
Mobil Justin masuk ke dalam area Sekolah dan berhenti tepat di parkiran SMA Cendana, Aya menahan Justin yang hendak turun lebih dulu, sudah tahu dia lelaki itu pasti mau membukakan Pintu mobil untuknya
"aku bisa sendiri." Tangan Justin bergerak mengusap lembut puncak kepalanya
"Bisa gak usah gak sih sehari aja kamu jangan gemes gemes, pengen aku gigit"
"Kebiasaan nih mulutnya"
"hehe, ya udah yuk turun"
Aya menganggukan kepala
"eh tunggu sebentar" Justin menoleh menatapnya
"Kenapa?"
"Kamu ngerasa ada yang aneh gak?"
"aneh maksudnya?" Aya mengedarkan pandangan ke sekeliling, orang orang memandanginya dengan tatapan yang membuatnya merasa gak nyaman
Mengerti apa yang di maksud Aya, tangan Justin bergerak menggenggam tangannya sembari melempar senyum tipis "its okay, ada aku, kamu gak usah takut, lagian sejak kapan kamu takut sama mereka, kamu gak lupa kan siapa kamu?"
Aya beralih menatap Justin "aku, Aya. Aya Nara. siapa lagi, kamu mulai lagi deh" gerutu Aya
Justin mendesah pelan "Maksud aku, kamu itu Cewek Populer seantero Cendana, siapa yang berani sama kamu, jadi gak usah takut" tutur Justin, Aya langsung kaget mendengarnya
"a-aku, C-Cewek Populer?" Justin menganggukan kepala, Aya mendesah berat, menatap Justin dengan tatapan kesal
"ck, Justin. aku kan udah bilang sama kamu jangan cari gara gara, lama lama aku males deh sama kamu" celetuk Aya
"Siapa yang cari gara gara sih Ay, ini aku bicara jujur banget loh, siapa sih di Cendana yang gak kenal kamu, mau bukti?" tantang Justin
"Terserah, males aku ngomong sama kamu" Aya langsung turun dari mobil begitu juga dengan Justin yang ikut menyusul
"Oh astaga, Justin! kamu.!—"
"lo, jawab sekarang, siapa dia?" tanya Justin sama salah satu Siswi berkaca
"Justin kamu apa apaan sih" tegur Aya
"Buruan jawab, waktu gue gak banyak, lo kenal kan siapa Cewek gue, gak mungkin lo gak tahu"
Gadis berkaca mata, berkuncir kuda itu menganggukan kepala sembari tersenyum kaku
"Kak Aya itu Cewek populer seantero Cendana, Gak ada yang gak kenal sama kak Aya, Cantik, berprestasi, di tambah lagi dia Pacarnya kak Justin, salah satu dari temannya Kak Danny yang merupakan pemilik dari Sekolah ini." Jelasnya
"h-hah?" Justin menatap Aya
"Kalau masih gak percaya juga, kita ketemu Bang Danny sekarang"
Aya yang masih gak percaya terdiam, gak menggubris pertanyaan Justin
"lo boleh pergi" titah Justin sama Siswi itu
"Baik kak, permisi.."
"Serius Ay, kita ke Bang Danny sekarang kalau kamu masih gak percaya" tutur Justin
"Sejak kapan?" tanya Aya
"apanya?"
"aku kayak gini"
"Kayak gini gimana, Populer maksud kamu?" Aya menganggukan kepala
"Kamu Populer sejak kamu pertama kali menginjakan kamu ke Sekolah ini, kamu itu cantik, di tambah lagi kamu pernah.—"
"JUSTIN!" teriak seseorang mengalihkan perhatian keduanya, Kevin. dia datang bersama Danny dan yang lainnya, ada satu Cowok yang terasa familiar buat Aya tapi dia gak tahu siapa
Mukanya kecil, punya alis mata tebal, mata seperti kelinci, terlihat polos tapi banyak yang gak bisa di jelaskan arti dari tatapan itu
Bel istirahat berbunyi, semua murid berbondong bondong keluar dari kelas menuju kantin untuk mengisi perut mereka, Hari ini kantin ramainya bukan main, lebih ramai dari biasanya dan itu bikin Aya bingung untuk cari tempat duduk
udah bingung di tambah semua mata natap dia kek harimau ketemu mangsa, makin gak nyaman aja Aya, tiba tiba tubuhnya tertarik ke samping, Aya kaget, untung dia gak jatuh, kepalanya nengok ke samping buat liat siapa orang yang tarik tangannya, Aya gak sepikun itu buat lupa siapa Cowok ini
Dia Cowok yang tadi datang sama Danny, Aya menatap tangan Cowok itu yang terulur ke depannya "Kenalin, nama Gue Devan."
Aya menatapnya sejenak, dengan ragu dia menyambut uluran tangan Cowok bernama Devan itu "Aya, Aya Nara."
"lo cantik." celetuk Devan
"h-hah?" Devan tersenyum tipis
"iya, lo cantik hari ini" Siapa yang gak bakalan merah pipinya kalau di gombalin kayak gitu
"lucu." Aya memberanikan diri menatap Devan
"Makasih.." ujar Aya
"Tapi sayang bukan punya gue." Setelah mengatakan itu Devan pergi, gak lama ada yang datang merangkulnya, siapa lagi orangnya kalau bukan Justin
"Kamu aku panggil gak denger apa gimana, segitu suara ku udah menggema seisi kantin, mikirin apa sih, kamu sakit?" Tangan Justin bergerak menyentuh dahi Aya
"engga, aku gak sakit"
"Terus kenapa?"
"emang aku kenapa?"
"Terserah kamu Ay, dah ayo, perut aku udah minta di isi makanan" Justin tentu mengajaknya duduk satu meja dengan Danny dan yang lain
Aya menatap mereka satu persatu, yang benar aja ini dia Cewek sendiri dan liat mata mata itu, natap dia udah kayak mau makan orang
"Kenapa Ay?" tanya Kevin
"o-oh, gak apa apa.." ujar Aya sembari tersenyum kaku
"anggap aja cuma kita disini, sisanya ghoib, mereka emang gak pernah liat orang cantik makanya begitu, norak." tutur Farel dengan mulut yang penuh makanan
"Telan dulu itu makanan Farel, keselek gak tanggung jawab ya gue" ujar Haris
"Bang Haris gak usah sok manis deh."
"Si anjir, masih untung gue perhatiin lo"
"emang aku minta?"
"Bang Juna ini coba tolong anaknya, pengen gue lempar ke laut sumpah"
"udah kalian berdua, gak baik ribut depan makanan, ada Aya juga. gak malu kalian" ujar Danny
Meja yang berisi 13 orang itu ramainya bukan main, ada aja yang di lakuin, gak ada yang bisa diam kecuali Devan, Aya sama Arthur
Arthur diam karena emang dia pendiam anaknya, gak banyak bicara. gak suka malah, makanya kebanyakan orang orang pada kiranya dia bisu saking jarangnya bicara, kalau Aya dia diam karena Devan liat ke arahnya terus, ampe gak kedip matanya, Aya aja heran. emang gak perih itu mata engga kedip kedip
Jadinya selama makan, Aya gak ikut dalam obrolan, karena pertama dia gak ngerti juga apa yang mereka bicarakan, kedua Devan yang menatap ke arahnya terus, cukup yang lain Devan jangan, Aya makin merasa gak nyaman banget pake banget
Aya yang gelisah di sadari sama Arthur, dia melirik sekilas ke arah Devan, itu anak makanan gak di sentuh sama sekali, sendoknya cuma di pegang terus matanya natap lurus ke Aya
tuk.
Dengan sengaja Arthur senggol gelas minumnya, Jus jeruk segar yang cocok di minum di cuaca yang lagi panas kayak sekarang
"Ya tuhan, bisa bisanya lo udah diam tapi gelasnya malah jatuh, bikin kerjaan sumpah"
"Berisik lo, makan sana" celetuk Arthur
Dia melirik ke arah Devan, Cowok itu udah gak menatap Aya lagi, ganti fokus ke makanannya