Don't Hope

Don't Hope
#9



Dara menghembuskan nafas kasar lantaran tugas kuliah yang banyak. Sebelumnya ia merasa baik baik saja, tetapi kini ia membagi pikirannya dengan bayang-bayang Reyhan.


Hatinya pun ikut lelah karena perasaannya. Ya, Dara berusaha menepis perasaannya itu, tetapi tidak bisa.


Para mahasiswa yang lain sudah banyak yang pulang, hanya Dara dan Risa di kelas itu yang memang sengaja menunggu keadaan lebih sepi.


"Capek aku," ucap Dara tiba-tiba membuat Risa menoleh kemudian menautkan kedua alisnya.


"Tumben," ucap Risa singkat. Dara mengerti maksudnya.


"Habis ini langsung ke konter atau kita makan dulu?"


"Makan dulu aja," jawab Dara.


"Makan ditempat atau di bungkus?"


"Ditempat."


Risa ternganga. Biasanya ketika mereka ingin makan, Dara meminta untuk di bungkus saja karena ingin cepat cepat sampai konter.


"Kamu keselek apa, Ra? Kok tumben banget mau makan ditempat." Risa terheran-heran sampai menatap Dara serius.


Dara menatap Risa malas. "Aku pengen makan bakso, kalo dibungkus kita nggak bisa makan di konter, emang disana ada mangkok?" Dara memasukkan barang barangnya kedalam tas. "Kamu mau makan apa?" Tanya Dara.


"Wiihhhh, traktir, nih?" Tanya Risa bersemangat.


"Ya enggak. Kamu bayar sendiri."


Risa merengut. "Nggak usah ngasih harapan kalo gitu."


Dara tersenyum simpul. "Aku cuma nanya, nggak ngasih harapan."


Ketika keduanya melewati koridor, mereka berpapasan dengan Reyhan dan Alif yang baru saja keluar dari kelas.


Saat Dara dan Risa melewati keduanya.


"Dara."


Dara mengepalkan tangannya. Apalagi?


Dara membalikkan badannya. "Ada apa?"


Reyhan menghampiri Dara. Alif yang melihat itu hanya memasang raut wajah datar.


"Bisa bicara sebentar?"


"Bicara tinggal bicara," jawab Dara cepat.


"Empat mata!"


Dara kesal, tapi tetap mengiyakan dengan berjalan agak menjauh dari Risa dan Alif.


"Sebentar," ucap Dara saat menatap Risa.


"Libur nanti aku mau ke Kediri," ujar Reyhan yang membuat Dara sedikit terkejut.


"Terus?" Tanya Dara singkat.


Jawaban Dara sungguh diluar perkiraan Reyhan. Namun, Reyhan sudah mulai terbiasa dengan sikap Dara.


"Ketemu ayah sama bunda kamu."


"Ngapain?"


"Aku mau ngelamar kamu," ucap Reyhan mantap. Sontak mengalihkan atensi Dara.


Dara menatap Reyhan dingin. Ia tertawa dalam hati. Semudah itu lelaki ini mengatakan hal itu?


Dara bergeming. Melihat Dara yang hanya diam, Reyhan kembali bersuara. "Aku bakal jujur sama papa dan mama, dan aku juga akan jujur sama ayah dan bunda kamu."


Dara menatap remeh Reyhan. "Apa benar kamu seberani itu?" Tanya Dara hanya dalam hati.


Seperti mengerti arti tatapan Dara, Reyhan bicara lagi. "Aku serius!" ucap Reyhan serius.


Dara menghela nafas. "Iya, terserah aja," ucap Dara datar. Dara bukannya meremehkan Reyhan. Hanya saja ia sudah terlanjur kecewa dan trauma. Ia ingin lihat apakah lelaki didepannya ini benar benar dengan ucapannya.


Dara tidak ingin berharap lebih seperti dulu. Walaupun sekarang Dara merasa Reyhan sudah berubah.


Reyhan menatap Dara nanar. Bukan hanya Dara yang merasakan Reyhan berubah, tapi Reyhan pun merasakan perubahan dalam diri Dara. Dara yang lugu, manis, manja dan ceria, kini berubah menjadi Dara yang datar, dingin, pendiam dan dewasa.


Mungkin dewasa itu karena usia Dara yang memang sudah dewasa. Tapi sikap datar dan dinginnya itu yang membuat Reyhan sedih dan merasa bersalah.


"Kalau udah nggak ada yang mau dibicarakan, aku pulang," ucap Dara membuyarkan lamunan Reyhan.


"Eh! Iya, Ra. Aku mau ngomong itu aja, sorry kalo udah ganggu kamu." Kata Reyhan.


"Assalamu'alaikum," ucap Dara.


"Wa'alaikumussalam," jawab Reyhan.


Dara menghampiri Risa yang menunggunya. Sedangkan Alif sudah tidak ada ditempat.


"Ayo," ucap Dara datar.


Risa mengangguk, ia sempat melihat ke arah Reyhan sekilas.


**Assalamu'alaikum gaisss


Gimana, nih? masih sepi aja. Lanjut apa enggak ya nulisnya???


Ada yang mau dilamar, nihhh?


Utamakan baca Al-Qur'an ygy.


Jangan lupa like and komen. Dukung sayaaa, boleh banget kalau kasih kritik dan saran**.