Edelweis Love Doyoung TREASURE

Edelweis Love Doyoung TREASURE
•11



Matahari pagi menyusup masuk melalui celah jendela kamar, tirai jendela menyibak tertiup hembusan angin, mengusik seseorang yang tubuhnya tergulung dalam balutan selimut


Clek.


Pintu kamar terbuka, muncul Seorang lelaki berpakaian Seragam lengkap, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar


"bisa bisanya jam segini masih tidur." Lelaki itu mendudukan diri di tepi ranjang, tangannya bergerak mengusap kepala Cewek yang ada di sampingnya itu lembut


"Bangun hei, udah pagi, mau sampai kapan kamu tidurnya, hm. aku udah siap nih, masa kamu masih tidur, nanti telat loh berangkat ke Sekolahnya, sayang,,Aya..hei, bangun.." Aya menggeliat tapi gak bangun melainkan semakin merapatkan selimut


grep.


"Bangun atau kamu aku cium." Mendengar ucapan lelaki itu, kedua mata Ayah langsung terbuka, dia udah gak di alam mimpi, cuma malas aja buat bangun, di tambah udara pagi ini sangat dingin, enak banget dipakai buat tidur


"ck, iya iya, ini aku bangun, sudah sana keluar, aku mau siap siap, gak mungkin kan aku ganti pakaian di depan kamu" celetuk Aya


"aku pengennya gitu malah"


tuk.!


"GAK USAH ANEH ANEH KAMU YA, KELUAR. DARI. KAMAR. AKU. SEKARANG.!" Lelaki itu bangkit dari tepi ranjang, sembari tertawa dia melangkahkan kakinya keluar kamar


Aya mendesah berat, netranya melihat jam yang berada di nakas samping tidurnya menunjukan pukul 6 pagi, masih terlalu awal untuk berangkat Sekolah yang mulainya aja jam 8.


Justin benar benar, Aya menyesal memberikan kunci cadangan Rumah padanya kalau tahu akan seperti ini setiap hari


Meski kadar kemalasannya sudah mencapai 100% tapi Aya tetap masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, gak perlu waktu lama karena dia juga gak suka lama lama, Aya keluar dengan tubuh yang sudah berbalut Seragam lengkap dengan Dasi, dia memang membawa semuanya ke kamar mandi, takut Justin tiba tiba masuk. anak itu suka usil soalnya


Aya mendudukan diri di meja rias, memakai make up yang natural, sewajarnya anak Sekolah karena dia juga gak suka berlebihan, jadi cuma pakai bedak, maskara dan lip gloss, yang penting gak pucat aja, udah gitu


Tangannya bergerak mengambil Tas Sekolah di meja belajar yang sudah dia siapkan semalam lalu keluar dari kamarnya, sesampainya di dapur dia lihat Justin lagu masak telur ceplok


"Good morning.." Aya berhambur memeluk tubuh tegap Justin dari belakang dengan sangat erat, si empunya tersenyum tipis, tangannya bergerak mematikan kompor lalu berbalik badan dan balas memeluk Aya


Cup.


"Wangi banget kesayangan aku.." Aya mendongakan kepala menatap Justin


"iya dong, Aya gitu loh" Justin mendekatkan wajah mereka hingga tak jarak


"gemes banget sih, punya siapa?"


"Punya kamu."


Cup.


"Ihhh Justin.!"


"Haha, iya iya sini aku rapihin lagi rambutnya, lembut banget, kamu pakai Shampoo apa?"


"ada deh, tapi serius beneran lembut?" Justin menganggukan kepala


"Sampai pengen aku usap terus" Wajah Aya memerah seketika mendengar gombalan receh yang di lontarkan Justin


"Gak usah gombal kamu ya, ayo cepat makan, perut aku udah minta di isi" Aya menarik Justin untuk duduk, sebenarnya waktu masih lama, gak usah buru buru tapi emang Aya lagi malu, salah tingkah dia kalau di gituin


"Gimana, enak?" Aya mengacungkan jempolnya pertanda kalau sarapan yang dibuat Justin enak


"lain kali masakin aku lagi tapi aku maunya kamu buat Nasi goreng, bisa?" Justin mengusap kepala Aya lembut


"apa sih yang engga buat kamu"


"Kenapa?" tanya Aya, Justin menatap Aya dengan tatapan yang sulit di artikan


"Kamu serius gak inget sama dia?" Aya mengernyitkan dahi bingung, dia siapa yang di maksud Justin


"Dia siapa?" tanya Aya lagi


"Devan."


"Devan, Devan siapa?"


"Serius, kamu gak lagi bercanda kan Ay"


"Bercanda apa sih, kamu juga pertanyaannya aneh, aku aja gak kenal sama orang yang kamu sebut tadi, emang dia siapa? sepupu kamu? saudara jauh? adik kamu?" Justin mendesah berat lalu kembali menatap Aya dengan senyum tipis terpatri di wajah tampannya


"Bukan siapa siapa, udah gak usah di pikirin, habiskan makan kamu terus kita berangkat" Aya menatap kepergian Justin dengan tatapan bingung


"Aku jujur padahal, emangnya dia siapa sih, Devan, Devan, dah lah aku gak tahu" ujar Aya


Selesai makanan, gak lupa dia bereskan semuanya lalu menyusul Justin yang menunggunya di Ruang tamu


"udah selesai makannya?" tanya Justin, Aya menganggukan kepalanya lucu, ini kalau bukan anak orang udah Justin masukin ke dalam karung


"Berangkat sekarang atau nanti?" Aya menghentakan kaki kesal


"ih gimana sih, tadi kamu yang bilang mau berangkatnya sekarang, jangan bikin aku sebel sama kamu pagi pagi ya, masih lagi loh ini bukan siang, jangan cari gara gara kamu" Justin menghampiri Aya


"aduh aduh iya, kesayangan ku kalau marah kok jadi gemes banget sih, jadi pengen cium."


"Heh! mulut mu itu loh!"


"iya iya engga, tapi kalau kamu mau beneran juga gak apa apa sih, kan enak di aku"


"Bicara lagi kamu aku pukul ya"


"eits, jangan jangan galak galak dong tapi gak apa apa, makin sayang aku jadinya"


"Dasar aneh!"


"aneh aneh gini juga sayang kan kamu"


"dah lah, ayo berangkat, capek jantung aku berdebar terus karena kamu"


"ekhem, jantung berdebar gak tuh"


"Justin!!"


"haha, iya sayang iya, ayo berangkat tapi aku minta hadiah ku dulu" Aya menatap Justin dengan tatapan bingung


"Ulang tahun kamu kan masih lama"


"Bukan hadiah itu"


"Terus, hadiah apa?"


Cup.


Justin mencium tepat di sudut Bibir Aya dan itu terjadi sangat cepat, habis melakukannya Justin lari menjauh. takut di jambak dia sama Aya


"JUSTIN KAMU BENER BENER YA!"