
"Boom."
Semua orang yang berada di kelas tertawa, hanya satu orang merekam detik detik bagaimana tepung yang sengaja orang suruhannya pasang sedemikian rupa di atas pintu kelas, jatuh tepat di atas kepala Aya
Meski penuh dengan tepung, matanya masih bisa menangkap jelas tatapan mengejek yang Risa layangkan padanya, tidak hanya dia tapi tatapan menyakitkan itu di layangkan oleh orang orang di sekitar padanya
Risa melangkah pelan dengan tatapan angkuh menghampiri Aya "ck, gak seru, nangis dong"
Risa berbalik badan menatap ke teman temannya berpura pura kecewa "Gak sesuai keinginan pemirsa, gimana dong" ujar Risa
"Masa sih, ya udah sini sama gue" Yuna menghampiri Aya, dia terkekeh kemudian menjulurkan tangannya menarik rambut Aya dengan kuat sampai kepalanya mendongak
"Gue gak ngerti kenapa muka jelek kayak gini bisa temenan sama Cowok kayak Haris dan teman temannya, ck. lo gak semenarik itu, jujur aja deh, jadi piala bergilir kan lo?"
"Gue sih yakin banget karena gak mungkin nih sampah satu bisa temenan sama mereka secara cuma cuma, gila aja, gue yang liat lo aja muak apalagi mereka, gini aja deh, buat buktiin lo piala bergilir atau engga, gimana kalau lo buka Seragam lo disini, hm?" sahut Daniel
Risa tersenyum miring "ide bagus, biar malu sekalian nih Cewek, kok gue gak kepikiran ya"
"Buka Seragam lo." tutur Risa, Aya yang sedari tadi diam akhirnya buka suara
"Kalau kalian pikir aku bakal turutin kemauan kalian, kalian salah, gak akan, jangan gila kamu Risa! apa yang kamu lakuin ini udah kelewatan!"
Risa tertawa kecil "Kelewatan katanya guys.."
Yuna dan Daniel saling menatap sembari memasang wajah sedih, Risa menarik dagu Aya untuk memandangnya
"apa gue keliatan peduli, hm?"
"Kamu itu bukan manusia Risa tapi iblis."
"Dan iblis ini bakal bikin hidup lo kayak di Neraka karena berani lawan dia"
"ahk.!" Risa menginjak tangan Aya dengan sekuat tenaga, Daniel bertugas membekap mulut Aya agar tidak bisa berteriak sedangkan Yuna bertugas melepas paksa Seragam yang dikenakan Aya
"Diam berengsek, lo itu cuma harus nurut biar kita percaya kalau lo itu Cewek baik baik" Aya terus berontak saat Yuna melepas paksa Seragamnya
"Risa bantuin gue dong, ini anak gak mau diam anjir, pengen gue tonjok tahu gak" ujar Yuna
PLAK.!
PLAK.!
"Cari mati lo, diam atau gue kasih lo ke anak anak berandal Sekolah ini, biar di pake lo sekalian sama mereka, mau?" Aya gak bisa jawab karena Daniel membekap mulutnya
"****, kalau kayak gini bisa ketahuan kita" sahut Daniel
"Bawa dia ke gudang" Yuna tersenyum miring
"Gitu kek dari tadi"
"Jangan ada yang berani buka mulut atau nasib kalian, bakal sama kayak sampah ini."
.
"Kyle, lo ngerasa aneh gak sih?" tanya Kevin dengan suara agak berbisik karena mereka di Perpustakaan Sekolah
"Perasaan gue gak enak" Kyle menghela nafas kasar, menatap Kevin dengan tatapan malas
"Gue kira apaan, kek Cewek aja lo mainnya perasaan, emang punya?" Tidak terima di katai begitu Kevin menarik pelan rambut Kyle
"Gini gini gue masih punya hati ya, gak kayak lo yang suka mainin perasaan cewek" tutur Kevin
"apa apaan nih sindir profesi"
"Shutt, orang ganteng gak boleh marah, dah buruan cari bukunya lama amat, gak betah gue disini, image anak nakal gue ternodai"
"Kalian berdua, bisa diam tidak, ini Perpustakaan, bisa baca kan?" ucap salah satu Siswi yang ada disana sambil menunjuk papan peraturan yang di tempel di dinding, merasa tidak enak bercampur malu, Kyle tersenyum tipis lalu menarik Kevin keluar dari sana
"Tobat gue ajak lo, gak lagi" gerutu Kyle
.
"arrgghh.!!"
"Rasain lo, emang enak, makanya jadi Cewek jangan sok kecakepan, Devan itu cuma punya gue! LO DENGAR ITU BAIK BAIK!
— lo boleh aja jadi Ceweknya tapi Hatinya itu cuma buat gue, Cintanya buat gue. butiran debu kayak lo ini bukan apa apa buat dia" Ketiganya melangkah keluar dari Gudang
"Buang kuncinya. terserah kemana, biarin dia tidur di sini sampai besok, kalau mati lebih bagus lagi, buruan tutup pintunya, eh Yuna! kenapa diam, tutup pintunya!" Gerak gerik Yuna yang tampak ragu rupajya di sadari oleh Risa
"Jangan bilang lo kasian sama dia?" tanya Risa
Yuna menggelengkan kepala ribut "K-Kasihan sama dia, sorry. kurang kerjaan banget"
"Kalau gitu buang kuncinya sekarang"
"h-hah?"
"ck, lo kenapa sih?!" Risa merampas kunci pintu Gudang dari tangan Yuna dengan kasar lalu melempar kuncinya ke sembarang arah
"Tinggal buang gitu aja lama banget, cabut." Yuna masih diam di tempatnya, sedikit perasaan bersalah menghinggapinya, di tatap pintu Gudang itu selama beberapa menit
"YUNA BURUAN!!" teriak Daniel
"maaf, I-IYA TUNGGU!!" Yuna segera menghampiri keduanya temannya itu sebelum Risa marah besar
Di dalam Gudang Aya menangis tanpa suara, tidak sanggup berdiri, dia menyeret tubuhnya ke arah pintu, kepalanya di benturkan sembari memohon pertolongan dengan suara yang agak pelan, mustahil terdengar tapi tenaganya sudah habis, buat nafas aja rasanya susah
"huekk.." Aya menyadarkan tubuhnya yang
lemas tidak berdaya ke dahan pintu, keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya bersamaan dengan nafasnya yang terasa sesak
"t-tolong...ahk...t-tolong siapapun, t-tolong" lirih Aya sembari memukul mukul pelan dadanya
"huekk.." Wajahnya pucat pasi, Aya merasa kalau ajalnya sebentar lagi, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit sampai ke bagian dalam
aku tidak apa apa kalau harus mati sekarang, sungguh. tapi biarkan Devan menemukan aku disini, biarkan aku merasakan pelukannya untuk yang terakhir kali, Tuhan. - batin Aya