Edelweis Love Doyoung TREASURE

Edelweis Love Doyoung TREASURE
•6



Seharian penuh Justin berada di Rumah sakit untuk menemani Aya, dia izin dari kegiatan Sekolah, semua keperluan Aya dia yang mengurus, kenapa dia dan bukannya Devan, sudahlah, gak ada yang bisa di harapkan dari laki laki itu


"Satu suap lagi, ya?" ujar Justin, Aya menggelengkan kepala sambil mendorong pelan mangkoknya menjauh


Justin mendesah berat, sabar. urusin orang sakit emang harus sabar. Justin bisa, Justin ganteng.


Justin mengambil minum yang ada di nakas dan memberikannya pada Aya "Habis ini mau langsung tidur atau ngapain dulu?"


"hm, boleh jalan jalan ke taman gak? aku bosen di sini terus, gak ada yang menarik" ucap Aya


Justin tersenyum tipis, mangkok dan gelas dia letakan kembali di nakas lalu mendekatkan dirinya ke Aya, bermaksud membantu Cewek itu turun dari Ranjang "Hati hati.." ucap Justin


Setelah mendudukannya di kursi Roda, Justin membawa Aya keluar dari kamar rawat untuk menikmati udara segar di taman Rumah sakit yang terletak di bagian belakang


Karena ini musim gugur, Daun maple yang sudah berganti warna nampak indah, alam memang selalu punya cara tersendiri untuk menunjukan keindahan yang di milikinya


Wajah yang sudah tidak terlalu pucat, rambut panjang sebahu berwarna Coklat, bola mata berwarna Coklat Hazel yang sangat indah


Justin gak mau bohong, Aya keliatan Cantik banget hari ini, gak perlu polesan make up atau semacamnya, kecantikannya Natural Alami


Merasa di perhatikan Aya balas menatap Justin dan berhasil membuat Justin salah tingkah tapi Cowok itu terlalu pintar menutupi dengan sikap sok coolnya


"Ayo.." ucap Justin


Sepanjang jalan, Aya selalu menyapa orang orang yang lewat, entah karena terlalu ramah atau apa tapi anehnya orang orang itu gak menganggapnya aneh, mereka menanggapi Aya dengan membalasnya balik


"Kalian berdua serasi." celetuk salah satu orang yang melewati keduanya


Baik Aya dan Justin sama sama kaget, keduanya saling bertukar pandang setelahnya membuang pandangan satu sama lain dan itu terlihat sangat menggemaskan


"Pasangan yang lucu, semoga kalian jodoh sampai pelaminan" Justin gak habis sama orang itu, maksudnya perkataannya, apa dia harus mengatakannya seperti itu?


Kecanggungan melanda sampai mereka tiba di taman, Aya turun dari kursi roda di bantu Justin, angin yang bertiup sepoi sepoi menerbangkan rambut coklatnya


Dia sama dengan keindahan musim gugur.


...***...


Suara pemantik terdengar beriringan dengan semburat warna biru menyala pada ujung rokok yang terselip di bibirnya lalu menghisapnya


Seorang Cewek datang mendudukkan diri di samping Devan, Cewek itu gak lain adalah Risa


"Devan.." panggil Risa tapi gak di gubris sama lelaki itu, Gak kehabisan akal untuk menarik perhatiannya, Risa mendekatkan diri, kedua tangannya memeluk Tubuh Devan dari samping lalu meletakan kepalanya di pundak Devan


"Kenapa sih, kamu keliatan gak mood, aku kurang cantik, ya?" Devan membuang puntung rokok yang masih panjang di tangannya


Tangan kanannya menarik dagu Risa untuk memandangnya "engga, kamu cantik kok, sangat." Netranya turun ke bawah menatap bibir ranum Risa yang sangat menggoda, berwarna merah muda yang sering di sentuh olehnya


Sadar akan pandangan Devan, Risa mengulum senyum penuh arti, tangannya berpindah ke leher Devan, tatapan mata keduanya saling terkunci, saling menyelami dalam diam


Dari kejauhan, teman teman Devan memperhatikan mereka, semuanya ada di pesta ulang tahunnya Yuna itu kecuali Justin


"Farel mulutnya" tegur Juna


"Biarin aja, nanti juga menyesal sendiri" kata David


Mereka kembali berbincang tapi dengan topik yang berbeda, menghiraukan dua insan tidak tahu diri yang saling bertautan tanpa ada ikatan


Ciuman pelan nan lembut yang semakin lama semakin menuntut, Devan menekan tengkuk Risa sementara satu tangan bebas lelaki itu berada di pinggangnya, memeluk posesif.


Seolah dunia hanya milik mereka berdua dan tidak memperdulikan sekitar, keduanya tentu menarik perhatian orang orang di sekitar


Nafas keduanya memburu tidak beraturan begitu ciuman itu terlepas, ciuman yang enggan mereka akhiri sebenarnya, keduanya saling menatap dan tertawa geli


Di lain tempat.


"Justin.." Panggil Aya, pasalnya lelaki itu gak terdengar suaranya selama beberapa menit setelah menyuruhnya memejamkan kedua mata


Alunan suara jangkrik yang saling bersautan dan semilir angin malam, mata Aya terbuka ketika kulitnya sudah tidak lagi merasakan tiupan angin, kepalanya menoleh ke samping, netranya bertemu dengan Justin yang memeluk Tubuh kecilnya dari belakang


"J-Justin, k-kamu ngapain?" tanya Aya gugup


"Kasih kamu kehangatan, apalagi" Justin seharusnya tahu kalau apa yang dia lakukan ini gak baik buat jantungnya Aya


Rona kemerahan muncul di pipi Aya, tangan Justin mengusap lembut pipi Aya


"Malu ya, hm?"


Siapa pun tolong ingetin Justin kalau Aya punya Devan, ini Justin nyari mati apa gimana (?)


"Ay.." Meski gugup luar biasa, Aya tetap memberanikan diri menatap Justin


"i-iya, kenapa?" Justin menatap wajah Aya serius sampai membuatnya semakin salah tingkah


"Kalau gue gantiin posisi Devan, mau gak?" Pertanyaan yang gak pernah Aya pikirin bakal keluar langsung dari mulut Justin, mana dia ngomongnya santai banget kayak di pantai


"h-hah, kamu ngelantur ya? k-kayaknya kamu kecapean karena ngurusin aku seharian, ayo kita balik aja ke.—" Justin mendekatkan wajahnya ke depan wajah Aya


"Gue gak suka sama lo Ay tapi di sini.." Justin tarik pelan tangan Aya menyentuh dadanya


"Selalu berdebar setiap gue berada di dekat lo, menurut lo, gue kenapa?"


ini sumpah si Justin gak mikir perasaan Aya apa gimana, langsung sat set sat set, punya orang mas, PUNYA ORANG.


Sadar gak benar, Aya tarik tangannya terus alihin pandangan, seberengsek apapun Devan, gila aja kalau dia sama temennya.


Aya juga gak bisa bohong kalau dia nyaman sama perlakuan yang di berikan Justin, Justin membuatnya merasa nyaman, Berharga juga di cintai. beda jauh sama Devan


"aku gak tahu.." sahut Aya


Justin menghela nafas, menatap Aya dengan tatapan sendu "Ke kamar sekarang, udaranya makin dingin." Aya menganggukan kepala