelas berontak, perih di sudut bibirnya di tambah luka baru yang di berikan Devan di bibirnya
Devan baru berhenti pas lihat wajah Aya yang pucat dengan keringat membanjiri, sesekali juga terdengar rintihan kesakitan keluar dari mulutnya dengan tangan kanannya memegang perut bagian bawahnya
"ck, gak usah pura pura biar gue lepasin" ujar Devan, tubuh Aya jatuh meluruh ke lantai tapi gak di tahan sama Devan, di biarin gitu aja
"nyusahin, mati aja lo sekalian. Cewek gak berguna, lo itu emang gak pantas hidup dan beruntung ketemu gue, Cowok yang mau sama Cewek miskin dan nyusahin kayak lo." Tangan kanan Aya meraih lengan Devan dan meremasnya kuat
"Van, t-tolong ... ini, s-sakit banget.." ucap Aya dengan suara pelan namun masih terdengar
Devan menghempaskan tangan Aya dengan kasar, dia berjongkok di hadapan Aya, meraih dagunya untuk memandangnya
Tatapan mata yang sayu, bahkan hampir terpejam dengan nafas yang tidak beraturan
"lo itu, penyesalan terbesar di hidup gue."
Sakit.
Aya gak tahu apa salah dia sama Devan sampai Cowok itu keliatan benci banget sama dia, padahal Aya selalu berusaha menjadi yang terbaik buat Devan, selalu ada di saat Devan membutuhkannya, bukannya menuntut balas, cuma sedikit. gak perlu banyak, Aya hanya ingin di hargai, di akui keberadaanya, sakit rasanya Cinta orang yang gak Cinta balik sama kita, gak usah Cinta. mau sapa aja takut mengganggu
Jujur dari Hati, Aya gak merasa Sia Sia mencintai Seorang Devan, engga sama sekali, sebaliknya. dia merasa beruntung, karena Hidupnya yang selama ini cuma kek Hitam di atas putih jadi lebih warna dengan kehadiran Devan
Gadis senja sepertinya punya Hubungan sama Devan si Primadona Sekolah, Aya gak merasa lelah mempertahankan cuma sedikit ingin di Hargai, sekali aja dia pengen Devan tuh anggap kehadirannya, pengen dia hubungannya kayak orang orang, Jalan jalan, habiskan waktu bersama, pergi ke tempat tempat yang indah
Cuma itu aja tapi rasanya sulit banget, jangankan jalan, Devan di Sekolah aja gak mau interaksi sama dia, Sekalipun dia di Bully sama Risa dan teman temannya, Devan cuma lihat, gak ada bantu sama sekali, malah teman temannya yang bantu seperti Justin, Haris dan yang lainnya
Jatuh tenggelam di dalam Harapan sendiri itu sakitnya luar biasa, Ekspektasi setinggi awan, di hantam Realita, mau sadar tapi Hati gak bisa bohong, Aya gak mau munafik. seberengsek apapun Devan tetap bakal dia Cintai
Makanya Justin atau engga Haris suka banget ngatain dia bego. padahal lelaki masih banyak tapi milih Jatuhin diri cuma buat modelan kayak Devan
ganteng sih tapi nyakitin - kata Haris
"Tahu apa harapan gue, lo pergi untuk selamanya dan gak akan pernah kembali."