
Justin mengulurkan tangannya pada Aya, dengan maksud ingin membantunya naik ke atas Motor tapi uluran tangannya gak di sambut, Aya cuma diam abis itu alihin pandangannya ke arah lain, antara malu sama canggung, Justin berdehem guna mengusir kecanggungan yang tiba tiba melanda, Aya juga coba bersikap biasa saja walau dalamnya udah berisik banget
Setelah Aya naik, Justin melajukan Motornya dengan kecepatan sedang, selama perjalanan gak ada pembicaraan sama sekali, ini jelas bukan Justin banget, mana ada Seorang Justin yang bestienya Haris si paling berisik di kelas diam aja kayak patung pameran
Angin sepoi sepoi menerbangkan beberapa helai rambut Aya, lewat kaca spion Motornya, Justin memberanikan diri melihat Aya dari sana, itu Cewek cuma diam natap sekitar, wajah pucatnya jelas terlihat apalagi lukanya tapi yang aneh gak menghilangkan Cantiknya sama sekali
Sadar kalau di perhatikan Aya melihat balik ke spion Motor dan netra keduanya gak sengaja bertemu, langsung dalam hati Justin caci maki dirinya sendiri, kek bego amat dia ampe ketahuan, Harga diri ama muka mau di letakin dimana ini, kelihatan gak gentle, mana langsung buang muka, ketahuan banget salah tingkahnya
"Justin." panggil Aya
"Oh, iya. kenapa?" jawab Justin
ini si Aya kenapa senyum senyum, dia gak kerasukan Setan penunggu jalan kan ya - Batin Justin
Tapi gak bohong sih, bener kata orang kalau rumput tetangga itu emang lebih indah.
Harus kuat ini hati, Devan punya soalnya, bisa abis Justin kalau ketahuan macam macam, gitu gitu Devan kalau marah, marahnya lebih menyeramkan dari Guru Matematika
Motor Justin berhenti di Rumah yang gak terlalu terlalu besar tapi masih terlihat layak di tinggali
"Makasih.." ucap Aya
"o-oh,,iya. sama sama.."
Ya ampun, cuma bilang makasih tapi si Aya natapnya udah kek minta di Nikahin, untung Justin kuat, coba kalau engga, barusan lewat KUA. kalau dia mau bisa aja langsung SAH untungnya aja ingat ini PUNYA TEMAN.
Sejujurnya Aya merasa gak enak sama Justin karena di antarkan sampai ke Rumah, Aya yakin pasti tuh Cowok gak nyaman lihat Rumahnya yang kecil dan kumuh, beda jauh sama Rumah dia yang kayak Hotel bintang sepuluh
Tapi biar begitu, Aya gak sungkan buat menawarkan Justin untuk mampir, terserah apa yang dia pikirin yang penting, Aya sudah bersikap selayaknya Tuan Rumah yang baik dengan menawarkannya untuk mampir
"Boleh?" tanya Justin
"Tentu, kenapa engga tapi maaf aku gak bisa jamuan yang.—eh.." Perkataan Aya terhenti karena Justin tiba tiba pegang tangannya terus tatap dia dengan senyum tipis namun manis
"Bicara apa sih, di tawarin mampir aja udah makasih banget gue, ayo masuk" Aya mungkin bakal diam terus kalau Justin gak tarik tangannya, maklum. belum pernah dia dengar Justin bicara selembut tadi
Setelah keduanya masuk ke dalam Rumah, seseorang keluar dari semak semak, memakai pakaian serba hitam dengan kamera yang menggantung di leher, dia diam dengan pandangan lurus ke depan, menatap ke arah Rumah Aya dan..
cekrek.
***
"Woy, lihat Bang Justin gak?" tanya Farel ke salah satu murid yang sekelas sama Justin
"Terakhir gue lihat dia masuk ke UKS sama Haris." Mendengar dengan jelas nama Haris di sebut, semua mata langsung melihat ke arah Haris yang lagi sibuk main Game
"Gak usah liatin gue kayak gitu, emang gue ngapain, ampe ada yang mikir macam macam gue tonjok orangnya" jelas Haris dengan nada suara berat yang terkesan tegas.
"ada yang lihat Aya?" ujar Kevin memecah keheningan yang terjadi selama berapa menit
Dengar nama Aya, Devan buka suara
"Kenapa lo nanya soal dia?" tanya Devan
"Santai bro, gue ada urusan sedikit sama dia" jawab Kevin
"urusan apa?" Devan kembali bertanya
ting.!
Pesan dari nomor yang tidak di kenali mengirimkan tiga foto padanya, rahangnya mengeras seketika
berengsek. - batin Devan
Pantas aja di liat liat itu anak berdua gak ada, ternyata.— David yang berdiri di samping Devan menyadari perubahan raut wajahnya
pasti ada yang gak beres nih - batin David
"eh, Devan.! mau kemana lo?!" teriak Juna tapi di bodo amatin sama Devan
"Perasaan gue gak enak." sahut Arthur
Mereka kompak menoleh menatap ke arahnya
.
"eh Devan, mau kemana lo bawa tas segala, ini belum jam pulang" Juna jegat Devan yang baru aja keluar kelas, gak cuma Juna, ada yang lainnya juga. karena perkataan Arthur tadi mereka jadi ngikutin Devan, Arthur kalau udah ngomong wajib hukumnya buat di percaya karena itu bakal langsung kejadian
Devan gak jawab perkataan Juna, Danny maju mendekat, dia udah ngerasa kalau emang ada yang gak beres, bisa di lihat dari raut wajah Devan, anak itu kalau marah keliatan banget dari mukanya yang merah
"Gue gak tau apa masalah lo tapi selesaikan secara baik baik, dengan kepala dingin." ucap Danny menasehati
"ck, Kalau gak tahu apa apa mendingan lo diem Bang. gak usah ikut campur." Devan beralih menatap mereka semua
"Kalian semua juga, gak usah ikut campur urusan gue." Juna lagi lagi menghalangi Devan yang hendak pergi
"Gak ada yang izinin lo pergi." Devan tersenyum miring
"lo kira gue peduli, minggir."
"Susulin, takut gue itu anak bikin ulah, soal izin biar gue telepon Paman gue, cabut." ujar Danny
Kalau kalian mau tau ini SMA Cendana sebenarnya punya keluarga Danny dan Pamannya yang menjabat sebagai Kepala Sekolah tapi anak anak di Sekolah gak ada yang tahu kalau Danny anak dari Pemilik Sekolah, yang tahu cuma Juna sama yang lain
"Menurut lo Devan mau kemana?" tanya Kevin ke Jaden
"Justin gak ada, Aya juga. apa iya?" Kevin menggelengkan kepala
"Gue gak tahu tapi gak gue rasa sih gak mungkin, gue tahu Justin, lo juga tahu dia anaknya gimana, itu anak gak mungkin berani main api. seberengsek seberengsek dia cuma sebatas baperin anak orang bukan mengambil milik temannya sendiri" Jaden menganggukan kepala
"Gue yakin dia gak kayak gitu tapi yang tahu sebenarnya cuma Haris, karema dia yang terakhir kali sama Justin." Keduanya menoleh bersamaan melihat ke arah Haris
"Kenapa lo berdua ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Haris sambil natap keduanya sinis
"ck, bicara kek lo, diem diem aja. noh Devan panas, gak usah belaga gak tahu deh lo" ujar Kevin
"apa gue keliatan peduli? biar aja, nanti juga malu sendiri, bukan urusan gue itu mah, siapa suruh ikutin emosi, heran gue ama dia, gayanya aja sok gak nerima Aya, bilang dia begini lah begitu lah, ampe jalan mulu ama Cewek lain, giliran Aya sama Cowok lain dia marah, emang gak waras itu orang, bukan teman gue asli."
"Buset si Haris mulutnya, gue bilangin Bang Danny tahu rasa lo, bisa bisanya.."
"ck, kenyataan kali. emang itu orang kan gengsinya tinggi kek menara Dubai, entar juga kalau di tinggalin nangis Bombay."