Edelweis Love Doyoung TREASURE

Edelweis Love Doyoung TREASURE
•1



Hujan di pagi hari ini turun sangat deras, padahal perkiraan cuaca bilangnya mendung berawan, emang bener kata orang, percaya sama yang namanya Ramalan itu sesat.


Selesai bersih bersih, Aya keluar dari kamarnya terus pergi ke dapur buat bikin sarapan, buat siapa lagi, ya buat dia tentunya


Aya hidup sebatang kara karena orang tuanya meninggal dan dia adalah anak satu satunya, sebenarnya dia masih ada saudara dari pihak Ibu dan Ayah tapi dari mereka gak ada yang mau urus dia, jadi Aya putuskan untuk hidup mandiri saja, berjuang sendiri meski capek yang penting hasil keringatnya sendiri, Aya tinggal di sebuah kontrakan kecil dua ruangan, satunya untuk kamar mandi dan satunya lagi seperti Ruang tamu yang di sulap menjadi kamar


Menu sarapan hari ini gak mewah dan sama seperti biasanya, ada Roti dan selesai kacang kesukaan dia, sederhana tapi nikmatnya luar biasa, gak begitu mengenyangkan tapi lebih baik dari pada dia kelaparan


Selesai sarapan, Aya cuci piringnya terus siapin bekal buat dia yaitu Roti yang tadi dia makan, uangnya gak cukup untuk beli beras sama lauk pauk karena sebagian terpakai buat bayar kontrakan jadi sebisa mungkin dia harus mengirit sampai mendapat Gaji lagi di bulan berikutnya atau uang tambahan dari pekerjaan Part Time yang dia lakukan


Aya masih dukuk di bangku kelas 2 SMA, dia Sekolah di SMA Cendana. SMA terpandang di kotanya dan merupakan salah satu Sekolah Favorite yang menjadi incaran anak anak berprestasi, Sekolah di Cendana biayanya gak main main, kalau kalian pernah nonton Drama Korea yang judulnya The Heirs. ya seperti itulah SMA Cendana


isinya kebanyakan anak anak orang kaya, mungkin cuma Aya yang orang miskin tapi emang bener, cuma Aya seorang yang Sekolah di Cendana pakai Beasiswa, secara finansial Aya boleh insecure tapi secara kemampuan otak dia gak pernah insecure, karena Cendana Sekolah ternama, masuknya juga susah dan harus lewatin berbagai macam tahapan dan syukurlah Aya berhasil, dia patut berbangga dengan itu


Selesai dengan semua urusannya Aya keluar dari Rumah, bersiap untuk pergi tapi masih tertahan karena Hujan, di tambah lagi dia gak punya mantel atau pun payung, punya sebenarnya tapi sudahlah, bad mood Aya kalau di inget inget


"Hujan, berhenti dong, aku mau Sekolah, kalau gak cepat cepat nanti terlambat dan kalau terlambat di hukum Pak Ihsan, itu Guru Fisika galak banget gak ada baik baiknya" ujar Aya dan karena terlalu asik sendiri, mobil Devan yang lewat depan di matanya gak dia sadari


Mobil sedan berwarna putih itu berhenti, kacanya terbuka dan keluar kepala Devan dari dalam, dengan sengaja itu klakson mobil Devan pencet beberapa kali, alhasil bukan cuma Aya yang dibuat kaget tapi orang yang lewat di jalan itu juga kaget


Aya telan ludahnya kasar pas liat Devan tatap dia dengan tatapan menyeramkan, bulu kuduknya langsung merinding, gak lagi memikirkan soal Hujan yang belum berhenti, Aya bergegas cepat masuk ke dalam mobil Devan sebel Cowok itu marah dan lakuin hal yang gak akan dia bayangkan sebelumnya


Devan berdecak kesal melihat Aya masuk ke dalam mobilnya dengan keadaan basah


ya kalau emang gak suka kenapa gak lo turun aja Van jemput dan payunin dia biar mobil lo gak basah, dasar si Devan, ganteng doang tapi bikin orang darah tinggi


Devan ambil tasnya yang berada di jok belakang, terus ambil handuk dan di lempar ke wajah Aya gitu aja, itu handuk emang biasa dia bawa karena doi anak Basket di Sekolahnya yang akhir akhir ini sering latihan buat persiapan tanding antar Sekolah yang akan di adakan gak lama lagi


"Makasih Kak.." ujar Aya


Devan berdecak "lain kali lo bangunnya lebih pagi, nyusahin banget sih"


Bangun lebih pagi gimana maksudnya, iya dirinya bangun pagi terus dia? bukannya sama aja ya bakal kayak gini juga kalau kita lihat posisinya tetap agak siang, gak ada bedanya. lagian Aya gak minta buat di jemput tapi Devan yang tiba tiba lewat itu pun gak dia sadari


"Kenapa lo liatin gue kayak gitu?" Suara Devan menyadarkan Aya dari lamunannya


Devan lagi lagi berdecak "ck, dasar orang Miskin, lo tuh bisa gak sih, sehari aja gak nyusahin gue.!"


Aya menghembuskan nafas kasar "Tapi aku gak minta Kak Devan buat jemput" Suaranya memang pelan tapi telinga Devan masih normal jadi bisa dengar dengan sangat jelas


"Oh, jadi lo nyalahin gue, gitu?!!!" Aya terlonjak kaget karena Devan naikin nada bicaranya


"Jawab.!! Kenapa diam?! emang gak ada terima kasihnya lo jadi Cewek, seharusnya lo bersyukur gue masih mau sama Cewek kayak lo, lo gak buta kan buat liat kalau banyak yang ngantri di luaran sana buat berada di posisi lo saat ini?"


Aya menundukkan kepala dengan raut wajah sendu, suka sedih dia kalau Devan bicara kayak gitu, seolah dia gak ada artinya sama sekali karena Devan bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari dia di luaran sana kalau dia mau


Tahu.


Aya tahu dia gak secantik Cewek Cewek populer di Sekolahnya. dia gak kaya akan Harta, dia gak bisa selalu nemenin Devan, pergi jalan kesana kesini seperti orang Pacaran pada umumnya, tapi terlepas dari semua itu, beberapa teman Devan juga tahu kalau Aya habis manis sepah di buang.


Devan bakal sama dia kalau lagi bosen aja setelahnya udah, gak anggap dia sama sekali dan Aya cukup terbiasa dengan sikap Devan yang seperti itu, saking terbiasa sampai mau nangis juga susah, jadi Aya cuma bisa alihkan pandangannya ke arah lain kalau Devan lagi sama Cewek lain


Tapi serius, gak usah kasihan. ini semua juga atas kemauannya sendiri, tetap bertahan sampai sejauh ini, menerima semua perlakuan tidak mengenakan dari Devan, bodoh dan tidak punya otak kalau kata orang itu beda tipis tapi kalau soal cinta siapa sih yang bakal waras?


1 banding 1000 paling banyak 90 persen kayak dia baru sisanya pakai logika


Aya gak tau sampai kapan dia bisa bertahan, tergantung gimana Hatinya, sekarang dia ikutin aja alur yang udah di kasih sama Tuhan, kalau gak berjalan baik nantinya biar waktu yang menjawab


Aya gak pernah merasa dia salah mencintai orang, Aya hanya yakin kalau dia cuma berada di waktu yang salah, Devan pasti akan mencintainya seperti dia mencintai lelaki itu tapi mungkin karena suatu alasan, Devan terus menyakitinya


Devan itu layaknya Mawar berduri, melukai tapi terlalu indah untuk di lepas